Di beberapa pinggiran jalan Bandung, ada satu jajanan kaki lima yang hampir tak pernah sepi pembeli yaitu Cimol Bojot Aa. Tempatnya tampak sederhana hanya gerobak kecil di pinggir jalan dengan nuana warna merah dan kuning. Namun, aroma gurih dari minyak panas dan daun jeruk yang baru digoreng sering kali membuat orang berhenti sejenak untuk mencoba.
Cimol ini dikenal karena teksturnya yang lembut dan rasanya yang pas di lidah. Tidak keras, tidak kempis, dan tidak terlalu berminyak. Bagi sebagian orang, jajanan ini menjadi pilihan ringan untuk teman ngobrol atau sekadar camilan sore hari.
Tekstur dan Rasa yang Jadi Ciri Khas
Cimol Bojot Aa dibuat dari bahan dasar aci dengan takaran yang pas. Saat digigit, bagian luarnya terasa kering, sementara bagian dalamnya lembut dan kenyal. Kombinasi ini membuatnya berbeda dari cimol kebanyakan yang terkadang terlalu keras atau kempes setelah dingin.
Pemiliknya, Syahid Irfan, menjaga konsistensi rasa dengan cara sederhana. “Minyaknya nggak boleh terlalu panas, nanti cimol bisa pecah. Tapi kalau terlalu dingin, malah keras,” ujarnya. Ia menggunakan teknik penggorengan dua tahap agar bagian dalam matang merata tanpa membuat kulitnya gosong.
Beragam Varian dan Rasa
Selain teksturnya yang khas, Cimol Bojot Aa juga dikenal karena banyaknya pilihan rasa. Ada bumbu asin, pedas, barbeque, dan balado yang bisa dipilih sesuai selera. Pembeli juga bisa menambahkan taburan bawang goreng dan daun jeruk agar aromanya lebih wangi.
Keunikan lainnya terletak pada varian isi. Ada cimol isi mozzarella, ayam suwir, dan beef lada hitam. Bahkan, pembeli bisa memesan campuran isi dalam satu porsi. Varian isi ini memberi pengalaman berbeda di setiap gigitan gurih dari aci berpadu dengan lembutnya keju atau rasa daging yang sedikit pedas.
Kreativitas Kuliner Bandung
Bandung dikenal sebagai kota dengan inovasi kuliner yang terus berkembang. Dari bahan sederhana seperti aci, muncul berbagai jajanan populer: cilok, seblak, hingga basreng. Cimol Bojot Aa menjadi salah satu bentuk kreativitas itu. Ia tetap mempertahankan rasa asli jajanan tradisional, tapi menghadirkan sentuhan baru lewat isi dan bumbu yang beragam.
Inovasi seperti ini mencerminkan karakter masyarakat Bandung yang terbuka pada perubahan tanpa meninggalkan cita rasa lokal. Dari hal kecil seperti cimol, lahir ide besar tentang bagaimana tradisi bisa terus hidup melalui makanan.
Pengalaman Menyantap
Cimol Bojot Aa paling nikmat disantap selagi hangat. Saat disajikan, aroma daun jeruk dan bawang goreng langsung tercium. Gigitan pertama memberi sensasi kenyal, lalu rasa gurih dan sedikit asin mulai terasa. Jika memilih varian pedas, rasa panasnya muncul perlahan dan memberi efek hangat di lidah.
Cita rasa sederhana ini membuat cimol cocok disantap kapan saja baik sebagai teman minum teh sore maupun camilan malam hari. Rasanya ringan, tapi cukup berkesan untuk membuat orang kembali datang.
Cimol Bojot Aa adalah contoh sederhana bagaimana makanan jalanan bisa berkembang tanpa kehilangan jati dirinya. Dengan bahan yang mudah didapat, Aa Bojot berhasil menghadirkan cita rasa yang khas dan konsisten.
Kisahnya mengingatkan bahwa dalam dunia kuliner, kreativitas tidak selalu berarti mewah atau rumit. Kadang, yang dibutuhkan hanyalah ketelitian, ketekunan, dan keinginan untuk menghadirkan rasa yang jujur dari bahan yang sederhana.
Cimol Bojot Aa mungkin hanya camilan kecil, tapi dari bulatan acinya, kita bisa merasakan semangat kuliner Bandung yang kreatif dan tak pernah berhenti berinovasi. (*)