Ayo Netizen

Berhenti Sejenak karena Jalan Rusak dan Memimpikan Transportasi Publik Lebih Baik

Oleh: Arsyhaliq Rashif Djajadiredja Senin 12 Jan 2026, 09:34 WIB
Kemacetan Panjang di jalan Soekarno Hatta (05/12/2025). (Sumber: dokumentasi pribadi)

Bandung sering dipuji sebagai kota inovatif, tempat ide-ide baru dan kreativitas berkembang. Namun, saat kita benar-benar berjalan di jalanannya, kita akan melihat bahwa inovasi itu hidup bersama kemacetan yang tak malu-malu. Di pagi hari, kendaraan berjejalan seperti barisan tanpa batas, tanpa ritme yang pasti atau tujuan yang jelas. Penduduk terperangkap di kota yang bergerak lambat, hampir seperti diam total.

Saya sering bertanya, apakah ini kota yang benar-benar maju? Jika perjalanan dekat saja butuh waktu berlipat, maka apa arti semua klaim pembangunan itu? Transportasi massal dipromosikan sebagai solusi utama. Kedengarannya bagus, tapi di kenyataan? Jadwal yang tidak stabil, jalur yang tidak terintegrasi, dan waktu perjalanan yang sering lebih lama dari berjalan kaki. Bagaimana masyarakat bisa percaya pada sistem yang tidak meyakinkan?

Jalan-jalan yang rusak di berbagai tempat memperparah masalah. Setiap lubang bukan hanya soal ketidaknyamanan, tapi juga risiko serius. Bahkan memperbaiki satu lubang saja bisa menunggu lama. Trotoar pun tidak sepenuhnya untuk pejalan kaki. Di banyak lokasi, trotoar dijadikan parkir, seolah ruang publik tidak penting. Warga terpaksa berjalan di tepi jalan sambil menghindari kendaraan.

Lampu lalu lintas juga tampak tidak terkoordinasi. Satu persimpangan macet, dan efeknya menyebar seperti domino yang jatuh tanpa henti. Bandung seharusnya punya sistem transportasi yang terhubung, tapi yang ada adalah bagian-bagian terpisah. Tidak sinkron, tidak seragam, dan tidak memudahkan masyarakat.

Kota ini memiliki potensi besar, tapi tanpa manajemen baik, potensi itu hanya kata-kata kosong di pidato. Warga butuh bukti nyata, bukan janji. Waktu terbuang di jalan, dan waktu hilang tak bisa kembali. Ini bukan soal kendaraan, tapi kualitas hidup yang menurun.

Mungkin pemerintah bekerja, dengan rencana berjalan. Namun, keraguan tetap ada jika hasil tidak terlihat. Apalagi masalah sama kembali tanpa solusi permanen. Bandung harus lebih baik, bukan kota cantik dari jauh, tapi nyaman untuk dijalani.

Di transportasi publik, perluk diintegrasikan rute dan jadwal agar andal dengan layanan tepat waktu. perubahan kecil ini akan bawa dampak besar. (*)

Reporter Arsyhaliq Rashif Djajadiredja
Editor Aris Abdulsalam