Kondisi transportasi umum di kota Bandung semakin memperlihatkan kurangnya keseriusan pemerintah kota dalam mengembangkan layanan fasilitas yang layak bagi warganya. Banyak warga yang merasakan bahwa perubahan yang dilakukan hanya bersifat permukaan tanpa menyentuh inti permasalahan mobilitas kota.
Banyak orang mengeluh bahwa perjalanan menjadi semakin lama karena keterhubungan transportasi tidak diatur dengan baik dan efisien. Warga akhirnya memilih kendaraan pribadi karena justru lebih cepat daripada menunggu transportasi umum yang tidak pasti.
Keterbatasan transportasi juga membuat situasi semakin sulit bagi mereka yang tidak memiliki pilihan lain selain naik angkutan umum. Waktu tunggu yang panjang menjadi alasan utama mengapa layanan ini dianggap tidak dapat diandalkan.
Ketidaknyamanan pengguna transportasi saat menunggu karena tidak terurusnya halte di beberapa titik kota. Keadaan ini membuat warga merasa seolah fasilitas publik bukanlah masalah yang serius dan penting .
Di waktu malam pun rasa tidak aman meningkat karena banyaknya halte tidak memiliki pencahayaan yang terang. Kondisi tersebut membuat beberapa orang memilih menghindari transportasi umum meskipun mereka sebenarnya membutuhkannya.
Informasi rute dan jadwal yang tidak tepat waktu sering menyulitkan pengguna untuk merencanakan perjalanan dengan tepat. Tanpa sistem informasi yang jelas, pengguna transportasi hanya bisa mengandalkan perkiraan atau informasi dari sesama penumpang.
Beberapa transportasi bahkan terlihat kurang terawat dan nyaman sehingga menimbulkan kekhawatiran tentang keselamatan selama perjalanan. Ketika kondisi kendaraan mulai tidak layak dan rasa nyaman untuk menggunakan transportasi ikut hilang dari pengalaman memakai layanan publik.
Selain itu, kualitas pelayanan dari pengemudi tidak selalu konsisten dan kadang membuat pengguna merasa kurang dihargai. Kurangnya pelatihan yang memadai tampak dari cara mereka menghadapi situasi di jalan atau berinteraksi dengan penumpang.
Pesan untuk Walikota Bandung M. Farhan yang bertanggung jawab atas arah kebijakan kota Bandung untuk menaikkan tingkat pengawasan langsung di lapangan agar setiap permasalahan dapat diatasi lebih cepat dan tepat. Kehadiran petugas yang teratur akan membantu memastikan layanan yang diperuntukkan kepada masyarakat berjalan sesuai standar yang seharusnya.
Baca Juga: Chopper: Sejarah dan Makna Desain Mesin Kebebasan Roda Dua
Upaya untuk pengurangan kemacetan dapat dimulai dengan memperbaiki kualitas transportasi umum agar benar-benar menjadi pilihan utama warga kota Bandung. Ketika layanan menjadi lebih sigap, nyaman, dan dapat dipercaya, penggunaan transportasi milik pribadi akan berkurang secara bertahap.
Pimpinan Pemerintah Kota M. Farhan perlu berkomitmen penuh untuk menempatkan isu transportasi umum sebagai agenda yang mendesak dan harus segera dibenahi. Langkah ini penting agar kondisi mobilitas kota tidak mengalami ketimpangan dengan pusat kota yang rasanya lebih diperhatikan dan tetap mendukung keseharian aktivitas masyarakat secara luas.
Kondisi fasilitas, jumlah armada, dan segi kenyamanan harus diperhatikan secara menyeluruh agar masyarakat bisa mendapatkan pelayanan yang layak dan memuaskan serta merasa didengar dan direspons oleh Pemangku kebijakan kota Bandung. Dengan pengelolaan yang lebih diperhatikan, kota Bandung dapat menghadirkan transportasi umum yang benar-benar layak bagi seluruh warganya. (*)