Ayo Netizen

Resolusi 2026 Warga Bandung: Berharap Transportasi Umum yang Lebih Terintegrasi

Oleh: Muhammad Kamal Natanegara Selasa 13 Jan 2026, 17:19 WIB
Suasana metro jabar trans dipenuhi penggunana di sore hari sepulang kerja (03/12/2025). (Sumber: Pribadi | Foto: M. Kamal Natanegara)

Warga Bandung menilai transportasi umum di kota tersebut masih belum terintegrasi sehingga membuat banyak orang lebih memilih kendaraan pribadi.

Shafwan Ilman Abdurrohman, seorang mahasiswa, mengatakan bahwa sistem transportasi umum di Bandung tidak cukup terorganisir untuk memudahkan perjalanan sehari-hari. “Sejujurnya kalau aku tuh jarang ngegunain transportasi umum sih soalnya menurut aku di Bandung ini masih belum terintegrasi dengan baik lah si transportasi umum yang ada,” katanya.

Beberapa pengguna lain menganggap angkot masih menjadi cara yang paling mudah diakses, tetapi ada beberapa kekurangan yang mengganggu perjalanan sehari-hari mereka. Ilman menyatakan bahwa salah satu alasan penumpang tidak nyaman adalah pelayanan sopir.

Ilman mengatakan, " Angkot itu masih kelamaan untuk ngetem-ngetemnya padahal kan kalau misalkan dia jalan langsung sesuai jalurnya ga usah ada ngetem-ngetem itu lebih cepat lagi lah." 

Orang lain yang tinggal di Bandung, Fawwaz Fadlurrahman, mengeluh tentang tarif angkot yang tidak wajar untuk perjalanan jarak pendek. Perjalanan dekat mungkin memerlukan lima ribu rupiah, dan, warga Bandung lainnya, mengeluhkan tarif angkot yang dinilai tidak wajar untuk perjalanan jarak pendek. “Ngegetok harganya rada rada nggak ngotak ya Jadi si angkotnya sekarang mah Rp. 5.000 Padahal cuman dari rumah 500 meter Rp. 5.000 Aneh juga,” ujarnya.

Fawwaz juga menyoroti halte yang tidak terawat dan kurangnya pengawasan di beberapa tempat. "Sekarang  kita lihat kan halte aja cuman tempatnya jadi gelandangan orang-orang mabok di halte bukan buat nunggu bus yang datang Jadi halte tuh udah beralih fungsi sekarang ," katanya. 

Baca Juga: 'Doom Spending' dan Generasi yang Menyerah Membeli Masa Depan

Salah satu penumpang kereta api lokal, Rani Oktaviani, mengatakan bahwa meskipun layanan KAI sudah membaik, transportasi umum lainnya tetap tertinggal. "Kereta sekarang lebih tepat waktu, tetapi angkot masih rawan karena sering ada preman atau orang mabuk," katanya.

Karena tidak ada transportasi umum di beberapa daerah, orang harus menggunakan ojek, kata Rani. “Daerah seperti Bojongsoang dan sekitar kampus itu minim angkutan, jadi orang terpaksa pakai ojek,” katanya. 

Beberapa warga percaya bahwa kebersihan angkot bergantung pada pemilik kendaraan, yang menyebabkan ketidakkonsistenan antarunit. Mereka menganggap transportasi umum dipandang buruk oleh masyarakat.

Untuk memberikan layanan transportasi umum yang lebih canggih, warga berharap walikota Bandung M. Farhan memperbaiki rute, fasilitas, dan sistem pembayaran. Mereka juga berpikir bahwa integrasi antarmoda dapat membuat orang lebih tertarik untuk menggunakan transportasi umum. (*)

Reporter Muhammad Kamal Natanegara
Editor Aris Abdulsalam