Masyarakat Indonesia kembali berduka. Serangkaian banjir bandang dan tanah longsor yang melanda tiga provinsi di Sumatra Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat pada akhir November 2025, telah menorehkan catatan kelam sebagai salah satu bencana hidrometeorologi terparah dalam sejarah modern negeri ini.
Hingga hari ini, Sabtu, 7 Desember 2025, data korban terus bertambah. Total korban jiwa telah mencapai 940 orang meninggal dan 276 lainnya masih dinyatakan hilang. Jumlah pengungsi melampaui 835 ribu jiwa, sementara ribuan rumah, jembatan, sekolah, dan fasilitas publik lain luluh lantak diterjang air bah dan material longsor.
Bencana yang dipicu oleh hujan ekstrem ini tidak hanya memutus akses transportasi dan komunikasi di banyak daerah, tetapi juga menyisakan trauma mendalam serta kerugian ekonomi yang diperkirakan mencapai Rp 68,6 triliun.
Kronologi dan Titik Episentrum Bencana
Bencana mulai melanda sejak 25 November 2025, dengan puncaknya terjadi pada 28-30 November. Curah hujan dengan intensitas sangat tinggi, melebihi 300 mm per hari, mengguyur wilayah Bukit Barisan. Air yang tidak lagi bisa diserap tanah kemudian meluncur deras dari hulu ke hilir, mengubah aliran sungai menjadi banjir bandang yang menghancurkan segala yang dilintasinya.
Di Aceh, kabupaten terdampak terparah adalah Aceh Utara dengan 112 korban jiwa. Lebih dari 50% gampong (desa) di provinsi ini terendam atau terdampak langsung. Sebanyak 359 orang dinyatakan tewas dan 174 lainnya hilang di provinsi ujung barat Indonesia ini.
Di Sumatra Utara, Kabupaten Tapanuli Tengah menjadi episentrum dengan 103 tewas dan 100 hilang. Daerah ini sempat terisolasi total selama berhari-hari, sehingga evakuasi dan distribusi bantuan hanya bisa dilakukan melalui jalur udara dan laut. Korban tewas di Sumut secara total mencapai 329 jiwa.
Di Sumatra Barat, Kabupaten Agam menanggung beban terberat dengan 171 korban tewas akibat banjir bandang yang menyapu pemukiman. Longsor besar di gerbang masuk Kota Padang Panjang juga menewaskan setidaknya 30 orang. Total korban tewas di Sumbar sebanyak 226 orang.
Akar Masalah

Para ahli menyatakan bencana ini adalah hasil dari pertemuan mematikan antara fenomena cuaca ekstrem dan kerusakan lingkungan yang sudah berlangsung puluhan tahun.
1. Siklon Tropis "Senyar" yang Aneh
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dan pakar dari Institut Teknologi Bandung (ITB) mengidentifikasi penyebab langsung hujan ekstrem adalah terbentuknya Siklon Tropis Senyar di dekat ekuator, tepatnya di sekitar Selat Malaka. Kejadian siklon di bawah garis lintang 5 derajat ini merupakan fenomena yang sangat tidak biasa.
"Siklon ini bertindak seperti pompa raksasa yang menyedot uap air dari laut dan memuntahkannya dalam bentuk hujan lebat di daratan Sumatra," jelas seorang peneliti iklim dari ITB, seperti dikutip dari analisis resmi kampus. Interaksi siklon dengan topografi Bukit Barisan kemudian memekatkan awan hujan di wilayah tersebut.
2. Dosa Ekologis: Hilangnya Hutan Penahan Air
Namun, para pakar sepakat, hujan ekstrem hanyalah pemicu, sementara akar penyebab bencananya adalah kerusakan hutan di hulu Daerah Aliran Sungai (DAS). Dr. Hatma Suryatmojo, pakar hidrologi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), menjelaskan bahwa hutan alam berfungsi sebagai "spons raksasa" yang menahan, meresapkan, dan mengatur aliran air.
"Dalam kondisi hutan baik, dari 100% air hujan, hanya 10-20% yang menjadi aliran permukaan langsung ke sungai. Selebihnya ditahan kanopi, diserap tanah, atau menguap. Ketika hutan hilang, proporsi air yang langsung meluncur ke sungar bisa mencapai 70-80%," papar Hatma.
Fakta di lapangan mengonfirmasi analisis ini. Data menunjukkan deforestasi yang masif:
- Sumatra Utara hanya menyisakan 29% tutupan hutan (sekitar 2,1 juta hektare). Ekosistem kritis seperti Batang Toru terfragmentasi oleh perkebunan dan pertambangan.
- Aceh telah kehilangan lebih dari 700.000 hektare hutan dalam kurun 1990–2020.
- Sumatra Barat kehilangan sekitar 740 ribu hektare tutupan pohon dalam periode 2001–2024.
- Alih fungsi lahan ini membuat tanah kehilangan kemampuannya menyerap air. Saat hujan lebat datang, air langsung meluncur deras, menggerus tanah, memicu longsor, dan akhirnya menjadi banjir bandang yang penuh dengan kayu gelondongan dan material sedimen.
Dampak yang Terasa di Semua Lini
Dampak bencana ini luar biasa luas dan akan terasa dalam jangka panjang:
- Korban Jiwa dan Trauma Psikologis: Selain angka tewas dan hilang yang tinggi, ribuan keluarga kehilangan tempat tinggal dan sanak saudara. Trauma kolektif ini membutuhkan penanganan serius.
- Kerusakan Infrastruktur Parah: Lebih dari 405 jembatan hancur, termasuk jembatan-jembatan vital penghubung antarkabupaten. Sebanyak 199 fasilitas kesehatan dan 420 rumah ibadah rusak. Kerusakan ini memperparah isolasi dan menghambat proses pemulihan.
- Pendidikan Terhenti: Minimal 697 sekolah dan madrasah rusak, mengganggu pembelajaran puluhan ribu siswa. Banyak sekolah yang dijadikan tempat pengungsian.
- Krisis Ekonomi Lokal: Lahan pertanian dan perkebunan yang menjadi sumber nafkah masyarakat hancur. Jalan poros dan akses ke pasar terputus, melumpuhkan perekonomian di tingkat akar rumput.
- Respons Pemerintah dan Debat "Status Bencana Nasional"
Pemerintah melalui BNPB, TNI, dan Polri telah mengerahkan sumber daya besar untuk tanggap darurat. Puluhan helikopter dan pesawat angkut berat dikerahkan untuk menjangkau daerah terisolasi, mengevakuasi korban, dan mendistribusikan logistik.
Namun, sebuah keputusan politik menuai perdebatan publik: Pemerintah memilih untuk tidak menetapkan status "Bencana Nasional" untuk tragedi ini. Alasannya, skala penanganan yang dilakukan sudah setara dengan penanganan bencana nasional, sehingga penetapan status dinilai tidak lagi diperlukan.
Keputusan ini dikritik sejumlah kalangan, termasuk keluarga korban dan aktivis. Mereka berargumen bahwa status bencana nasional penting untuk memobilisasi perhatian, solidaritas, dan dana yang lebih besar dari seluruh Indonesia, serta menyiratkan keseriusan negara dalam menangani duka warganya.
Baca Juga: Bandung UTAMA, Antara Janji dan Realita
Tragedi Sumatera 2025 adalah alarm keras yang tidak boleh diabaikan. Bencana ini memperlihatkan dengan jelas bahwa:
Perubahan iklim adalah nyata dan memunculkan fenomena cuaca ekstrem yang semakin tidak terduga, seperti siklon di dekat ekuator.
Kerusakan lingkungan memiliki konsekuensi langsung dan mematikan. Eksploitasi hutan dan DAS untuk kepentingan ekonomi jangka pendek akhirnya dibayar mahal dengan nyawa dan kehancuran infrastruktur.
Sistem peringatan dini dan mitigasi berbasis ekosistem harus menjadi prioritas utama. Membangun ketangguhan tidak cukup hanya dengan tanggap darurat, tetapi harus dengan mencegah bencana terjadi melalui konservasi.
Para ahli menyerukan tindakan segera: moratorium dan restorasi hutan di kawasan hulu DAS, penataan ruang yang ketat berbasis peta risiko bencana, serta penguatan sistem peringatan dini yang terintegrasi dari hulu ke hilir.
Nasib ratusan korban yang masih hilang dan perjuangan ratusan ribu pengungsi untuk bangkit kembali menjadi pengingat bagi seluruh bangsa: alam bisa murka ketika keseimbangannya terus diganggu. Masa depan Indonesia yang aman dari bencana bergantung pada komitmen kita memulihkan dan menjaga hutan sebagai benteng alami yang paling kokoh. (*)