Seberapa Besar Dampak Buruk Krisis Etika Bermedia untuk Perilaku Kekerasan?

3 menit baca
Eva Alawiah
Ditulis oleh Eva Alawiah diterbitkan
Ilustrasi pelaku kekerasan. (Sumber: Pexels | Foto: cottonbro studio)
Ilustrasi pelaku kekerasan. (Sumber: Pexels | Foto: cottonbro studio)

Ledakan yang dirakit seorang siswa SMA di Jakarta sebagai balasan atas perundungan bertahun-tahun, insiden pemukulan di Serpong, dan ancaman murid terhadap guru di Banten semua ini bukanlah insiden terpisah. Ini adalah bukti nyata bahwa kita sedang menyaksikan kegagalan moral kolektif. Kita gagal melindungi generasi muda dari kekerasan baru yang tumbuh subur di ruang digital.

Ruang maya, yang katanya membawa kemajuan, kini justru menjadi tempat pembuangan emosi negatif. Perundungan tidak lagi menunggu jam pulang sekolah, ia bergerak dari satu gawai ke gawai lain, hadir dalam komentar pedas, video yang disebarluaskan untuk bahan tertawaan, dan pesan pribadi yang menghancurkan.

Ketika kita terbiasa melihat rekaman kekerasan dan penghinaan dibagikan sebagai hiburan, batas moral perlahan memudar. Anak-anak kita tumbuh dengan keyakinan berbahaya bahwa menghina dan mempermalukan orang lain adalah hal yang lumrah, bahkan menjadi tren.

Media digital telah menjadi arena tanpa aturan di mana rasa malu seseorang dieksploitasi dan dijadikan tontonan. Kita membiarkan anak-anak kita terpapar caci maki berulang yang merusak rasa percaya diri mereka, melemahkan kendali emosi, dan merampas kemampuan mereka membangun hubungan sosial yang sehat. Bukankah kita tahu bahwa anak-anak yang tidak mendapatkan dukungan emosional di rumah akan lebih mudah terseret pada perilaku agresif di dunia maya?

Negara sudah memiliki UU ITE dan UU Perlindungan Anak yang melarang penghinaan dan kekerasan psikis. Namun, penegakan hukum selalu datang terlambat, jauh lebih lambat daripada laju penyebaran konten yang melukai. Dampak emosional sudah terlanjur menghancurkan jiwa anak bahkan sebelum laporan sempat dibuat. Apakah kita hanya bisa mengandalkan hukum yang berjalan lambat di era informasi yang bergerak secepat cahaya?

Perundungan digital bukanlah semata kesalahan pengguna internet. Ini adalah cermin dari kerentanan sosial yang lebih dalam. Keluarga yang kehilangan kehangatan, sekolah yang hanya sibuk mengejar nilai ketimbang membangun karakter, dan masyarakat yang terbiasa mengolok-olok kekeliruan orang lain. Anak-anak kita tidak lagi mendapatkan teladan emosional yang memadai. Mereka memilih menyelesaikan konflik dengan menyerang, karena berdialog dianggap lebih sulit.

Ruang digital kemudian memperkuat segala kelemahan ini. Ketika seorang anak tumbuh tanpa empati, media sosial memberinya megafon. Ia dapat menyerang tanpa melihat wajah lawan bicara, tanpa menyaksikan luka yang ia sebabkan. Teknologi tidak netral. Ia memantulkan apa yang kita tanamkan. Jika kita menanam keburukan, teknologi akan memperbesarnya. Generasi muda kita saat ini tampaknya lebih banyak melihat sisi buruk.

Krisis moral ini bukan bagian dari proses tumbuh. Kita sedang menyaksikan retaknya fondasi karakter. Jika kita terus abai, kekerasan yang tumbuh di ruang digital akan merembes dan menghancurkan ruang kelas, keluarga, dan tempat kerja. Pada akhirnya, yang akan kehilangan pijakan bukan hanya anak-anak kita, tetapi bangsa ini.

Baca Juga: Infinite Scrolling dan Hilangnya Fokus

Mengatasi persoalan ini membutuhkan langkah radikal. Sekolah harus menjadikan etika bermedia sebagai bagian nyata dari kegiatan belajar. Kita harus mengajak anak berdialog tentang konsekuensi kata-kata dan melatih cara merespons konflik tanpa menyerang. Rumah harus kembali menjadi pusat pembentukan karakter. Kehadiran emosional orang tua adalah benteng pertama. Orang tua wajib mendampingi anak saat mereka belajar menggunakan ruang digital dengan bijak, bukan hanya saat mereka belajar membaca.

Platform digital dan negara tidak boleh lagi menjadi penonton pasif. Mereka memiliki kekuatan dan tanggung jawab untuk menurunkan konten kekerasan lebih cepat dan memastikan pendidikan karakter menjadi pilar utama kurikulum nasional.

Pada akhirnya, tantangan etika bermedia adalah tantangan membangun kembali empati. Generasi muda harus kembali merasakan bahwa di balik setiap akun yang mereka serang, ada manusia yang dapat terluka. Ketika adab menjadi kebiasaan, bukan sekadar pengetahuan, barulah teknologi menjadi alat untuk membangun, bukan merusak. Maukah kita terus menjadi penonton kekerasan yang tumbuh di depan mata, atau berani mengambil tindakan untuk menyelamatkan masa depan bangsa? Pilihan ada di tangan kita. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:10

Bandung Menuju Kota Digital Aman

Kota yang benar-benar cerdas bukan hanya kota yang mampu mengadopsi teknologi terbaru, melainkan yang mampu melindungi warganya.

Ilustrasi layanan digital. (Sumber: Pexels | Foto: Towfiqu barbhuiya)
Ayo Biz 01 Nov 2026, 15:21

Lahan Sempit di Kota Bandung Disulap Jadi Kebun Produktif, Hasilnya untuk Warga

Sejumlah jurnalis dari berbagai daerah di Indonesia berkesempatan melihat langsung pengelolaan kebun tersebut melalui kegiatan Fellowship Journalism Menanam di BRInita Buruan Sae.

Pada Jumat, 30 Oktober 2026, sejumlah jurnalis dari berbagai daerah di Indonesia berkesempatan melihat langsung pengelolaan kebun tersebut melalui kegiatan Fellowship Journalism Menanam di BRInita Buruan Sae Pajajaran Hegar. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 20:39

Stop The Wedding: Tren Perempuan yang Membagikan Cerita Traumatis Pernikahan

Apakah perempuan benar-benar takut menikah karena tidak menemukan urgensinya atau hanya takut karena tren "Stop The Wedding" yang sedang beredar di media sosial

Stop the Wedding sedang menjadi headline di media sosial yang mengangkat pengalaman buruk perempuan dalam pernikahan (Sumber: Ilustrasi Gambar AI)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 19:15

Bandung Akan Terkena Asap Pekat Karhutla

Nafsu-nafsu tidak terkendali untuk menguasai hutan bisa menyebabkan semua wilayah terkena dampak asap pekat kebakaran hutan dan lahan termasuk Kota Bandung

Penanganan karhutla. (Sumber: Kementerian Kehutanan)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 17:11

Merancang Kawasan Hunian untuk Mobilitas Berkelanjutan

Integrasi tata ruang dan transportasi dalam pengembangan kawasan hunian melalui akses berjalan kaki, bersepeda, dan angkutan umum untuk mewujudkan mobilitas yang aman, nyaman, dan berkelanjutan.

Halte bus yang berfungsi sebagai tempat pemberhentian angkutan umum di kawasan hunian. (Foto: Angga Marditama Sultan Sufanir)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 16:31

Korupsi di Negeri Bencana

Korupsi di BNPB yang dilakukan oleh oknum, merupakan perbuatan yang biadab.

SDN 1 Babakan Talang di Kampung Cigombong, Desa Cibedug, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat hancur akibat bencana pergerakan tanah , Senin 4 Maret 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 15:17

Ketika Api Menguji Integritas

Bencana menuntut kita bergerak cepat menyelamatkan kehidupan, tetapi juga menguji integritas dalam menjaga amanah dan menyalurkan bantuan.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla). (Sumber: kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 20:24

Bdg-GoX Dibangun, Kapan Warga Bandung Menikmati Internet Murah?

Akses digital bukan hanya persoalan ketersediaan jaringan, melainkan juga keterjangkauan ekonomi.

Ilustrasi Bandung Kota Digital dengan program  Bdg-Gox (Sumber: Ilustrasi di desain dengan ChatGPT oleh Sri Maryati)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 19:47

Cangkoréh Awi Ngarambat

Ada jenis bambu yang merambat, yang dikenal, ada yang menyebutnya awi cangkoréh, ada juga yang menyebutnya awi cangkoré.

Awi ngarambat. (Foto: Wikimedia Commons)