Ketika Gajah Turun Tangan untuk Membersihkan Bencana Ulah Manusia

Arin Dyah Arista Widya
Ditulis oleh Arin Dyah Arista Widya diterbitkan Rabu 14 Jan 2026, 22:00 WIB
Gajah Sumatra. (Sumber: WWF Indonesia)

Gajah Sumatra. (Sumber: WWF Indonesia)

Ironi Gajah Sumatera menjadi relawan pasca pemulihan bencana, memicu berbagai tanggapan di kalangan Masyarakat. 4 ekor gajah Sumatera dari PLG Saree tersebut dikerahkan untuk diperdayakan dalam pembersihan puing-puing kerusakan akibat banjir tersebut. Tak hanya itu, mereka pun turun tangan dalam Upaya penyelamatan korban banjir.

Hal serupa juga pernah terjadi sebelumnya, Pada tahun 2004 saat bencana gempa dan Tsunami melanda Aceh. Pada saat itu gajah-gajah ikut membersihkan kerusakan pasca bencana, mengangkat kayu, membersihkan reruntuhan, turun dalam pencarian korban. Dan kali ini ketika banjir bandang menghadang beberapa wilayah, termasuk Pidie Aceh. Mereka kembali turun meringankan beban beban manusia. Memindahkan batang-batang pohon yang ikut terhanyut, membuka jalan warga desa, mengangkat puing-puing kerusakan infarstruktur, hingga membantu dalam penemuan korban pasca banjir yang berada di are-area yang sulit di jangkau.

Gajah memang memiliki tubuh besar dan kuat secara fisik. Dapat menangkut beban hingga 300-350 kg hanya dengan menggunakan belalainya. Dan punggungnya pun mampu mengankat beban sekitar 900 kg, yang setara dengan sebuah mobil kecil. Namun, ironi nya mereka menjadi penyelamat manusia disaat manusia sendiri merampas banyak hak mereka.

Gajah Adalah salah satu satwa yang dilindungi. Sangat disayangkan deforestasi terus menerus merampas, menggerus rumah dan habitat mereka dengan beberapa mesin dan alat-alat berat  itu. dan hal tersebut Adalah ulah manusia. Lalu ketika bencana seperti ini datang yang merupakan akibat dari keserakahan manusia, kerusakan lingkungan. Makhluk-makhluk yang dirampas haknya oleh pelaku-pelaku tak ber moral itu dan harus ikut menanggung dan diperdaya untuk aktivitas pasca pemulihan banjir.

Jika manusia dapat menurunkan alat-alat berat nya untuk merusak dan menggerus hutan dan habitat mereka seharusnya, dalam keadaan seperti ini mereka juga mampu untuk mengerahkan alat-alat berat tersebut. Jika manusia serius dalam menangani perihal mitigasi bencana, mereka harusnya mampu dan memfokuskan pemulihan pasca bencana ini dengan alat, sistem, dan tanggung jawab manusia sendiri, bukan menggunakan makhluk-makhluk yang bahkan tidak bisa bersuara untuk menolak.

Habitat Yang Dibabat Habis

Deforestasi sudah menjadi praktik yang sangat sering terjadi di Indonesia. Perubahan fungsi lahan, Illegal logging hingga pembukaan lahan sawit yang tidak sesuai prosedur mengindikasikan penyebab habitat “rumah” terus menyusut. Pasalnya, Hutan bukan hanya tempat Kawasan hijau yang menjaga ekosistem belaka. Hutan merupakan tempat pelestarian seluruh makhluk hidup yang ada di dalamnya.

Sisa banjir di Sumatra Barat pada awal Desember 2025. (Sumber: pkp.go.id)
Sisa banjir di Sumatra Barat pada awal Desember 2025. (Sumber: pkp.go.id)

Kawasan hutan Sumatra dan Kalimantan merupakan habitat hewan-hewan langka yang terancam punah. Namun, Kawasan tersebut Adalah Kawasan yang paling parah mengalami deforestasi di Indonesia. Alih-alih dilestarikan, Kawasan tersebut dibabat dan berganti menjadi alih fungsi lahan untuk Perkebunan sawit dan pertambangan. Perizinan terhadap alih fungsi lahan dan pertambangan menjadi lingkar ironi yang tak kunjung usai. Dan bencana yang terjadi pada akhir tahun ini merupakan bukti keserakahan manusia. Pasalnya, Manusia jelas-jelas memahami dampak yang akan terjadi jika deforestasi ini terus terjadi. Namun, bak menutup mata. Hutan terus dibabat tanpa memerdulikan ekosistem di dalamnya. Akibatnya habitat mereka terdesak dan kehilangan ruang hidup.

Kesejahteraan Hewan

Ini bukanlah suatu kebijakan lingkungan yang layak dibela. Meski, Kepala Balai KSDA Aceh Ujang Wisnu Barata mendukung pemanfaatan atas mamalia gajah dalam pemulihan pasca bencana. Dengan alasan bahwa gajah Sumatera telah terlatih untuk penanganan bencana.

Tak dipungkiri, selain mamalia tersebut terancam punah dan habitatnya semakin menipis akibat ulah manusia. Mengerahkan gajah dalam pemulihan pasca banjir seperti membersihkan puing-puing, dan mengangkat ratusan Batangan kayu berukuran besar dapat juga beresiko gajah terkena cedera.

Baca Juga: Belajar dari Banjir Sumatra: Komunikasi Politik Bencana Lingkungan

Di sisi lain di saat habitat mereka terkikis dan menyempit akibat alih fungsi lahan, perkebungan sawit hingga pertambangan sesungguhnya mereka sudah kehilangan kesempatan mereka untuk hidup, mencari makan, hidup berkelompok dan menjaga ekosistem alam yang sesungguhnya. Bukan hanya hutan saja yang hilang tapi, tapi “rumah” mereka pun hancur. Mereka Adalah makhluk yang tidak bisa meminta tolong dengan kata-kata, mereka bukan alat berat, mereka Adalah makhluk cerdas yang penuh perasaan. Lalu bagaimana tugas manusia yang sesungguhnya bertugas untuk menjaga dan melindungi alam dan isinya? (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Arin Dyah Arista Widya
Mahasiswa Ilmu Komunikasi dan penulis pemula yang mempelajari jurnalistik, berfokus pada isu, dan penulisan faktual secara akurat dan bertanggung jawab.
Tag Terkait

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 19 Apr 2026, 19:02

Hari Bumi Sedunia: Dari Kesadaran Menuju Aksi Nyata

Refleksi Hari Bumi Sedunia untuk melihat kembali hubungan manusia dengan alam, dari kesadaran sederhana hingga tindakan nyata dalam menjaga keberlanjutan Bumi.

Gambar Bumi dari jendela pesawat Orion yang memperlihatkan keindahan planet sebagai rumah bagi seluruh kehidupan. (Sumber: NASA | Foto: -)
Ayo Netizen 19 Apr 2026, 15:38

Puisi, Hati, dan Suci

Puisi tumbuh berkembang bukan hanya dari ruang nyaman, tetapi dari keterbatasan yang dilawan dengan kekuatan keyakinan.

Puluhan penampil memeriahkan Open Mic Vol. 17 Bandung Berpuisi untuk mengekspresikan karya dan merayakan puisi secara langsung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ikon 19 Apr 2026, 13:48

Hikayat Harry Suliztiarto Bawa Olahraga Panjat Tebing ke Indonesia

Kisah Harry Suliztiarto membawa panjat tebing ke Indonesia sejak 1976, dari eksperimen nekat hingga ekspedisi Eiger yang menginspirasi.

Harry Suliztiarto. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 19 Apr 2026, 11:45

Panduan Wisata Green Canyon Pangandaran, Panorama Eksotis Karst Cukang Taneuh Sungai Cijulang

Green Canyon menghadirkan kombinasi tebing karst, air kehijauan, dan aktivitas petualangan seperti body rafting yang cocok bagi pencinta wisata alam.

Green Canyon Pangandaran. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 19 Apr 2026, 11:14

Pantai Madasari, Pilihan Healing di Pesisir Selatan Jawa Barat

Pantai Madasari dapat menjadi referensi wisata alam karena menawarkan ketenangan di pesisir selatan Jawa Barat.

Pantai Madasari di pagi hari dengan suasana tenang dan nyaman. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Pernando Aigro S)
Ayo Netizen 19 Apr 2026, 10:19

Aduan yang Salah Alamat: Bukti Literasi Infrastruktur Publik Masih Rendah

Meningkatnya partisipasi publik dalam menyampaikan aduan terkait kerusakan infrastruktur jalan belum diikuti dengan pemahaman tentang status dan penyelenggara jalan.

Kondisi jalan yang rusak di Kecamatan Gedebage, Kota Bandung. (Foto: Ayobandung.com/Toni Hermawan)
Ayo Netizen 19 Apr 2026, 03:31

Doa Manusia, Semesta, dan Tuhan

Di dalam perspektif manusia, bahwa setiap ucapan adalah doa, dan karma terkadang menjadi sesuatu hal yang memabukkan.

Ilustrasi umat Islam sedang berdoa. (Sumber: Ayobandung.com)
Bandung 18 Apr 2026, 15:10

Manis Legit Jenang Mbak Nana, Primadona Baru di Tengah Hiruk Pikuk Pasar Cihapit

Visual jenang yang autentik di Cerita Manis Mbak Nana terbukti ampuh mengundang rasa penasaran sekaligus menggugah selera para pelancong untuk menepi sejenak demi mencicipi semangkuk kehangatan.

Visual jenang yang autentik di Cerita Manis Mbak Nana terbukti ampuh mengundang rasa penasaran sekaligus menggugah selera para pelancong untuk menepi sejenak demi mencicipi semangkuk kehangatan. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Beranda 18 Apr 2026, 14:30

Melawan Arus Digital: Denyut Musik Analog di Bandung dan Makassar

Di tengah dominasi digital, kaset dan vinyl tetap hidup sebagai simbol identitas, koneksi emosional, dan ruang nostalgia antargenerasi.

Koleksi kaset lama di DU 68 Musik. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Beranda 18 Apr 2026, 11:47

Uang Menjadi Simbol: Membaca Realitas Sosial Lewat Lukisan “Uang Kecil”

Lukisan "Uang Kecil" karya Vania Kamila Zahra merefleksikan ketimpangan sosial dan perjuangan hidup melalui detail uang lusuh, mengajak penonton bersyukur di tengah kerasnya realitas ekonomi.

Vania Kamila Zahra dan lukisannya yang berjudul “Uang Kecil”. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 20:52

Tantangan Kartini Masa Kini : Bangkitkan Kesadaran Konsumen dan Geluti Ekonomi Kreatif

Kartini 4.0 memiliki tugas sejarah memperbaiki mutu, volume produksi dan kemasan pangan tradisional sehingga mampu bersaing di pasar.

Ilustrasi RA.Kartini dalam sebuah film (Sumber: Legacy Pictures)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 19:51

Pamer atau Bertahan? Logika Sosial di Balik Tren Flexing di Media Sosial

Flexing bukan sekadar pamer kekayaan, tetapi bagian dari logika media sosial yang menuntut setiap orang untuk terus terlihat dan diakui.

Ilustrasi swafoto untuk media sosial. (Sumber: Pexels/Sara mazin)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 18:03

Kisah Kaum Urban 'Wong Kalang' di Jantung Parijs van Java

Mungkin untuk sebagian orang kisah “Wong Kalang” ini masih terdengar samar.

Anak turun keluarga wong kalang yang menetap di barat Braga sejak 1880. (Foto: Dokumentasi keluarga Apandi)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 17:25

Di Balik Roda yang Bergerak: Bandung, Angkot, dan Cara Kita Membaca Kota

Hari Angkutan Nasional menjadi momen bersejarah sekaligus cara untuk mengenal Kota Bandung, tidak hanya dari keindahannya, tetapi juga dari kehidupan yang bergerak di dalamnya.

Angkot di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Wisata & Kuliner 17 Apr 2026, 16:44

Panduan Wisata Situ Bagendit Garut: Tiket, Rute, dan Wahana

Situ Bagendit menawarkan tiket murah, akses mudah, wahana air, dan panorama empat gunung, cocok untuk wisata keluarga di Garut.

Situ Bagendit, Garut. (Sumber: Pemprov Jabar)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 12:51

Perempuan yang Menulis dalam Bahasa Penjajahnya, Sisi Lain Kartini yang Tak Pernah Diajarkan di Sekolah

Di balik peringatan Hari Kartini, ada sisi gelap yang terlupakan, perjuangan seorang perempuan yang bahkan harus menulis dalam bahasanya sendiri.

R.A. Kartini. (Sumber: Istimewa)
Beranda 17 Apr 2026, 11:45

Lapak Cilok dan Buku: Cara Raja Menantang Stigma di Jalan Dago

Lapak cilok di Dago jadi ruang baca gratis yang digagas Raja. Ia menantang stigma bahwa membaca hanya milik kalangan tertentu, lewat buku yang dibuka untuk siapa saja.

Berjualan cilok menjadi sumber penghasilan utama Raja, di sela kegiatannya mengelola lapak baca sederhana di pinggir jalan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 11:16

Membangun LRT Bandung Raya, Revolusi Angkutan Kota yang Esensial

Sistem LRT memiliki banyak keunggulan dibandingkan dengan moda yang lain.

Ilustrasi urgensi sistem angkutan LRT untuk kawasan Bandung Raya (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Linimasa 17 Apr 2026, 10:44

Para Peramal Piala Dunia, dari Paul Si Gurita hingga Prediksi AI

Fenomena ramalan Piala Dunia berkembang dari Paul si gurita hingga kecerdasan buatan yang kini memprediksi hasil turnamen global 2026.

Paul Si Gurita, peraamal Piala Dunia 2010. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 09:42

Ciseeng, Endapan Laut Purba yang Dikukus Panas Bumi

Endapan travertin Cisѐѐng yang membukit, merupakan endapan dari masa lalu kini, yang sudah berlangsung jutaan tahun.

Gundukan endapan travertin, semula bentuknya menyerupai sѐѐng, menyerupai dandang, dan di dalamnya terdapat air panas yang terus membual. Inilah yang menjadi inspirasi para karuhun untuk menamai kawasan ini Cisѐѐng. (Sumber: Dokumentasi Penulis)