Tradisi Ngabedahkeun di Bandung, Menjaga Warisan Leluhur untuk Generasi Mendatang

Dika Ramadhan
Ditulis oleh Dika Ramadhan diterbitkan Kamis 15 Jan 2026, 09:58 WIB
Tumpeng nasi kuning berdiri gagah dikelilingi berbagai lauk pauk dalam acara syukuran keluarga. (Sumber: Unsplash | Foto: Deski Jayantoro)

Tumpeng nasi kuning berdiri gagah dikelilingi berbagai lauk pauk dalam acara syukuran keluarga. (Sumber: Unsplash | Foto: Deski Jayantoro)

Di era yang serba modern, manusia sering lupa akan kisah tentang bagaimana nenek moyang mewariskan tradisi penuh makna untuk dikenang. Namun di Bandung, masih ada orang-orang yang berdedikasi menjaga warisan budaya, salah satunya adalah tradisi ngabedahkeun yang kaya akan filosofi dan kebersamaan.

Tradisi syukuran dengan tumpeng ini selalu punya sisi unik dan indah, terutama bagi mereka yang merayakan momen penuh rasa syukur seperti kelahiran bayi, pernikahan, khitanan, hingga pindah rumah.

Neli Suherneli pelestari budaya Sunda yang kerap melayani acara ngabedahkeun di kawasan Bandung, telah lama berkecimpung dalam tradisi ini. Di balik keindahan dan kehangatan acara-acara tersebut, para pelestari tradisi seperti Neli bukan hanya berkarya, tapi juga bercerita dan berbagi pengalaman bersama keluarga, tetangga, hingga siapapun yang ingin tahu ceritanya.

Menurut Neli, tradisi ngabedahkeun memiliki keunikan yang berbeda dari perayaan modern karena penuh makna filosofis dan nilai kebersamaan.

Bentuk tumpeng yang kerucut melambangkan agar manusia selalu ingat kepada Tuhan, sementara cara memotong dari puncak mengajarkan bahwa segala sesuatu dimulai dari yang tertinggi. Prinsip "silih asah, silih asih, silih asuh" juga tercermin dalam pembagian tumpeng yang merata kepada semua tamu tanpa pandang bulu.

Ini membuat tradisi ngabedahkeun memiliki sisi historis dan budaya yang kental. Karena itulah banyak keluarga yang masih mempertahankan tradisi ini untuk acara-acara penting mereka, meski harus mempersiapkan dengan lebih teliti.

Neli sering bertemu dengan banyak keluarga yang memiliki beragam alasan memilih tradisi ini, seperti ingin mengajarkan anak tentang budaya, menghormati orang tua, atau memang masih percaya dengan makna filosofisnya. Neli juga sering diminta memberikan penjelasan tentang makna-makna dalam ngabedahkeun kepada generasi muda yang mulai tertarik dengan warisan budaya leluhur.

Proses membuat tumpeng membutuhkan waktu dan kesabaran karena nasi harus dimasak dengan takaran yang pas, lauk pauk harus lengkap dan segar, dan bentuk tumpeng harus rapi dan bagus.

Tidak sembarangan dan perlu ketelitian tinggi dalam melaksanakan ngabedahkeun seperti persiapan bahan, cara membentuk tumpeng, dan tata cara pemotongan yang benar. Tradisi ngabedahkeun juga biasa hadir dengan prosesi tertentu untuk mempermanis acara syukuran, seperti doa bersama dan pembagian yang penuh keakraban.

Prosesi ini menambah nilai budaya ngabedahkeun dan membuat acara makin sakral dan mengesankan bagi keluarga dan para tamu.

Para tamu sering terkesan dengan indahnya tradisi ngabedahkeun dan mengagumi kebersamaan serta kehangatan yang luar biasa dari acara yang diselenggarakan. Kebersamaan yang ditunjukkan mampu menyentuh hati para tamu dan biasanya membuat mereka ikut merasakan makna syukur dan berbagi yang terkandung dalam tradisi tersebut.

Baca Juga: Merawat Tradisi, Menebar Kebaikan

Dedikasi para pelestari budaya seperti Neli adalah kunci yang menjaga nyala tradisi dalam setiap potong tumpeng.

Tradisi ngabedahkeun, dengan segala keunikan maknanya, pilihan lauk pauk yang kaya filosofi, hingga prosesi yang penuh kebersamaan, bukan sekadar acara syukuran biasa tetapi media cerita. Tradisi ini membawa serta kisah leluhur, filosofi hidup yang bermakna, dan nilai-nilai kebersamaan yang disajikan dengan keindahan dan kesederhanaan.

Meskipun tren modern sering menuntut kepraktisan dan kemudahan, makna sakral dan nilai budaya dari tradisi ngabedahkeun tetap menjadi inti yang memperkaya kehidupan masyarakat Sunda. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Dika Ramadhan
Tentang Dika Ramadhan
MAHASISWA DIGITAL PUBLIC RELATIONS ANGKATAN 2024, TELKOM UNIVERSITY

Berita Terkait

News Update

Beranda 14 Feb 2026, 06:43 WIB

Di Sekitar PLTU, Warga Menanggung Risiko di Balik Pasokan Listrik

Selama batu bara masih menjadi tulang punggung sistem energi nasional, risiko paparan polusi terhadap warga di sekitar PLTU akan terus ada.
Peneliti Trend Asia, Bayu Maulana, menjelaskan bahwa Toxic 20 memetakan PLTU dengan tingkat pencemaran tertinggi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 21:23 WIB

Sebelum Kamu ‘Ngabuburit’, Kenalan Dulu dengan Bahasa Lokal yang Penuh Tradisi

Kata-kata itu bukan sekadar penanda waktu, melainkan penanda kebersamaan.
Masjid Raya Bandung. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 18:32 WIB

Asyik Numpeng

Dari sebakul nasi kuning itulah, Ramadan dimulai, hadir menyapa kaum muslimin.
Ilustrasi Tumpeng, Masakan Khas Indonesia yang Memiliki Banyak Filosofi. (Sumber: Unsplash | Foto: Inna Safa)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 15:55 WIB

Laladon, Endapan Ingatan dari Gempa 1699

Nama geografis Laladon, bertalian erat dengan kejadian gempa bumi besar yang mengambrolkan dinding utara Gunung Salak.
Desa Laladon di Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor. (Sumber: Citra Satelit Google maps)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 14:03 WIB

Munggahan dan 4 Kata yang Menandai Datangnya Ramadan di Indonesia

Selain munggahan, ada empat kata lainnya yang sering dipakai untuk menyambut bulan Ramadan.
Buah kurma. (Sumber: Unsplash | Foto: Rauf Alvi)
Beranda 13 Feb 2026, 11:09 WIB

Di Balik Toxic 20: Gugatan, Transparansi Data, dan Desakan Transisi Energi yang Lebih Adil

Dampak PLTU tidak hanya dirasakan langsung oleh warga sekitar, tetapi juga secara tidak langsung oleh wilayah lain, termasuk Kota Bandung.
Amplifikasi Isu dan Diskusi Publik Toxic 20 Jawa Barat di Gedung Indonesia Menggugat, 10 Februari 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Beranda 13 Feb 2026, 10:02 WIB

Dampak PLTU: Cerita Warga tentang Laut yang Menyempit, Sawah yang Melemah, dan Hutan yang Perlahan Terbuka

Kisah mereka datang dari wilayah berbeda, tetapi memiliki benang merah yang sama: perubahan lingkungan dan rasa cemas yang terus tumbuh.
Ilustrasi PLTU, bagi warga sekitar, cerobong itu adalah penanda perubahan yang tidak mereka minta. (Sumber: Unsplash | Foto: Marek Piwnicki)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 09:39 WIB

Betapa Pentingnya Belajar Menulis Copywriting

Sejak dulu, menulis membantu manusia mengabadikan ide dan mendorong kemajuan ilmu.
Rizki Sanjaya sedang memaparkan materi kepada para peserta Workshop Seni Menulis Copywriting. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Yogi Esa Sukma Nugraha)
Beranda 13 Feb 2026, 08:13 WIB

Di Saat Media Arus Utama Tersandera Iklan, Zine Menemukan Jalannya Sendiri

Fenomena tersebut bukan sekadar nostalgia, melainkan bentuk perlawanan terhadap kejenuhan dunia digital yang serba cepat dan penuh ketidakpastian.
Salah satu karya yang ditampilkan di Bandung Zine Fest 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 07:36 WIB

Distraksi Massal: Alasan Mengapa Kita Sengaja Dibuat Sibuk dengan Skandal

Melalui analogi novel Tere Liye, artikel ini mengajak pembaca untuk berhenti terjebak dalam debat kusir dan kembali fokus pada navigasi diri di ambang bulan Ramadan.
Salah satu buku novel karya Tere Liye. (Dokumentasi Penulis)
Bandung 12 Feb 2026, 21:44 WIB

Tren Lebaran 2026: J&C Cookies Usung Konsep "Kukis Kalcer" dan Camilan Gluten Free

Tradisi mudik dan silaturahmi Idul Fitri 2026 diprediksi akan semakin berwarna dengan munculnya tren kuliner baru yang lebih inklusif.
J&C Cookies memperkenalkan lini produk terbaru mereka yang dirancang untuk memenuhi selera generasi masa kini tanpa meninggalkan cita rasa autentik yang telah melegenda. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Beranda 12 Feb 2026, 21:22 WIB

Bandung Zine Fest 2026, Ruang Kolektif Media Alternatif dari Shanghai Hingga Garut

Lebih dari sekadar ajang pameran, festival ini menjadi ruang silaturahmi bagi penerbit mandiri yang tidak bergantung pada modal besar.
Suasana Bandung Zine Fest 2026 di Gedung Tjap Sahabat di Cibadak, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 12 Feb 2026, 20:22 WIB

Ramadan Tanpa Petasan, Bermain Lodong dan Belesong pun Jadi

Sejak dahulu petasan dan lodong selalu menjadi bagian tak terpisahkan dari Ramadan.
Lodong selalu jadi pertanda datangnya Bulan Ramadan di sejumlah daerah Indonesia. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 12 Feb 2026, 16:22 WIB

Kartu Mati, Pengobatan Terhenti

Penonaktifan jutaan peserta PBI BPJS membuat warga Bandung kehilangan akses berobat. Padahal Islam punya cara pandang yang khas terkait kesehatan masyarakat.
Kartu Indonesia Sehat (KIS) merupakan kartu peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dikelola oleh BPJS Kesehatan. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 12 Feb 2026, 13:43 WIB

Komunikasi Keluarga dalam Mengatasi Bunuh Diri

Bunuh diri pada anak menandakan terputusnya saluran komunikasi antara anak dan orang tua.
Bunuh diri pada anak menandakan terputusnya saluran komunikasi antara anak dan orang tua. (Sumber: Unsplash | Foto: K. Mitch Hodge)
Ayo Netizen 12 Feb 2026, 11:18 WIB

Tradisi ‘Nglabur’ Rumah saat Ramadan, Filosofi Bersih Diri dan Mencerahkan Suasana Hati

Melabur alias mengecat tembok dengan gamping menciptakan hasil akhir yang artistik, bertekstur, alami, dan ramah lingkungan.
Ilustrasi melabur rumah dengan batu kapur atau gamping. (Sumber: Pexels | Foto: Sergey Meshkov)
Ayo Netizen 12 Feb 2026, 08:49 WIB

3 Jejak Heroik K.H. Anwar Musaddad yang Terlupakan 

Ketua Kokesin di Makkah, Kepala Syuumuka dan Pendiri Hizbullah Priangan menjadi novelty dalam kajian tokoh KH Anwar Musaddad yang membuktikan jasa, kiprah dan perjuangan (pahlawan) kemanusiaan.
Cover buku KH. Anwar Musaddad: Ketua Kokesin dan Pendiri Hizbullah Priangan karya Iip D. Yahya, terbitan Lakpesdam PWNU Jawa Barat (2025). (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)
Mayantara 12 Feb 2026, 07:04 WIB

Keranjingan Info Bites Konten Religi 

Jelang Ramadan, salah satu fenomena yang terus menguat adalah keranjingan scrolling video pendek religi.
Ilustrasi muslimah sedang memandang smartphone. (Sumber: Pexels | Foto: MART PRODUCTION)
Ayo Netizen 11 Feb 2026, 21:40 WIB

Ngabuburit di Bandung Tahun 1980-an

Tentang awal Ramadan dan ngabuburit warga Kota Bandung tahun 1980-an.
Gedung de Majestic, salah satu bioskop tertua di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com)
Bandung 11 Feb 2026, 20:08 WIB

Rahasia Putu Ayu Simpang Dago Bertahan 18 Tahun di Tengah Gempuran Dessert Kekinian

Lapak kaki lima yang menjual putu ayu ini berhasil bertahan dengan pakem kualitas rasa yang mengembalikan memori sejak kecil pada indera perasa para konsumennya.
Lapak kaki lima yang menjual putu ayu ini berhasil bertahan dengan pakem kualitas rasa yang mengembalikan memori sejak kecil pada indera perasa para konsumennya. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)