Tradisi Ngabedahkeun di Bandung, Menjaga Warisan Leluhur untuk Generasi Mendatang

2 menit baca
Dika Ramadhan
Ditulis oleh Dika Ramadhan diterbitkan
Tumpeng nasi kuning berdiri gagah dikelilingi berbagai lauk pauk dalam acara syukuran keluarga. (Sumber: Unsplash | Foto: Deski Jayantoro)
Tumpeng nasi kuning berdiri gagah dikelilingi berbagai lauk pauk dalam acara syukuran keluarga. (Sumber: Unsplash | Foto: Deski Jayantoro)

Di era yang serba modern, manusia sering lupa akan kisah tentang bagaimana nenek moyang mewariskan tradisi penuh makna untuk dikenang. Namun di Bandung, masih ada orang-orang yang berdedikasi menjaga warisan budaya, salah satunya adalah tradisi ngabedahkeun yang kaya akan filosofi dan kebersamaan.

Tradisi syukuran dengan tumpeng ini selalu punya sisi unik dan indah, terutama bagi mereka yang merayakan momen penuh rasa syukur seperti kelahiran bayi, pernikahan, khitanan, hingga pindah rumah.

Neli Suherneli pelestari budaya Sunda yang kerap melayani acara ngabedahkeun di kawasan Bandung, telah lama berkecimpung dalam tradisi ini. Di balik keindahan dan kehangatan acara-acara tersebut, para pelestari tradisi seperti Neli bukan hanya berkarya, tapi juga bercerita dan berbagi pengalaman bersama keluarga, tetangga, hingga siapapun yang ingin tahu ceritanya.

Menurut Neli, tradisi ngabedahkeun memiliki keunikan yang berbeda dari perayaan modern karena penuh makna filosofis dan nilai kebersamaan.

Bentuk tumpeng yang kerucut melambangkan agar manusia selalu ingat kepada Tuhan, sementara cara memotong dari puncak mengajarkan bahwa segala sesuatu dimulai dari yang tertinggi. Prinsip "silih asah, silih asih, silih asuh" juga tercermin dalam pembagian tumpeng yang merata kepada semua tamu tanpa pandang bulu.

Ini membuat tradisi ngabedahkeun memiliki sisi historis dan budaya yang kental. Karena itulah banyak keluarga yang masih mempertahankan tradisi ini untuk acara-acara penting mereka, meski harus mempersiapkan dengan lebih teliti.

Neli sering bertemu dengan banyak keluarga yang memiliki beragam alasan memilih tradisi ini, seperti ingin mengajarkan anak tentang budaya, menghormati orang tua, atau memang masih percaya dengan makna filosofisnya. Neli juga sering diminta memberikan penjelasan tentang makna-makna dalam ngabedahkeun kepada generasi muda yang mulai tertarik dengan warisan budaya leluhur.

Proses membuat tumpeng membutuhkan waktu dan kesabaran karena nasi harus dimasak dengan takaran yang pas, lauk pauk harus lengkap dan segar, dan bentuk tumpeng harus rapi dan bagus.

Tidak sembarangan dan perlu ketelitian tinggi dalam melaksanakan ngabedahkeun seperti persiapan bahan, cara membentuk tumpeng, dan tata cara pemotongan yang benar. Tradisi ngabedahkeun juga biasa hadir dengan prosesi tertentu untuk mempermanis acara syukuran, seperti doa bersama dan pembagian yang penuh keakraban.

Prosesi ini menambah nilai budaya ngabedahkeun dan membuat acara makin sakral dan mengesankan bagi keluarga dan para tamu.

Para tamu sering terkesan dengan indahnya tradisi ngabedahkeun dan mengagumi kebersamaan serta kehangatan yang luar biasa dari acara yang diselenggarakan. Kebersamaan yang ditunjukkan mampu menyentuh hati para tamu dan biasanya membuat mereka ikut merasakan makna syukur dan berbagi yang terkandung dalam tradisi tersebut.

Baca Juga: Merawat Tradisi, Menebar Kebaikan

Dedikasi para pelestari budaya seperti Neli adalah kunci yang menjaga nyala tradisi dalam setiap potong tumpeng.

Tradisi ngabedahkeun, dengan segala keunikan maknanya, pilihan lauk pauk yang kaya filosofi, hingga prosesi yang penuh kebersamaan, bukan sekadar acara syukuran biasa tetapi media cerita. Tradisi ini membawa serta kisah leluhur, filosofi hidup yang bermakna, dan nilai-nilai kebersamaan yang disajikan dengan keindahan dan kesederhanaan.

Meskipun tren modern sering menuntut kepraktisan dan kemudahan, makna sakral dan nilai budaya dari tradisi ngabedahkeun tetap menjadi inti yang memperkaya kehidupan masyarakat Sunda. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 06 Okt 2026, 19:22

Ruang Kreatif Revitalisasi Bahasa Ibu

Sering kali orang tua jarang menggunakan bahasa daerah di rumah karena memilih membiasakan anak berbahasa Indonesia. Terkait ini ketika orang tua berlatar beda suku dan beda bahasa.

Perempuan lokal Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 18:23

Mengenang Peristiwa G30S Melalui Lembaran Berita Yudha

Membuka kembali Berita Yudha edisi 30 Oktober 1965, berarti membuka sebuah jendela menuju Indonesia beberapa pekan setelah G30S.

Halaman Muka surat kabar Berita Yudha edisi Oktober 1965, yang merekam pemberitaan mengenai situasi dan peristiwa penting di Indonesia pasca-G30S. (Foto: Kin Sanubary)
Bandung 06 Okt 2026, 17:53

Mengintip Potensi Ekonomi Kreatif Kota Bandung Lewat Layar Perfilman dan Kolaborasi Komunitas

Tren pemutaran film independen, festival sinema alternatif, hingga pertumbuhan ruang pemutaran komunitas di Kota Kembang membuktikan tingginya dahaga publik terhadap ragam narasi visual.

Bandung World Cinema (BWC) 2026 dinilai menjadi bagian penting dalam memperkuat ekosistem perfilman sekaligus mendorong pertumbuhan subsektor ekonomi kreatif di Kota Bandung.
Sejarah 06 Okt 2026, 17:16

Sejarah Naturalisasi Pemain Timnas Indonesia

Jejak naturalisasi Timnas Indonesia bukan fenomena baru. Perjalanan dari Van der Vin pada era 1950-an hingga gelombang diaspora saat ini.

Pemain Timnas Indonesia dalam laga kontra Thailand dalam Asean Cup 2026. (Sumber: Vidio)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 17:03

Bandung, Banjir, dan Rutinitas Tahunan yang Tak Pernah Ada Solusi

Banjir di Bandung kerap kali menjadi event tahunan yang tidak pernah menemukan solusi yang pasti.

Banjir Tahunan di Kab. Bandung (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 16:29

Pesona Garut: 'Surga dari Timur', Rekam Sejarah, dan Mahakarya Gastronomi Pasundan

Lanskap alam Kabupaten Garut menyajikan kekayaan vegetasi dan topografi yang memikat.

Situ Cangkuang, Leles, Garut. (Sumber: Wikimedia Commons/Lisensi CC | Foto: Mssetiadi)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 15:33

Cagar Budaya dan Ragam Gaya Bangunannya di Kota Bandung

Jelajahi pesona sejarah Kota Bandung melalui jejak Cagar Budaya. Temukan kisah unik di balik arsitektur ikonis Art Deco, situs kolonial dan warisan legendaris yang tetap lestari hingga kini.

Gedung Sate, Bandung, 2024 (Sumber: Wikipedia | Foto: Rahmat Denas)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 13:08

RT/RW di Bandung Tidak Perlu Jadi Densus 88 Kecil-kecilan

Teror adalah peristiwa langka. Pergantian penghuni kontrakan adalah peristiwa sehari-hari.

Tim Densus 88. (Sumber: ayobandung.com | Foto: suara.com via ayobandung.com)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 10:49

Membincangkan Hujan di Musim Kemarau

Membicarakan hujan dalam kacamata kesadaran lingkungan dan seni.

Ilustrasi musim hujan. (Sumber: GeminiAi)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 06:30

PHBS Sebagai Modalitas Kesehatan Warga Kota Bandung

Tahun 2026 ini, influenza tipe A ini menjadi gambaran yang sama, meski oleh pemerintah tidak lagi di-covidkan. Namun kekhawatiran masyarakat tetap trauma dan ketakutan berlebihan.

Ilustrasi penderita influenza.
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 20:09

Ruang Terbuka Hijau di 30 Kecamatan di Kota Bandung

Artikel ini mengulas kondisi Ruang Terbuka Hijau di 30 kecamatan Kota Bandung. Temukan sebaran, fasilitas publik, keasrian lingkungan dan upaya pelestarian taman kota demi Bandung yang lebih asri.

Aktivitas warga di taman Alun-Alun Cicendo, Kota Bandung, Sabtu, 9 Juli 2022. (Sumber: Ayobandung | Foto: Magang Foto/Algifari Tohaga Abdillah)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 19:22

Ketika Wajah-Wajah Populer Mengisi Halaman Majalah Selecta Edisi Oktober 1970

Membuka kembali majalah lawas selalu menghadirkan sensasi tersendiri. Begitu pula ketika kembali membaca Majalah Selecta edisi Oktober 1970.

Hastarita Abdullah, fotomodel 17 tahun, tampil di sampul depan Majalah Selecta edisi Oktober 1970. Sementara Trio Nindya Sisters, tiga bersaudari asal Solo, tampil di sampul belakang, 56 tahun silam. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 17:03

10 Netizen Terpilih September 2026, Menangkap Ragam Isu Bandung dan Jawa Barat

Redaksi Ayobandung.id mengumumkan 10 penulis terbaik kanal "Ayo Netizen" untuk periode September 2026, dengan total hadiah tetap Rp1,5 juta.

Simulasi penanganan bencana gempa bumi akibat Sesar Lembang. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 16:16

Ronda Malam: Mereka yang Berjaga saat Warga Terlelap

Ketika warga terlelap, petugas ronda tetap terjaga. Di RW 10 Kelurahan Karang Mekar, Kota Cimahi, ronda malam menjadi ikhtiar keamanan sekaligus bukti bahwa semangat gotong royong masih menyala.

Ilustrasi warga Indonesia sedang ronda. (Sumber: Ilustrasi dibuat dengan Gemini AI)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 15:02

Ruang Terbuka Hijau di Kota Bandung

Kota Bandung kini terus berbenah menambah Ruang Terbuka Hijau (RTH). Selain berfungsi menjaga keseimbangan alam dan menekan polusi, kehadiran taman kota ini juga menjadi sarana rekreasi warga.

Taman di Jl. Tongkeng No.46, Merdeka, Kec. Sumur Bandung, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 13:41

Mencegah KBGO di Kampus: Bukan Lagi Soal Perempuan Menjaga Diri

Seruan agar perempuan "pandai menjaga diri" di ruang digital tak lagi cukup. Kampus harus hadir secara sistemik menjamin ekosistem belajar yang aman bagi mahasiswi.

Pembukaan Latsar CPNS Tahun 2022 (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SkTAN)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 11:04

Kesehatan Mental Kita di Hari Sumpah Pemuda

Refleksi peringatas Sumpah Pemuda dengan isu keshatan mental.

Sumpah Pemuda & Kesehatan Mental. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 10:14

Amit-Amit, Jangan sampai Keranda Jadi Alat Ukur Tata Kota

Keranda seharusnya hanya mengantar manusia ke tempat peristirahatan terakhir. Ia jangan sampai berubah menjadi alat ukur apakah sebuah kota bekerja dengan baik atau tidak.

Lahan pekuburan di salah satu sudut Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 19:10

Batik dari Warisan Budaya Tradisional Menuju Fashion Internasional

Tahun 2009, UNESCO telah telah memasukkan batik Indonesia sebagai warisan budaya dunia. Batik perlu bergerak dari craft based economy menuju creative fashion industry. Dan dari produk menjadi nilai.

Koleksi batik Retno Mulyo. (Sumber: Batik Retno Mulyo)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 16:38

Memikirkan Kembali Sumber Daya Energi Baru: Terbarukan Berbiaya Murah dan Ramah Lingkungan

Mengulas solusi energi baru dan terbarukan yang murah serta ramah lingkungan.

Pengelola Waduk Jatiluhur menyebutkan kemarau panjang pada Juli 2023 menyebabkan tinggi muka air waduk mengalami penyusutan hingga 10 meter atau 2 meter diambang batas kritis. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)