Melihat 'Apa yang Salah' dari Kemacetan Ciwastra yang Rutin Jadi Sorotan

audya athayya khalisa
Ditulis oleh audya athayya khalisa diterbitkan Rabu 14 Jan 2026, 20:44 WIB
Deretan motor yang tak bergerak di Ciwastra menggambarkan kemacetan yang semakin sulit dikendalikan pada Selasa (2/12/2025). (Sumber: Audya Athayya Khalisa)

Deretan motor yang tak bergerak di Ciwastra menggambarkan kemacetan yang semakin sulit dikendalikan pada Selasa (2/12/2025). (Sumber: Audya Athayya Khalisa)

Jalan Ciwastra yang setiap hari dipadati deru mesin dan sorot lampu kendaraan kini kian sulit dilalui tanpa hambatan. Arus motor dan mobil yang merayap pelan tak pernah benar-benar berhenti, seolah menegaskan bahwa kawasan ini tengah menanggung beban lalu lintas yang melampaui kapasitasnya. Di antara pepohonan yang menaungi sisi jalan dan permukiman warga yang terus tumbuh, Ciwastra berubah menjadi lorong sempit tempat ribuan pengendara saling berebut ruang. Tak ada jeda, tak ada kelonggaran hanya antrean panjang yang mengular hingga jauh ke Ujung Pandang. Kelurahan Mekarjaya, Kecamatan Rancasari, Kota Bandung.

Kemacetan di Jalan Ciwastra kembali menjadi sorotan setelah kepadatan kendaraan kian memanjang hampir setiap jam sibuk dikarenakan padatnya arus kendaraan. Maupun minimnya penataan lalu lintas, serta perilaku pengguna jalan yang tidak tertib membuat kawasan ini menjadi titik kemacetan kronis yang belum terurai hingga kini.

Ciwastra Sudah lama menjadi titik yang dihindari pengendara yang berasal dari Bandung bagian timur. Pada jam sibuk, arus kendaraan dari arah Jalan Buahbatu,Gedebage dan Logam  bertemu di satu titik yang kapasitasnya tidak pernah benar-benar siap menampung lonjakan mobil dan motor.

Situasinya kini bukan lagi sekadar ramai lancar, melainkan berubah “menjadi kemacetan yang merayap” di karenakan adanya angkot kerap menurunkan serta menaikkan penumpang sembarangan, sementara pengendara motor berusaha mencari celah apa pun untuk bisa lolos dari antrean kendaraan yang tak bergerak.

Sebagai salah satu jalur penghubung utama di Bandung Timur, Jalan Ciwastra kini menanggung beban lalu lintas yang terus meningkat. Pertumbuhan permukiman baru di kawasan sekitarnya, hadirnya berbagai pusat aktivitas warga, hingga tingginya mobilitas komuter dari luar wilayah membuat ruas jalan ini bekerja melebihi kapasitasnya setiap hari. 

Beberapa pengendara yang saya temui mereka hampir menunggu selama 30 menit untuk melewati jalanan ciwastra ini. Candra, selaku warga komplek Pasir Pogor yang setiap pagi selalu melalui jalan ciwastra,bisa dibilang sudah menjadi “hal wajib” yang menjadi rutinitas tiap pagi.

“Kalau lewat sini jam empat sore  lewat sedikit saja, sudah pasti berhenti lama. Apalagi dari Margacinta sampai belokan Ciwastra itu macetnya parah sekali ditambah lagi bubaran sekolah dan kerja akan semakin macet.” ujar Candra selaku warga.

Kepadatan lalu lintas di Ciwastra pada jam pulang sekolah kembali menunjukkan betapa kacaunya mobilitas di kawasan Bandung Timur pada Selasa  (2/12/2025) (Sumber: Audya Athayya Khalisa)
Kepadatan lalu lintas di Ciwastra pada jam pulang sekolah kembali menunjukkan betapa kacaunya mobilitas di kawasan Bandung Timur pada Selasa (2/12/2025) (Sumber: Audya Athayya Khalisa)

M.Farhan  perlu mendorong program edukasi dan kampanye disiplin berlalu lintas secara berkelanjutan faktor perilaku menjadi salah satu kontributor terbesar kemacetan. Sehingga perubahan budaya berlalu lintas harus menjadi prioritas tanpa kolaborasi antara pemerintah dan operator angkutan umum, upaya teknis yang dilakukan tidak akan memberikan hasil optimal.

Di sisi lain, Wali Kota juga perlu memastikan koordinasi antarinstansi berjalan lebih rapi agar aturan benar-benar ditegakkan di lapangan. Pelanggaran yang terlihat sepele seperti kendaraan berhenti sesuka hati atau pengendara yang memutar balik di titik yang tidak semestinya sebenarnya punya efek besar pada kemacetan.

Pertumbuhan kawasan permukiman baru di Bandung Timur harus diseimbangkan dengan perencanaan infrastruktur yang terintegrasi perlu memastikan. Bahwa setiap pengembangan kawasan memiliki dampak lalu lintas yang dihitung secara matang, agar Ciwastra tidak terus meningkat tanpa peningkatan kapasitas jalan.

Wali Kota Bandung perlu menyiapkan peta jalan penataan Bandung Timur secara jangka menengah dan panjang, dengan Ciwastra sebagai salah satu prioritas utama. Perencanaan mobilitas di Ciwastra memang perlu dibangun secara utuh bukan hanya untuk kendaraan pribadi, tetapi juga angkutan umum dan ruang pejalan kaki.

Baca Juga: Bandung Makin Macet, Transportasi Umum Bisakah Jadi Penolong?

Masalah yang terjadi saat ini juga tidak akan selesai hanya dengan tindakan kecil seperti menambah petugas atau sekadar menertibkan angkutan umum yang berhenti sembarangan. Ciwastra butuh penataan menyeluruh mulai dari manajemen arus lalu lintas, pengaturan ulang titik persimpangan, hingga memastikan fasilitas jalan untuk pejalan kaki benar-benar aman sehingga mereka tidak harus turun ke badan jalan karena trotoar yang tidak memenuhi fungsi.

Sebagai langkah yang lebih strategis, M. Farhan juga perlu memberi dorongan besar pada peningkatan kualitas serta keterjangkauan transportasi publik di kawasan Bandung Timur, termasuk rute yang lewat Ciwastra. Ketika angkutan umum dapat diandalkan nyaman, tepat waktu pasti berkurang. Tapi upaya ini tidak cukup hanya dengan menambah armada perlu ada halte yang layak, jalur khusus yang konsisten, serta sistem informasi yang jelas agar masyarakat merasa punya pilihan yang praktis. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

audya athayya khalisa
Mahasiswa S1 Digital Public Relations Universitas Telkom Bandung

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 15 Feb 2026, 18:35 WIB

Ramadan dan Energi Spiritual bagi Integritas ASN

Ramadan sebagai energi spiritual untuk memperkuat integritas ASN melalui kejujuran, pengendalian diri, dan empati demi pelayanan publik yang mampu.
Ilustrasi ASN. (Sumber: indonesia.go.id)
Bandung 15 Feb 2026, 17:21 WIB

Menjemput Hari Raya di Kota Kembang: Cerita dari Kerumunan Berburu ‘Baju Bedug’

Ada satu pemandangan yang mencuri perhatian di pertengahan Februari ini, yakni kerumunan muslimah yang menyemut demi tradisi berburu "baju bedug" lebih awal.
Gelaran Lozy Big Warehouse Sale Vol. 7 Bandung yang berlangsung pada 14 hingga 16 Februari 2026. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Bandung 15 Feb 2026, 15:33 WIB

Kisah Kembang Tahu Pak Maman Bertahan sejak 1996 di Tengah Zaman yang Terus Berubah

Maman Rahman, seorang pedagang jajanan kembang tahu yang sudah berjualan sejak tahun 1996. Hampir genap 30 tahun lamanya usaha kuliner tradisional itu dirinya jalani.
Maman Rahman, seorang pedagang jajanan kembang tahu yang sudah berjualan sejak tahun 1996. Hampir genap 30 tahun lamanya usaha kuliner tradisional itu dirinya jalani. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 15 Feb 2026, 15:22 WIB

Dari Ngabeubeurang sampai Lilikuran Ramadan di Tatar Sunda

Berikut lima istilah Sunda yang hampir selalu terdengar menjelang, selama, hingga akhir Ramadan.
Berikut lima istilah Sunda yang hampir selalu terdengar menjelang, selama, hingga akhir Ramadan. (Sumber: Ilusrtasi dibuat dengan ChatGPT)
Bandung 15 Feb 2026, 14:45 WIB

Melenggang dari 1989, Begini Cara Nasi Goreng Zebbotz Bertahan hingga Tiga Dekade

Bukan anak kemarin sore merupakan istilah yang tepat untuk menggambarkan kelanggengan usaha nasi goreng Zebbotz.
Bukan anak kemarin sore merupakan istilah yang tepat untuk menggambarkan kelanggengan usaha nasi goreng Zebbotz. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Beranda 15 Feb 2026, 14:27 WIB

Sentra Keramik Kiaracondong Tinggal Bersisa Satu Tungku

Dari sekitar 30 pengrajin yang dahulu memenuhi kawasan ini, kini hanya tersisa satu tungku yang masih aktif menghasilkan panas untuk membakar.
Deretan keramik Haji Oma yang siap untuk dijual. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 15 Feb 2026, 11:40 WIB

Viaduct: Landmark Kota Bandung dan Kisah Cinta Soekarno

Di sekitar daerah tersebut pun ada Jalan yang cukup pendek yang dinamakan Jalan Viaduct. yang menghubungkan Viaduct ke Jalan Braga. 
Viaduct menghubungkan Jalan Suniaraja dengan Jalan Braga. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Beranda 15 Feb 2026, 08:49 WIB

Haji Oma: Napas Terakhir Keramik Kiaracondong

Satu per satu rekan dan kerabat Dikdik menyerah. Pabrik-pabrik ditutup, tungku-tungku dipadamkan. Kini, dari sekitar 30 pengrajin yang pernah berjaya, hanya satu yang masih bertahan.
Dikdik Gumilar meneruskan usaha ayahnya sebagai pembuat keramik yang terkenal dengan sebutan Keramik Haji Oma. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 15 Feb 2026, 07:26 WIB

Puasa 2026 di Bandung: Imlek & Cap Go Meh, Rabu Abu & Masa Pra Paskah, Nyepi & Lebaran

Tahun 2026 menjadi tahun yang unik secara religius, spiritual, dan kultural di Indonesia, termasuk di Bandung.
Pasar Cihapit. (Foto: Ayobandung.com/Kavin Faza)
Beranda 14 Feb 2026, 19:20 WIB

Bandung Review Membaca Risiko Cekungan, Gempa, dan Masa Depan Kota

Program ini awalnya digagas di Pustaka Selasar. Namun karena jumlah peserta kerap melebihi kapasitas, diskusi dipindahkan ke ruang yang lebih besar.
Geografiwan kawakan T Bachtiar di Bandung Review #006. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Bandung 14 Feb 2026, 13:19 WIB

Alasan Mengapa Bandung Menjadi Kunci Strategis Bagi Pertumbuhan Industri Purifikasi di Indonesia

Bandung bukan hanya sebagai pasar, melainkan sebagai barometer pertumbuhan industri home appliances berbasis teknologi kesehatan di Jawa Barat.
Bandung bukan hanya sebagai pasar, melainkan sebagai barometer pertumbuhan industri home appliances berbasis teknologi kesehatan di Jawa Barat. (Sumber: Coway)
Beranda 14 Feb 2026, 12:36 WIB

Cekungan Bandung: Catatan tentang Kota Kreatif yang Berdiri di Tengah Ancaman Geologis dan Minimnya Mitigasi

Namun di bawah beton dan aspal, tersimpan endapan lumpur puluhan ribu tahun yang menjadi fondasi kehidupan sekaligus potensi risiko.
Titi Bachtiar, anggota Masyarakat Geografi Nasional Indonesia dan anggota Kelompok Riset Cekungan Bandung (KRCB). (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Beranda 14 Feb 2026, 06:43 WIB

Di Sekitar PLTU, Warga Menanggung Risiko di Balik Pasokan Listrik

Selama batu bara masih menjadi tulang punggung sistem energi nasional, risiko paparan polusi terhadap warga di sekitar PLTU akan terus ada.
Peneliti Trend Asia, Bayu Maulana, menjelaskan bahwa Toxic 20 memetakan PLTU dengan tingkat pencemaran tertinggi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 21:23 WIB

Sebelum Kamu ‘Ngabuburit’, Kenalan Dulu dengan Bahasa Lokal yang Penuh Tradisi

Kata-kata itu bukan sekadar penanda waktu, melainkan penanda kebersamaan.
Masjid Raya Bandung. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 18:32 WIB

Asyik Numpeng

Dari sebakul nasi kuning itulah, Ramadan dimulai, hadir menyapa kaum muslimin.
Ilustrasi Tumpeng, Masakan Khas Indonesia yang Memiliki Banyak Filosofi. (Sumber: Unsplash | Foto: Inna Safa)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 15:55 WIB

Laladon, Endapan Ingatan dari Gempa 1699

Nama geografis Laladon, bertalian erat dengan kejadian gempa bumi besar yang mengambrolkan dinding utara Gunung Salak.
Desa Laladon di Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor. (Sumber: Citra Satelit Google maps)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 14:03 WIB

Munggahan dan 4 Kata yang Menandai Datangnya Ramadan di Indonesia

Selain munggahan, ada empat kata lainnya yang sering dipakai untuk menyambut bulan Ramadan.
Buah kurma. (Sumber: Unsplash | Foto: Rauf Alvi)
Beranda 13 Feb 2026, 11:09 WIB

Di Balik Toxic 20: Gugatan, Transparansi Data, dan Desakan Transisi Energi yang Lebih Adil

Dampak PLTU tidak hanya dirasakan langsung oleh warga sekitar, tetapi juga secara tidak langsung oleh wilayah lain, termasuk Kota Bandung.
Amplifikasi Isu dan Diskusi Publik Toxic 20 Jawa Barat di Gedung Indonesia Menggugat, 10 Februari 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Beranda 13 Feb 2026, 10:02 WIB

Dampak PLTU: Cerita Warga tentang Laut yang Menyempit, Sawah yang Melemah, dan Hutan yang Perlahan Terbuka

Kisah mereka datang dari wilayah berbeda, tetapi memiliki benang merah yang sama: perubahan lingkungan dan rasa cemas yang terus tumbuh.
Ilustrasi PLTU, bagi warga sekitar, cerobong itu adalah penanda perubahan yang tidak mereka minta. (Sumber: Unsplash | Foto: Marek Piwnicki)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 09:39 WIB

Betapa Pentingnya Belajar Menulis Copywriting

Sejak dulu, menulis membantu manusia mengabadikan ide dan mendorong kemajuan ilmu.
Rizki Sanjaya sedang memaparkan materi kepada para peserta Workshop Seni Menulis Copywriting. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Yogi Esa Sukma Nugraha)