Bandung UTAMA, Antara Janji dan Realita

Adil Rafsanjani
Ditulis oleh Adil Rafsanjani diterbitkan Kamis 15 Jan 2026, 15:34 WIB
Walikota dan Wakil Walikota Bandung, M. Farhan dan Erwin. (Sumber: Pemprov Jabar)

Walikota dan Wakil Walikota Bandung, M. Farhan dan Erwin. (Sumber: Pemprov Jabar)

Sepuluh bulan sudah Muhammad Farhan memimpin Kota Bandung bersama wakilnya, H. Erwin. Dari lima tahun masa jabatan yang dijanjikan, perjalanan baru saja dimulai. Namun waktu yang singkat itu cukup untuk melihat arah langkah: apakah Bandung sudah bergerak menuju visi Bandung UTAMAUnggul, Terbuka, Amanah, Maju, dan Agamis — atau justru masih berkutat pada persoalan lama yang belum tuntas?

Menjelang akhir tahun 2025, banyak warga mulai menulis refleksi dan pandangan mereka terhadap arah perubahan kota. Sebuah cara sederhana tapi bermakna untuk menakar sejauh mana janji “Bandung UTAMA” mulai terasa dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam dokumen resmi visi-misi, Farhan-Erwin menuliskan mimpi besar: “Mewujudkan Kota Bandung yang Unggul, Terbuka, Amanah, Maju dan Agamis melalui pemerintahan yang melayani serta berkelanjutan.”
Lima misi besar menyertai visi itu — mulai dari pelayanan publik, keterbukaan, pemerintahan bersih, pembangunan ekonomi-infrastruktur, hingga pembentukan karakter warga yang religius dan toleran.

Beberapa program unggulan bahkan terdengar menjanjikan:

  • 151 Taman Bugar UTAMA, untuk menghidupkan ruang publik dan kebugaran di tiap kelurahan.
  • Bandung GerCep, layanan publik berbasis kedaruratan di tingkat kecamatan.
  • Pasukan Warga, sistem pengelolaan sampah berbasis komunitas yang juga meningkatkan kesejahteraan warga.
  • Sidang Rakyat Jumaaahan, forum pertemuan langsung warga dengan wali kota dan wakilnya.

Konsepnya: kolaboratif, inklusif, dan berakar dari semangat “Bandung cageur, bageur, bener, pinter jeung singer”.

Perubahan yang Masih “Setengah Jalan”

Namun, realitas lapangan tak selalu seindah rencana di atas kertas.

Sebagian warga mengapresiasi pendekatan jemput bola dan komunikasi terbuka yang mulai terasa melalui kegiatan Ngabandungan Bandung dan Sidang Rakyat. Namun, ada pula yang merasa perubahan belum menyentuh persoalan paling mendasar: macet, sampah, drainase, dan pelayanan publik.

Bandung masih bergulat dengan krisis tata kota — volume kendaraan meningkat, sampah menumpuk di beberapa titik, dan proyek revitalisasi belum merata ke kawasan timur dan selatan.

Bagi sebagian warga, 10 bulan pertama ini lebih terasa sebagai fase penyesuaian ketimbang perubahan.

Wali Kota Bandung, M. Farhan. (Sumber: Pemkot Bandung)
Wali Kota Bandung, M. Farhan. (Sumber: Pemkot Bandung)

“Masih banyak PR, tapi setidaknya sudah mulai terbuka ruang dialog antara warga dan pemerintah,” ujar Fahmi, pegiat komunitas Pencita Alam di kawasan Ujungberung.

Komentar seperti ini menggambarkan nuansa “optimis tapi waspada” yang banyak dirasakan warga Bandung hari ini.

Janji untuk menjadikan Bandung Unggul dalam SDM dan pelayanan publik menjadi tantangan tersendiri.
Kota ini masih perlu memperkuat sektor kesehatan, pendidikan, dan peluang kerja agar benar-benar dirasakan di level keluarga.

Program Beasiswa UTAMA dan Inkubator Bisnis Kecamatan patut diapresiasi, tapi dampaknya masih terbatas.

Dalam urusan infrastruktur dan ekonomi, beberapa kebijakan seperti penguatan UMKM dan rencana reaktivasi Bandara Husein Sastranegara masih dalam tahap persiapan.

Padahal, visi “Maju” dalam Bandung UTAMA menuntut percepatan nyata, bukan sekadar perencanaan.

Warga sebagai Mitra, Bukan Penonton

Salah satu semangat penting dalam visi-misi Farhan adalah pemerintahan kolaboratif. Dokumen “Bandung UTAMA” menegaskan bahwa Bandung harus menjadi kota yang “terbuka untuk kritik, partisipatif, dan kolaboratif dengan warganya.”

Inilah yang kini diuji: Apakah warga benar-benar dilibatkan dalam pengambilan keputusan publik? Ataukah masih sekadar diminta berpartisipasi setelah kebijakan diputuskan?

Sejumlah warga menyampaikan harapannya agar pemerintah lebih cepat menindaklanjuti aduan masyarakat.

“Saya senang karena bisa langsung menyampaikan aspirasi ke wali kota lewat forum terbuka, tapi tanggapan konkret di lapangan masih lambat,” kata Acil, warga Antapani.

Bandung adalah kota yang dicintai banyak orang — bukan hanya karena udaranya, tapi karena kenangan dan semangat warganya.

Karena cinta itulah, kritik muncul. Kritik yang tidak personal, tapi ditujukan untuk kebijakan dan dampaknya bagi masyarakat.

Visi “Bandung UTAMA” sesungguhnya adalah janji tentang merawat kota dan warganya dengan sepenuh hati. Namun, sepuluh bulan pertama ini baru menjadi permulaan dari perjalanan panjang menuju Bandung yang benar-benar unggul, terbuka, amanah, maju, dan agamis.

Membangun Bandung bukan pekerjaan satu wali kota, tapi kerja kolektif antara pemerintah dan warganya. Dan lewat kritik yang jujur, masyarakat memberi cermin untuk melihat mana yang sudah baik, dan mana yang masih butuh diperbaiki.

Baca Juga: Seberapa Besar Dampak Buruk Krisis Etika Bermedia untuk Perilaku Kekerasan?

Bandung hari ini bukan kota yang gagal, tapi juga belum sepenuhnya berhasil. Ia berada di tengah jalan — di antara janji dan realita.

Namun selama masih ada warga yang berani berbicara, mengkritik, dan peduli, selalu ada harapan bahwa visi “Bandung UTAMA” bukan sekadar slogan, melainkan arah nyata menuju kota yang lebih manusiawi dan berkeadilan. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Adil Rafsanjani
Mahasiswa Semester 5 Komunikasi dan Penyiaran Islam

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 19 Apr 2026, 19:02

Hari Bumi Sedunia: Dari Kesadaran Menuju Aksi Nyata

Refleksi Hari Bumi Sedunia untuk melihat kembali hubungan manusia dengan alam, dari kesadaran sederhana hingga tindakan nyata dalam menjaga keberlanjutan Bumi.

Gambar Bumi dari jendela pesawat Orion yang memperlihatkan keindahan planet sebagai rumah bagi seluruh kehidupan. (Sumber: NASA | Foto: -)
Ayo Netizen 19 Apr 2026, 15:38

Puisi, Hati, dan Suci

Puisi tumbuh berkembang bukan hanya dari ruang nyaman, tetapi dari keterbatasan yang dilawan dengan kekuatan keyakinan.

Puluhan penampil memeriahkan Open Mic Vol. 17 Bandung Berpuisi untuk mengekspresikan karya dan merayakan puisi secara langsung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ikon 19 Apr 2026, 13:48

Hikayat Harry Suliztiarto Bawa Olahraga Panjat Tebing ke Indonesia

Kisah Harry Suliztiarto membawa panjat tebing ke Indonesia sejak 1976, dari eksperimen nekat hingga ekspedisi Eiger yang menginspirasi.

Harry Suliztiarto. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 19 Apr 2026, 11:45

Panduan Wisata Green Canyon Pangandaran, Panorama Eksotis Karst Cukang Taneuh Sungai Cijulang

Green Canyon menghadirkan kombinasi tebing karst, air kehijauan, dan aktivitas petualangan seperti body rafting yang cocok bagi pencinta wisata alam.

Green Canyon Pangandaran. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 19 Apr 2026, 11:14

Pantai Madasari, Pilihan Healing di Pesisir Selatan Jawa Barat

Pantai Madasari dapat menjadi referensi wisata alam karena menawarkan ketenangan di pesisir selatan Jawa Barat.

Pantai Madasari di pagi hari dengan suasana tenang dan nyaman. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Pernando Aigro S)
Ayo Netizen 19 Apr 2026, 10:19

Aduan yang Salah Alamat: Bukti Literasi Infrastruktur Publik Masih Rendah

Meningkatnya partisipasi publik dalam menyampaikan aduan terkait kerusakan infrastruktur jalan belum diikuti dengan pemahaman tentang status dan penyelenggara jalan.

Kondisi jalan yang rusak di Kecamatan Gedebage, Kota Bandung. (Foto: Ayobandung.com/Toni Hermawan)
Ayo Netizen 19 Apr 2026, 03:31

Doa Manusia, Semesta, dan Tuhan

Di dalam perspektif manusia, bahwa setiap ucapan adalah doa, dan karma terkadang menjadi sesuatu hal yang memabukkan.

Ilustrasi umat Islam sedang berdoa. (Sumber: Ayobandung.com)
Bandung 18 Apr 2026, 15:10

Manis Legit Jenang Mbak Nana, Primadona Baru di Tengah Hiruk Pikuk Pasar Cihapit

Visual jenang yang autentik di Cerita Manis Mbak Nana terbukti ampuh mengundang rasa penasaran sekaligus menggugah selera para pelancong untuk menepi sejenak demi mencicipi semangkuk kehangatan.

Visual jenang yang autentik di Cerita Manis Mbak Nana terbukti ampuh mengundang rasa penasaran sekaligus menggugah selera para pelancong untuk menepi sejenak demi mencicipi semangkuk kehangatan. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Beranda 18 Apr 2026, 14:30

Melawan Arus Digital: Denyut Musik Analog di Bandung dan Makassar

Di tengah dominasi digital, kaset dan vinyl tetap hidup sebagai simbol identitas, koneksi emosional, dan ruang nostalgia antargenerasi.

Koleksi kaset lama di DU 68 Musik. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Beranda 18 Apr 2026, 11:47

Uang Menjadi Simbol: Membaca Realitas Sosial Lewat Lukisan “Uang Kecil”

Lukisan "Uang Kecil" karya Vania Kamila Zahra merefleksikan ketimpangan sosial dan perjuangan hidup melalui detail uang lusuh, mengajak penonton bersyukur di tengah kerasnya realitas ekonomi.

Vania Kamila Zahra dan lukisannya yang berjudul “Uang Kecil”. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 20:52

Tantangan Kartini Masa Kini : Bangkitkan Kesadaran Konsumen dan Geluti Ekonomi Kreatif

Kartini 4.0 memiliki tugas sejarah memperbaiki mutu, volume produksi dan kemasan pangan tradisional sehingga mampu bersaing di pasar.

Ilustrasi RA.Kartini dalam sebuah film (Sumber: Legacy Pictures)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 19:51

Pamer atau Bertahan? Logika Sosial di Balik Tren Flexing di Media Sosial

Flexing bukan sekadar pamer kekayaan, tetapi bagian dari logika media sosial yang menuntut setiap orang untuk terus terlihat dan diakui.

Ilustrasi swafoto untuk media sosial. (Sumber: Pexels/Sara mazin)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 18:03

Kisah Kaum Urban 'Wong Kalang' di Jantung Parijs van Java

Mungkin untuk sebagian orang kisah “Wong Kalang” ini masih terdengar samar.

Anak turun keluarga wong kalang yang menetap di barat Braga sejak 1880. (Foto: Dokumentasi keluarga Apandi)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 17:25

Di Balik Roda yang Bergerak: Bandung, Angkot, dan Cara Kita Membaca Kota

Hari Angkutan Nasional menjadi momen bersejarah sekaligus cara untuk mengenal Kota Bandung, tidak hanya dari keindahannya, tetapi juga dari kehidupan yang bergerak di dalamnya.

Angkot di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Wisata & Kuliner 17 Apr 2026, 16:44

Panduan Wisata Situ Bagendit Garut: Tiket, Rute, dan Wahana

Situ Bagendit menawarkan tiket murah, akses mudah, wahana air, dan panorama empat gunung, cocok untuk wisata keluarga di Garut.

Situ Bagendit, Garut. (Sumber: Pemprov Jabar)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 12:51

Perempuan yang Menulis dalam Bahasa Penjajahnya, Sisi Lain Kartini yang Tak Pernah Diajarkan di Sekolah

Di balik peringatan Hari Kartini, ada sisi gelap yang terlupakan, perjuangan seorang perempuan yang bahkan harus menulis dalam bahasanya sendiri.

R.A. Kartini. (Sumber: Istimewa)
Beranda 17 Apr 2026, 11:45

Lapak Cilok dan Buku: Cara Raja Menantang Stigma di Jalan Dago

Lapak cilok di Dago jadi ruang baca gratis yang digagas Raja. Ia menantang stigma bahwa membaca hanya milik kalangan tertentu, lewat buku yang dibuka untuk siapa saja.

Berjualan cilok menjadi sumber penghasilan utama Raja, di sela kegiatannya mengelola lapak baca sederhana di pinggir jalan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 11:16

Membangun LRT Bandung Raya, Revolusi Angkutan Kota yang Esensial

Sistem LRT memiliki banyak keunggulan dibandingkan dengan moda yang lain.

Ilustrasi urgensi sistem angkutan LRT untuk kawasan Bandung Raya (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Linimasa 17 Apr 2026, 10:44

Para Peramal Piala Dunia, dari Paul Si Gurita hingga Prediksi AI

Fenomena ramalan Piala Dunia berkembang dari Paul si gurita hingga kecerdasan buatan yang kini memprediksi hasil turnamen global 2026.

Paul Si Gurita, peraamal Piala Dunia 2010. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 09:42

Ciseeng, Endapan Laut Purba yang Dikukus Panas Bumi

Endapan travertin Cisѐѐng yang membukit, merupakan endapan dari masa lalu kini, yang sudah berlangsung jutaan tahun.

Gundukan endapan travertin, semula bentuknya menyerupai sѐѐng, menyerupai dandang, dan di dalamnya terdapat air panas yang terus membual. Inilah yang menjadi inspirasi para karuhun untuk menamai kawasan ini Cisѐѐng. (Sumber: Dokumentasi Penulis)