Bandung UTAMA, Antara Janji dan Realita

3 menit baca
Adil Rafsanjani
Ditulis oleh Adil Rafsanjani diterbitkan
Walikota dan Wakil Walikota Bandung, M. Farhan dan Erwin. (Sumber: Pemprov Jabar)
Walikota dan Wakil Walikota Bandung, M. Farhan dan Erwin. (Sumber: Pemprov Jabar)

Sepuluh bulan sudah Muhammad Farhan memimpin Kota Bandung bersama wakilnya, H. Erwin. Dari lima tahun masa jabatan yang dijanjikan, perjalanan baru saja dimulai. Namun waktu yang singkat itu cukup untuk melihat arah langkah: apakah Bandung sudah bergerak menuju visi Bandung UTAMA — Unggul, Terbuka, Amanah, Maju, dan Agamis — atau justru masih berkutat pada persoalan lama yang belum tuntas?

Menjelang akhir tahun 2025, banyak warga mulai menulis refleksi dan pandangan mereka terhadap arah perubahan kota. Sebuah cara sederhana tapi bermakna untuk menakar sejauh mana janji “Bandung UTAMA” mulai terasa dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam dokumen resmi visi-misi, Farhan-Erwin menuliskan mimpi besar: “Mewujudkan Kota Bandung yang Unggul, Terbuka, Amanah, Maju dan Agamis melalui pemerintahan yang melayani serta berkelanjutan.”
Lima misi besar menyertai visi itu — mulai dari pelayanan publik, keterbukaan, pemerintahan bersih, pembangunan ekonomi-infrastruktur, hingga pembentukan karakter warga yang religius dan toleran.

Beberapa program unggulan bahkan terdengar menjanjikan:

  • 151 Taman Bugar UTAMA, untuk menghidupkan ruang publik dan kebugaran di tiap kelurahan.
  • Bandung GerCep, layanan publik berbasis kedaruratan di tingkat kecamatan.
  • Pasukan Warga, sistem pengelolaan sampah berbasis komunitas yang juga meningkatkan kesejahteraan warga.
  • Sidang Rakyat Jumaaahan, forum pertemuan langsung warga dengan wali kota dan wakilnya.

Konsepnya: kolaboratif, inklusif, dan berakar dari semangat “Bandung cageur, bageur, bener, pinter jeung singer”.

Perubahan yang Masih “Setengah Jalan”

Namun, realitas lapangan tak selalu seindah rencana di atas kertas.

Sebagian warga mengapresiasi pendekatan jemput bola dan komunikasi terbuka yang mulai terasa melalui kegiatan Ngabandungan Bandung dan Sidang Rakyat. Namun, ada pula yang merasa perubahan belum menyentuh persoalan paling mendasar: macet, sampah, drainase, dan pelayanan publik.

Bandung masih bergulat dengan krisis tata kota — volume kendaraan meningkat, sampah menumpuk di beberapa titik, dan proyek revitalisasi belum merata ke kawasan timur dan selatan.

Bagi sebagian warga, 10 bulan pertama ini lebih terasa sebagai fase penyesuaian ketimbang perubahan.

Wali Kota Bandung, M. Farhan. (Sumber: Pemkot Bandung)
Wali Kota Bandung, M. Farhan. (Sumber: Pemkot Bandung)

“Masih banyak PR, tapi setidaknya sudah mulai terbuka ruang dialog antara warga dan pemerintah,” ujar Fahmi, pegiat komunitas Pencita Alam di kawasan Ujungberung.

Komentar seperti ini menggambarkan nuansa “optimis tapi waspada” yang banyak dirasakan warga Bandung hari ini.

Janji untuk menjadikan Bandung Unggul dalam SDM dan pelayanan publik menjadi tantangan tersendiri.
Kota ini masih perlu memperkuat sektor kesehatan, pendidikan, dan peluang kerja agar benar-benar dirasakan di level keluarga.

Program Beasiswa UTAMA dan Inkubator Bisnis Kecamatan patut diapresiasi, tapi dampaknya masih terbatas.

Dalam urusan infrastruktur dan ekonomi, beberapa kebijakan seperti penguatan UMKM dan rencana reaktivasi Bandara Husein Sastranegara masih dalam tahap persiapan.

Padahal, visi “Maju” dalam Bandung UTAMA menuntut percepatan nyata, bukan sekadar perencanaan.

Warga sebagai Mitra, Bukan Penonton

Salah satu semangat penting dalam visi-misi Farhan adalah pemerintahan kolaboratif. Dokumen “Bandung UTAMA” menegaskan bahwa Bandung harus menjadi kota yang “terbuka untuk kritik, partisipatif, dan kolaboratif dengan warganya.”

Inilah yang kini diuji: Apakah warga benar-benar dilibatkan dalam pengambilan keputusan publik? Ataukah masih sekadar diminta berpartisipasi setelah kebijakan diputuskan?

Sejumlah warga menyampaikan harapannya agar pemerintah lebih cepat menindaklanjuti aduan masyarakat.

“Saya senang karena bisa langsung menyampaikan aspirasi ke wali kota lewat forum terbuka, tapi tanggapan konkret di lapangan masih lambat,” kata Acil, warga Antapani.

Bandung adalah kota yang dicintai banyak orang — bukan hanya karena udaranya, tapi karena kenangan dan semangat warganya.

Karena cinta itulah, kritik muncul. Kritik yang tidak personal, tapi ditujukan untuk kebijakan dan dampaknya bagi masyarakat.

Visi “Bandung UTAMA” sesungguhnya adalah janji tentang merawat kota dan warganya dengan sepenuh hati. Namun, sepuluh bulan pertama ini baru menjadi permulaan dari perjalanan panjang menuju Bandung yang benar-benar unggul, terbuka, amanah, maju, dan agamis.

Membangun Bandung bukan pekerjaan satu wali kota, tapi kerja kolektif antara pemerintah dan warganya. Dan lewat kritik yang jujur, masyarakat memberi cermin untuk melihat mana yang sudah baik, dan mana yang masih butuh diperbaiki.

Baca Juga: Seberapa Besar Dampak Buruk Krisis Etika Bermedia untuk Perilaku Kekerasan?

Bandung hari ini bukan kota yang gagal, tapi juga belum sepenuhnya berhasil. Ia berada di tengah jalan — di antara janji dan realita.

Namun selama masih ada warga yang berani berbicara, mengkritik, dan peduli, selalu ada harapan bahwa visi “Bandung UTAMA” bukan sekadar slogan, melainkan arah nyata menuju kota yang lebih manusiawi dan berkeadilan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)