Ayo Netizen

Komunikasi Anti Macet 

Oleh: Encep Dulwahab Kamis 15 Jan 2026, 18:21 WIB
Ilustrasi kemacetan. (Sumber: Pexels | Foto: Stan)

Secara bertahap, gelar kota paling macet di Indonesia kini berpindah ke Bandung. Dulu kota termacet itu seringkali dialamatkan ke Jakarta. Namun berdasarkan hasil riset TomTom Traffic Index tahun 2024, lembaga riset transportasi internasional asal Belanda, bahwa Bandung kali ini menduduki posisi teratas untuk kemacetan di Indonesia, sekaligus menempati urutan ke-12 secara global.

Predikat ini tentu memalukan untuk warga Bandung. Kota yang dulunya dijuluki Paris Van Java dengan tagline "Bandung is Beautiful", kini justru identik dengan kemacetan di berbagai sudut. Kondisi ini menjadi peringatan keras bagi seluruh komponen masyarakat dan pemerintah untuk segera bertindak. Memasuki 2026, sudah seharusnya Bandung memantapkan target Bandung bebas macet.

Kemacetan merugikan semua pihak. Dengan macet siapa pun akan kehilangan waktu produktifnya di jalan, yang seharusnya sudah berada di balik kerja dan menuntaskan tugas-tugas, energi terkuras karena harus duduk lama di jalan, emosi dan gelisah campur aduk, hingga produktivitas menurun karena sudah lelah di jalanan waktu macet. Dampak lainnya termasuk polusi udara yang semakin parah, dan pemborosan bahan bakar.

Ada beberapa cara dalam mengatasi kemacetan dari sisi komunikasi. Kita bisa mengawalinya dengan melakukan beberapa langkah, yaitu: pertama, kampanye untuk mengubah perilaku masyarakat dalam berkendara. Pendekatan komunikasi persuasif bisa memanfaatkan influencer lokal, tokoh publik, dan pemimpin komunitas untuk mempromosikan transportasi umum, berbagi kendaraan (carpooling), dan transportasi ramah lingkungan seperti sepeda. Dulu pernah ada komunitas bike to work, sudah saatnya dibangunkan lagi dengan lebih masif. Kemudian gerakan sehat dengan berjalan kaki ketika beraktivitas. 

Kedua, membangun narasi gaya hidup urban modern di kalangan warga Bandung. Narasi seperti Milenial Bandung Naik Trans Metro Pasundan, dapat mendorong perubahan kebiasaan menuju transportasi publik, sehingga mengurangi volume kendaraan pribadi di jalan.

Ketiga, komunikasi publik yang jelas tentang keunggulan transportasi massal. Banyak warga yang belum menggunakan Trans Metro Pasundan atau layanan publik lainnya, mungkin karena minimnya informasi tentang itu. Kalau sudah ada aplikasi mobile-nya, kenapa tidak diinformasikan ke publik, dan benar-benar real-time informasi mengenai rute, jadwal, dan estimasi waktu tempuh ketika warga menggunakan transportasi publik.

Keempat, membuat sistem komunikasi lalu lintas berbasis teknologi yang tersedia data tentang kondisi jalan, lokasi macet, dan rute alternatif. Informasi ini harus terintegrasi dengan aplikasi navigasi populer, dan disebarkan melalui radio lalu lintas, papan elektronik (dynamic message signs), serta media sosial resmi Dinas Perhubungan Bandung.

Baca Juga: Melihat 'Apa yang Salah' dari Kemacetan Ciwastra yang Rutin Jadi Sorotan

Kelima, perlu juga ada dukungan dari lembaga pemerintah dan swasta, dengan memberlakukan sistem kerja fleksibel—work from home, jam kerja fleksibel, atau shift working—untuk mengurangi kepadatan lalu lintas pada jam-jam sibuk. Kalau dirata-rata, Bandung macet parahnya pagi dan sore, yaitu ketika orang berangkat dan pulang kerja. 

Keenam, rebranding transportasi publik. Selama ini, sebagian masyarakat kelas menengah enggan menggunakan transportasi umum, karena stigma negatif atau anggapan bahwa layanan ini hanya untuk kalangan bawah. Di tambah lagi dengan kondisi kendaraan yang kurang layak jalan. Bisa berkaca pada kesuksesan bagaimana upaya rebranding PT Kereta Api Indonesia, yang berhasil menyulap kereta api menjadi transportasi yang memberikan kenyamanan. Perlu juga ditambah dengan menampilkan testimoni dari profesional, selebriti lokal, dan influencer yang rutin menggunakan transportasi umum. Peningkatan kualitas armada, kebersihan, keamanan, dan kenyamanan layanan juga harus dikomunikasikan dengan baik.

Kemacetan Bandung bukan hanya persoalan infrastruktur fisik, tetapi juga masalah komunikasi, informasi, dan perilaku sosial. Solusinya memerlukan perubahan pola pikir, penyebaran informasi efektif, partisipasi publik, dan pembangunan budaya transportasi yang lebih cerdas dan berkelanjutan. Strategi komunikasi transportasi yang komprehensif dan terintegrasi, menjadi fondasi penting dalam upaya membebaskan Bandung dari jeratan kemacetan. (*)

Reporter Encep Dulwahab
Editor Aris Abdulsalam