Meskipun sering dilupakan, trotoar adalah bagian paling penting dari ruang kota. Setiap hari, orang harus berjalan di permukaan yang seharusnya aman, tetapi itu jauh dari ideal di Bandung.
Banyak trotoar rusak, bergelombang, atau bahkan tidak ada sama sekali karena digunakan sebagai tempat parkir dan toko. Kondisi ini menunjukkan bahwa perencanaan kota tidak membantu pejalan kaki.
Orang-orang di sini sudah terlalu lama mengharapkan perbaikan menyeluruh, tetapi prosesnya lamban dan tidak pasti. Janji pembangunan selalu terdengar, sayangnya bukti di lapangan tidak mengikuti.
Kritik yang muncul bukan untuk menyerang, melainkan panggilan agar keselamatan publik tidak lagi dinomorduakan. Pejalan kaki bukan warga kelas dua yang harus terus beradaptasi dengan trotoar yang rusak.
Harapan masyarakat sederhana: pembenahan trotoar yang nyata, bukan proyek yang hanya tampil di baliho dan seremoni peresmian.
Ketimpangan pembangunan terlihat jelas. Permukiman warga telah rusak selama bertahun-tahun, sementara trotoar di daerah wisata diperbaiki. Hal ini menimbulkan pertanyaan mendasar tentang apa yang harus menjadi prioritas kebijakan.
Orang-orang Bandung sudah lama menunggu perubahan yang nyata daripada perbaikan simbolis yang hanya mempercantik kota tetapi mengabaikan kebutuhan dasar pejalan kaki.
Masyarakat mengharapkan sesuatu yang sederhana. mereka ingin berjalan dengan aman, tanpa takut tersandung di trotoar yang rusak atau terserempet oleh kendaraan yang mengambil ruang di sekitar mereka.
Kepercayaan publik akan meningkat jika pembangunan dilakukan secara merata, transparan, dan konsisten. Jika Wali Kota Bandung M. Farhan berani mengambil langkah itu, Bandung berpeluang menjadi kota yang benar-benar berpihak pada warganya terutama pejalan kakiOrang-orang di Bandung berharap Wali Kota M. Farhan akan mengunjungi setiap kampung, bukan hanya kawasan kota yang "layak dipamerkan". Kunjungan lapangan akan membuka mata akan kondisi sebenarnya.
Wali Kota Bandung M. Farhan juga perlu menerapkan penindakan tegas terhadap pelanggaran trotoar oleh parkir liar, pedagang, dan bangunan yang menyerobot ruang publik. Perlindungan trotoar tidak boleh kalah oleh kepentingan kelompok tertentu.
Pria kelahiran Bogor ini seharusnya mengarahkan anggaran kota bukan hanya pada aspek estetika dan proyek pencitraan, tetapi pada keselamatan dan aksesibilitas pejalan kaki sebagai prioritas utama.
Baca Juga: Saat Kemacetan Meluas hingga Gang Kecil di Bandung
Pria berkacamata ini juga perlu memastikan setiap pembangunan trotoar ramah difabel, lansia, dan anak-anak. Kota yang baik bukan hanya indah dilihat, tetapi bisa digunakan semua orang tanpa hambatan.
Transparansi diperlukan demi kepercayaan publik. Wali Kota Bandung M. Farhan selayaknya mempublikasikan timeline pembenahan trotoar per wilayah agar warga dapat mengawasi progres dan mencegah mandeknya program.
Jika Wali Kota Bandung M. Farhan menjadikan trotoar sebagai agenda prioritas, ia memiliki peluang besar membuktikan kepemimpinan responsive. bukan sebatas pemimpin yang pandai berbicara tetapi minim eksekusi.
Ketika trotoar tidak dapat digunakan lagi, pejalan kaki harus turun ke jalan raya karena masalah keselamatan sudah memasuki tahap darurat. Tidak wajar bahwa keselamatan bergantung pada keberanian berjalan di tengah lalu lintas. (*)