Warga Bandung masih memghadapi permasalahan yang serius dari waktu ke waktu terkait permasalahan sampah, banjir, dan tidak meratanya pembangunan infrastruktur. Permasalahan tersebut tidak lagi hanya menjadi catatan birokrasi, tetapi juga keadaan nyata sehari-hari yang dihadapi oleh masyarakat.
Keadaan ini menandakan bahwa penyediaan layanan publik belum sepenuhnya dapat menyesuaikan diri dengan laju pertumbuhan populasi dan permintaan pengelolaan perkotaan yang lebih maju. Ketiga persoalan tersebut dipandang sebagai prioritas yang perlu mendapat penanganan segera.
Menghadapi permasalahan tersebut, Wali Kota Farhan akhirnya melakukan Langkah perbaikan yang fokus pada aspek pembangunan untuk mengatasi tiga permasalahan tersebut. Langkah perbaikan tersebut, yaitu melakukan peningkatkan kapasitas Tempat Pembuangan Sementara (TPS) yang menjadi bagian sistem pengelolaan sampah, melibatkan penggunaan teknologi digital dalam kegiatan operasional pengangkutan sampah, dan melakukan perbaikan kondisi jalan maupun fasilitas publik. Langkah tegas tersebut diharapkan dapat mempercepat perbaikan sehingga manfaatnya dapat dinikmati secara merata oleh masyarakat.
Kekhawatiran masyarakat terus bertambah karena dampak dari ketiga persoalan tersebut langsung mereka rasakan dalam kegiatan sehari-hari. Sampah yang menumpuk di beberapa titik membuat bau kurang sedap dan suasana sekitar tidak nyaman. Selain itu, fasilitas umum, seperti jalan juga banyak yang berlubang, trotoar rusak, dan beberapa fasilitas lainnya terbengkalai tidak terurus sehingga mempersulit ruang gerak masyarakat.
Wali Kota Bandung Farhan pada masa jabatan 100 hari awal menghadapi tantangan pengelolaan sampah. Tantang tersebut mengharuskan Wali Kota Bandung mengambil Langkah kebijakan secara jangka panjang dengan meningkatkan koordinasi dengan instansi terkait. Sistem pengelolaan sampah di Bandung harus diperkuat secara fundamental supaya dapat mengatasi penumpukan sampah dan memastikan kebersihan yang berkelanjutan.
Pengelolaan sampah yang belum ditangani dengan baik mengakibatkan dampak secara langsung terhadap Kesehatan masyarakat dan kualitas lingkungan. Sampah yang menumpuk di TPS menyebabkan bau tidak sedap yang menyengat sehingga kenyamanan masyarakat berkurang dan mengganggu aktivitas sehari-hari masyarakat. Lingkungan yang tidak higeinis menyebabkan risiko penyakit yang lebih tinggi dan mengurangi keindahan ruang publik di Bandung padahal kota ini menjadi desnitasi wisatawan dan pusat kegiatan kreatif.
Melihat situasi yang berlangsung, pengelolaan sampah di Bandung perlu dibenahi menuju sistem yang lebih efisien. Pembenahan sistem dapat dilakukan melalui beberapa cara, yaitu melakukan pembenahan manajemen pemilihan sampah dari pengangkutan, jadwal pengangkutan harus efektif, dan saran pengolahan harus ditingkatkan.
Selain itu, keterbukaan informasi kepada masyarakat penting agar mengetahui permasalahan secara real time dan mendapat masukan. Selain permasalahan pengelolaan sampah, banyak infrastruktur, seperti jalan berlubang, trotoar yang tidak ramah pejalan kaki, fasilitas publik yang kurang perbaikan, dan banyaknya parkir liar menjadi permasalahan yang memengaruhi kenyamanan dan ruang gerak masyarakat Bandung.
Adanya parkir liar menyebabkan kemacetan yang menjadi salah satu keluhan terbesar warga Bandung dan hingga kini belum menemukan solusi yang benar-benar efektif. ini tidak hanya mengganggu mobilitas harian masyarakat, tetapi juga menghambat distribusi barang dan layanan bagi pelaku usaha, yang pada akhirnya menurunkan efisiensi operasional. Jika dibiarkan terlalu lama masalah ini dapat menurunkan produktivitas ekonomi dan meningkatkan biaya operasional masyarakat dalam jangka panjang.
Baca Juga: Banjir Datang, Mahasiswa Tetap Mengejar Tugas
Permasalahan banjir juga menjadi sorotan karena terus berulang setiap musim hujan dan mengganggu aktivitas warga di sejumlah titik rawan. Banyak pohon yang berfungsi sebagai peneduh, penyaring polusi, hingga area resapan air justru ditebang. Kondisi ini semakin diperparah oleh intensitas hujan yang tinggi dan berkurangnya ruang resapan akibat perkembangan kawasan permukiman. Selain itu, banjir menimbulkan risiko keselamatan dan kesehatan, seperti bahaya sengatan listrik, tergelincir, hingga paparan penyakit dari air kotor.
Pemerintah kota sebenarnya telah mulai menunjukkan upaya pembenahan infrastruktur termasuk perbaikan beberapa ruas jalan dan penataan kembali kawasan yang membutuhkan peningkatan fasilitas publik. Langkah-langkah tersebut patut diapresiasi karena menunjukkan adanya kepedulian terhadap pentingnya kualitas infrastruktur bagi kenyamanan warga. Meski demikian, masyarakat berharap proses perbaikan dapat berlangsung lebih cepat, terencana, dan merata di setiap kecamatan.
Dengan kebijakan yang lebih terarah dan pelaksanaan yang cepat, Bandung memiliki peluang untuk menjadi kota yang lebih bersih, aman, dan nyaman. Harapannya, kepemimpinan baru mampu mendengar aspirasi publik, bekerja secara transparan, dan menghadirkan perubahan yang dapat dirasakan langsung dalam kehidupan sehari-hari. Pada akhirnya, masyarakat Bandung hanya mendambakan kota yang tertata dan kehidupan yang tenang tanpa terus-menerus diselimuti persoalan yang berulang. (*)