Sore itu, Taman Difabel BEDAS di Soreang. Tampak seperti taman kota pada umumnya yang; hijau, cukup terawat, dan terasa teduh. Pepohonan besar menaungi jalur pedestrian, sementara elemen warna biru-hijau mendominasi tepian taman dan furnitur luar ruang yang indah.

Dari pandangan pertama, niat baik itu terlihat jelas. Ada ramp, ada handrail, ada guiding block. Elemen-elemen ini seolah menjadi pernyataan bahwa taman ini ingin ramah bagi semua orang.
Dalam banyak diskusi tentang desain inklusif dan universal design, niat seperti ini memang penting; ruang publik tidak boleh hanya dirancang untuk satu jenis tubuh saja. Namun, pengalaman berada di sebuah ruang sering kali berbicara lebih jujur daripada gambar perencanaan atau daftar fasilitas dalam bentuk file.

Secara dimensi, jalur jalan di taman ini rata-rata memiliki lebar sekitar 117 cm. Ukuran ini, jika merujuk pada standar ergonomi dasar, sudah tergolong aman dan memungkinkan kursi roda melintas tanpa harus berdesakan atau bersinggungan langsung dengan elemen lain di sekitarnya.
Pada titik ini, desain jalur sebenarnya menunjukkan perhatian pada aspek aksesibilitas fisik, bahwa tubuh dengan alat bantu gerak setidaknya telah diperhitungkan keberadaannya di dalam ruang ini.

Ketika saya mengikuti jalur pedestrian, persoalan mulai terasa. Guiding block memang ada, tetapi tidak selalu membawa ke arah yang jelas. Di beberapa titik, jalur ini berhenti begitu saja, tanpa penanda lanjutan atau keterhubungan dengan area yang benar-benar aktif.
Jika saya yang bisa melihat harus berhenti sejenak untuk bertanya “ini ke mana?”, saya membayangkan betapa membingungkannya situasi ini bagi pengguna difabel netra. Jalur pemandu seharusnya memberi rasa aman dan kepastian, bukan sekadar hadir sebagai tanda bahwa taman ini “sudah inklusif”.

Furnitur taman (kursi) juga menyimpan cerita yang serupa. Bentuknya menarik, warnanya cerah, dan secara visual tentunya cukup mengundang. Namun, dari segi ukuran dan posisi, sebagian besar masih terasa didesain untuk tubuh yang dianggap normal dan kuat.
Tingginya, jaraknya, dan cara menggunakannya membuat saya berpikir bahwa penyandang difabel (terutama pengguna kursi roda) kemungkinan hanya bisa melihat, bukan benar-benar ikut menggunakan. Di sini, inklusivitas terasa berhenti pada kehadiran fisik, belum sampai pada pengalaman yang setara.

Meski begitu, saya tidak ingin mengatakan bahwa taman ini gagal. Justru sebaliknya, taman ini penting karena ia membuka ruang perjumpaan. Difabel dan non-difabel berada di ruang yang sama, menghirup udara yang sama, dan berbagi lanskap yang sama.
Dalam banyak kasus, ruang publik memang bekerja pelan-pelan, artinya bukan langsung menyelesaikan ketimpangan yang ada, tetapi setidaknya membuat kita saling terlihat. Terkadang, itu sudah menjadi langkah awal yang berarti.

Hal lain yang cukup mengganggu pikiran saya adalah soal rasa aman ketika hari mulai gelap. Taman ini tidak memiliki lampu taman atau pencahayaan jalur yang khusus. Ketika sore bergeser ke malam, cahaya hanya datang dari lampu jalan di sekitar kawasan dan dari bangunan-bangunan terdekat.
Bagi sebagian orang, kondisi ini mungkin masih bisa ditoleransi. Namun bagi penyandang difabel yang sangat bergantung pada visibilitas, orientasi, dan rasa aman, justru minimnya pencahayaan bisa menjadi alasan untuk tidak kembali. Ruang publik yang inklusif semestinya tidak hanya bisa diakses di siang hari, tetapi juga tetap terasa aman ketika digunakan kapan saja.

Soal vandalisme, yang saya temukan di taman ini tergolong ringan. Ada beberapa coretan di beberapa sudut, menurut saya tidak ekstrem dan tidak merusak fungsi utama fasilitas/ruang. Saya justru melihatnya sebagai tanda bahwa taman ini hidup dan digunakan dengan tertib.
Tentunya vandalisme bukan hal yang perlu dimaklumi, tetapi ia sering muncul di ruang yang benar-benar disentuh oleh penggunanya. Yang menjadi tantangannya adalah bagaimana membangun rasa memiliki, agar ruang yang dimaksudkan untuk semua ini juga dapat dijaga bersama.
Baca Juga: Sejarah Universitas Islam Bandung, Kampus Biru di Tamansari
Taman Difabel BEDAS bagi saya adalah ruang dengan niat baik yang masih belajar. Taman ini sudah melangkah ke arah inklusivitas, meski belum sepenuhnya sampai.
Dari pengalaman berjalan sore di dalamnya, saya belajar bahwa desain inklusif bukan soal menambah elemen, melainkan soal memahami tubuh, kebiasaan, dan rasa aman pengguna secara nyata. Seperti ruang publik lainnya, taman ini masih punya banyak kesempatan untuk tumbuh, asal kita mau mendengarkan pengalaman mereka yang benar-benar menggunakannya.
Referensi:
- Mace, R. (1998). Universal Design in Housing. North Carolina State University, Center for Universal Design.
- Pheasant, S., & Haslegrave, C. M. (2006). Bodyspace: Anthropometry, Ergonomics and the Design of Work. CRC Press.