Kisah merupakan fenomena yang tak jauh dari memori, sebuah sikap untuk memahami semua gejala yang harus dihadapi, setiap insan memiliki kisahnya masing-masing dengam sangat beragam bagaikan aliran darah yang terus mempekerjakan sel.
Kisah tak lekang oleh waktu, tak ada yang berkata tidak mampu menghadapi sebuah kisah, karena hidup bagaikan episode yang terus bersambung dan tamat di kematian.
Setiap insan mampu menguraikan “kisah adalah potret perjalanan setiap manusia yang didalamnya memiliki pesan tersirat dan makna yang berbeda-beda" menurut Novia Silvania.
Kisah adalah teman yang selalu membersamai kita dalam setiap keadaan, tak pandang bulu dan tak hanya ada di kala sendu. Kisah menjadi bukti perjuangan hidup manusia dalam mencapai titik harapan yang di dambakan, tidak akan pernah terpisah dari raga dan juga jiwa setiap manusia.
Perihal cinta adalah kisah paling jujur karena adanya ruang untuk bercerita, sebuah ketulusan yang tak dibuat-buat akan menggambarkan kisah penuh harmoni yang bisa menjadi puisi, lagu, cerita pendek, esai, atau bahkan sebuah lukisan.
Baca Juga: Bahasa, Puisi, dan Kesadaran Kultural: Musikalisasi Puisi sebagai Tindakan Reflektif
Siapa pun yang memiliki cinta, maka ekspresi tentang cinta terus memikat hati akan masa-masa yang lalu, menari-nari pada jemari liar untuk mengabadikan. Mahakarya memberi warna sejuta rasa, lahir melalui permintaan hati terus merayu menguraikan kata-kata mesra dan suara-suara lirih.
Kisah-kisah yang berlalu merupakan sebuah momen yang telah terbagi, berbagi kisah itu memberikan rasa bukan hanya dalam bentuk cinta, tapi sebagai bentuk kasih sayang. Kita seringkali melihat insan yang butuh pendidikan, makan, dan hidup layak serta anak-anak jalan yang terus berkelahi dengan waktu.
Dari kisah kita belajar mengenai makna hidup, kesedihan di hari ini bisa saja akan menjadi bahagia di hari esok, menurut Farhatuunnisa "ruang bercerita bergerak tanpa batas waktu dan jujur hingga mengungkap kisah diri sendiri" mengangkat suatu fenomena. (*)