Ayo Netizen

Catatan Awal Tahun dari Wargi Bandung

Oleh: Adil Rafsanjani Jumat 23 Jan 2026, 12:08 WIB
Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) di dekat Terminal Cicaheum, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Januari tiba, udara Bandung terasa berbeda. Bukan hanya dingin hujan yang sering turun sore hari, tapi juga suasana refleksi yang menggantung di antara jalan-jalan kota.

Sudah sebelas bulan Muhammad Farhan memimpin Kota Bandung. Baru semebilan bulan berjalan dari lima tahun masa kepemimpinannya. Pertanyaan pun mulai bergema di hati warga: apakah Bandung sudah berubah menjadi lebih baik.

Bagi Agan(20), warga Cibiru , perubahan paling terasa bukan pada bangunan atau proyek, tapi pada cara pemerintah merespons keluhan warga.

"Sekarang lapor lewat media sosial cepat ditanggapi. Tapi masalah sampah masih belum tuntas. Kadang di beberapa titik menumpuk lama,” ujarnya.

Sementara Arif, mahasiswa asal UIN, melihat geliat baru di taman-taman kota.

"Beberapa taman mulai ramai lagi, kegiatan komunitas juga hidup. Cuma transportasi publik masih belum nyaman,” katanya.

Dari dua suara ini saja, terlihat satu hal penting: warga bukan sekadar pengamat, mereka adalah saksi hidup dari perubahan—kecil maupun besar—yang terjadi di kota mereka.

Kritik yang Membangun

Teras Cihampelas di Kota Bandung. (Sumber: Pemprov Jabar)

Dalam setiap catatan, kritik bukanlah tudingan. Ia hadir sebagai bahan refleksi bersama. Kritik yang disampaikan harus berimbang dan berbasis data, diarahkan pada kebijakan, bukan personalitas. Misalnya soal pengelolaan sampah, kemacetan, drainase, atau pelayanan publik—semuanya dilihat dari dampak nyata bagi warga.

Melalui tulisan, warga mengungkap apa yang mereka rasakan: bukan untuk menjatuhkan, tapi untuk memperbaiki. Karena mencintai kota juga berarti berani berkata jujur.

Baca Juga: Semestinya Kita Berefleksi dari Bencana Sumatra

Setiap keluhan dalam catatan warga selalu diakhiri dengan saran konkret. Misalnya, mengusulkan pemilahan sampah di tingkat RW, sistem bus mini di jalur padat, atau penerangan jalan di kawasan tertentu.

Tidak semua saran bisa langsung direalisasikan, tapi dari ide-ide kecil inilah arah perubahan bisa muncul. Warga bukan penonton, mereka bagian dari solusi.

Kota Bandung tak akan pernah berhenti berbenah. Jalan-jalan akan selalu padat, taman akan selalu ramai, dan warga akan terus bersuara. Tapi yang membedakan adalah bagaimana suara itu diterima—dengan empati, bukan defensif; dengan dialog, bukan jarak. (*)

Reporter Adil Rafsanjani
Editor Aris Abdulsalam