Ayo Netizen

Alarm untuk Masa Depan Mobilitas Bandung

Oleh: Fatih Permana Senin 26 Jan 2026, 13:13 WIB
Suasana padat di Jalan Soekarno-Hatta, Bandung (sumber: dokumentasi lapangan oleh fatih) (Sumber: Fatih | Foto: Fatih)

Jalan Soekarno-Hatta di kawasan Babakan Surabaya, Kecamatan Kiaracondong, Kota Bandung, menjadi sorotan karena macet yang semakin parah.

Bulan lalu contohnya, pada Minggu (23/11/2025), kendaraan dari arah Buahbatu, Kiaracondong, sampai Pasir Koja nyaris tidak bergerak. Warga yang melintas mulai merasa lelah dengan kemacetan yang seolah tidak ada ujungnya.

Setiap hari, terutama pada jam berangkat dan pulang kerja, jalan ini selalu padat oleh kendaraan, Padahal Soekarno-Hatta merupakan jalur penting untuk macam-macam aktivitas warga. Namun kenyataannya, jalan ini sudah tidak mampu menampung jumlah kendaraan yang terus meningkat.

Titik paling macet biasanya berada di perempatan Soekarno-Hatta Kiaracondong, dekat Jalan Rumah Sakit dan area PT LEN. Di kawasan ini, antrean kendaraan bisa memanjang sangat jauh. Situasi ini kerap membuat pengendara frustrasi sepanjang hari.

Penyebab kemacetan pun beragam, mulai dari parkir liar hingga penyempitan jalan. Kendaraan yang keluar masuk dari ruko dan pertokoan juga menambah kepadatan kendaraan. Aktivitas padat di sekitar kawasan tersebut tidak diimbangi dengan penataan yang baik.

Masalah macet di Soekarno-Hatta tidak ada dengan sendirinya, tetapi berkaitan dengan penataan kota secara menyeluruh. Kurangnya aturan yang tegas membuat pelanggaran semakin sering terjadi. Penataan jalan yang masih kurang maksimal juga memperparah kondisi di lapangan.

Rekayasa lalu lintas yang dicoba selama ini belum membawa perubahan berarti. Beberapa cara justru hanya memindahkan titik kemacetan. Akibatnya, warga merasa upaya tersebut belum bisa memberikan dampak nyata.

Transportasi umum yang tersedia masih belum menjadi pilihan utama warga. Banyak yang tetap memilih kendaraan pribadi karena dianggap lebih praktis dan simpel. Jadwal transportasi umum yang tidak konsisten juga membuat masyarakat terkadang malas menggunakannya.

Jalan yang sudah penuh semakin kewalahan menampung arus kendaraan setiap hari. Pada jam padat, laju kendaraan bisa berhenti total. Kondisi ini tentu sangat mengganggu aktivitas warga.

Kemacetan yang terus menerus berdampak serius bagi kualitas hidup masyarakat. Udara semakin kotor karena emisi kendaraan. Biaya perjalanan juga meningkat karena waktu tempuh yang lebih lama.

Baca Juga: Longsor, Alih Fungsi, dan Alami

Jika kondisi ini dibiarkan, Bandung bisa kehilangan citranya sebagai kota kreatif yang nyaman untuk ditinggali. Dampaknya bisa meluas ke sektor ekonomi hingga pariwisata. Hal ini tentu merugikan perkembangan kota dalam jangka panjang.

Kritik terhadap Wali Kota Bandung semakin banyak bermunculan. Warga menilai langkah-langkah yang diambil masih terlalu lambat. Beberapa kebijakan dianggap hanya sebatas wacana tanpa pelaksanaan jelas.

Bandung membutuhkan langkah cepat dan tegas dari Wali Kota untuk mengatasi persoalan ini. Penataan ulang jalan dan perbaikan transportasi umum perlu segera diprioritaskan. Penegakan aturan yang konsisten diharapkan mampu membuat Soekarno-Hatta kembali nyaman dilewati. (*)

Reporter Fatih Permana
Editor Aris Abdulsalam