Satu bagian yang paling seru pas jadi orang Sunda yakni ketika ikut ngobrol soal hantu. Tuturannya sering kali diatur dengan gaya yang serius. Tampak seperti pengalaman yang cukup penting. Sebab hantu bukan hanya segelintir kesaksian, tapi turut merangkai identitas kesundaan yang cukup kompleks.
Namun seiring berjalannya waktu, penampakan hantu sepertinya sudah jarang terjadi. Hampir tidak lagi disebut-sebut adanya tempat sanget atau geugeuman (angker), termasuk waktu-waktu yang dipandang rawan. Malah sekarang nuansa horor sudah menjadi barang jualan. Sensasi menakutkan baru bisa dinikmati kalau kita sudah membayarnya. Nonton film, ikuti saluran premium di YouTube, dan baca novel dari penulis-penulis yang terkenal itu.
Hantu
Kawénéhan adalah kata yang tepat buat menggambarkan kondisi ketika berpapasan dengan makhluk halus. Jurig adalah bahasa Sundanya hantu. Hantu yang menampakkan dirinya dengan jelas disebut bungkeuleukan. Sedangkan kasarumahan atau kasurupan, merupakan istilah untuk keraksukan hantu. Ada banyak nama jurig di Tanah Sunda. Ririwa, onom, orowodol, lulun samak, adén, ipri, kiciwis, bungaok, sandékala, kélong wéwé, dedemit, dan lain sebagainya.
Kepercayaan, tradisi, dan sistem religi lokal saling berkelindan memberi warna pada narasi hantu-hantu Sunda. Hantu bisa dipandang sebagai jiwa seseorang yang meninggal dalam keadaan yang tidak sempurna. Beberapa dari jenis hantu adalah penguasa teritorial yang melintasi zaman. Ada hantu yang identik dengan tempat dan waktu tertentu.
Beberapa bentuk penyakit diyakini datang dari mereka. Aya nu nyabak, bahasa untuk menyebut orang yang tiba-tiba mengeluhkan bagian tubuhnya yang membiru. Dituturkeun, istilah buat kondisi orang yang dipercaya diikuti oleh makhluk halus. Bukan hanya faktor takdir, keselamatan hidup, kesaktian, maupun sial dan celaka, lekat hubungannya dengan semua ini. Dukun, kuncén, sesepuh, nenek, hingga ajéngan (ulama) memiliki peran penting dalam kosmologi lokal Sunda. Orang-orang ini bukan konektor dengan dunia astral saja, juga penyembuh buat orang yang tatamba (berobat), tempat pananyaan (bertanya soal hal mistik), dan tentunya pengandali jagat yang dapat diandalkan.
Kebudayaan Sunda menyediakan pamali, cadu, dan buyut sebagai bentuki regulasi pantangan yang sesuai ketentuan adat. Perangkat ini bukan hanya membatasi sopan santun dan seksualitas, juga etika pada hal-hal yang sakral. Hantu adalah bagian dari komunitas hidupnya orang Sunda. Subjek sehari-hari yang sangat mungkin bersinggungan dengan manusia, baik di rumah, kampung, jalan, ladang, lapang, maupun hutan. Sebagian dari mereka dipandang mengganggu dan suka jahil. Namun secara etis tingkah lakunya tersebut kerap terjadi karena akibat perilaku manusia yang gemar melanggar batas.
Waktu
Saat peralihan waktu, misalnya datangnya malam hari, kita diajak untuk rehat sejenak. Bahkan kalau sedang di luar sebisa mungkin bergegas ke rumah. Di lapang bermain anak-anak diajarkan untuk mengajak pulang sukmanya sendiri “mangga lelembutna hayu urang mulih”. Malam saatnya beristirahat. Kita secara alami akan menyaksikan dunia gulita total pada setiap pukul 19.00. Dari sanalah leluhur Sunda menyebutnya wanci harieum beunget, ketika wajah sudah mulai tak tampak jelas.
Tapi kini tatanan waktu tradisional sudah berganti. Senja hari tidak sesakral dahulu, jendela tidak perlu ditutup-tutup. Malah bagi kita, ini adalah saat yang tepat untuk memulai hari, pergi keluyuran, nongkrong, atau mulai rapat. Malam hanya menyisakan gelap, itupun masih bisa kita lawan dengan terangnya lampu. Ada lagi barang internet yang membiarkan kita terus terkoneksi tanpa pernah merasa sendirian lagi.
Pulang malam sudah biasa, alasan kerjaan tanggung atau macet di jalan. Mengejar target perusahaan jauh lebih horor ketimbang menyadari kerja yang kamalinaan (berlebihan). Malam jadi batas waktu yang menakutkan buat deadline, jatuh tempo tagihan, atau jatah promo yang sudah kedaluwarsa. Orang-orang jahat jauh lebih menakutkan ketimbang hantu kepala buntung.

Ruang
Saat masuk ke area yang langka dihinggapi manusia, misalnya ke lahan kosong, kita diajak untuk berdiam sejenak. Bahkan kalau sedang berada di sebuah tebing batas kampung, kaki gunung, atau pemakaman, kita tidak boleh memetik dan mengambil barang sembarangan. Di ruang yang tampak tak ada pemiliknya, anak-anak diajarkan untuk selalu meminta izin “punten paralun” sekalipun hanya untuk memasuki kawasannya saja. Di tempat terbuka kita menjalankan norma yang sedikit berbeda. Kita secara alami akan menyaksikan hutan rimba sebagai batas terjauh dari perkampungan. Dari sanalah leluhur Sunda menyebutnya leuweung tutupan, ketika manusia tidak bisa mengaku-ngaku sebagai pemiliknya.
Tapi kini tatanan ruang tradisional sudah berganti. Lahan kosong tidak sesakral dahulu, pohon dan batu boleh sembarang ditebang dan dicungkil. Malah bagi kita, ini adalah aset yang menjanjikan, wahana mencari uang. Lahan hanya menyisakan tanah, itupun masih bisa kita lawan dengan derunya mesin pengeruk. Ada lagi klaim kepemilikan, izin, dan konsesi yang membiarkan kita terus menggali tanpa pernah merasa salah lagi.
Jelajah daerah sudah biasa, alasan pemanfaatan lahan atau wisata alam. Mengejar capaian hidup jauh lebih horor ketimbang menyadari langkah yang jarambah (main terlalu jauh). Lahan kosong jadi batas ruang yang menakutkan buat rebutan warisan, hak guna pakai, atau sengketa di masa depan. Orang-orang jahat jauh lebih menakutkan ketimbang cerita rakyat soal penunggu tanah.
Jagat
Tradisi Sunda memandang waktu dan ruang sebagai cerminan relasi yang intim dengan alam. Siklus kosmis dan kehidupan agraris memetakan ritme dan tata ruang masyarakatnya. Waktu bukan hanya jadwal matematis yang berguna mengatur ketentuan produksi. Ruang bukan hanya lokasi fisik yang berguna untuk pengembangan aset. Keduanya adalah dimensi relasional yang penuh makna yang sakral. Penetrasi kolonial, kapitalisme, modernisasi, dan dominasi agama-agama dunia, telah menggeser dunia tradisional Sunda dengan drastis.
Raib dalam tradisi, hantu salah satu korban hegemoni ini. Kepercayaan terhadapnya ditertawakan semacam buah kebodohan yang datang dari peradaban primitif yang penuh dengan takhayul. Padahal bagi kosmologi Sunda, hantu bukan sekadar entitas supranatural melainkan representasi dari jaring-jaring relasi yang pelik di antara manusia, leluhur, alam, dan daya ilahi. Manusia Sunda memandang dunia bukan hanya tentang dirinya saja.
Dalam kepercayaan pada hantu, ada rasa hormat yang tinggi pada tatanan semesta. Pada setiap keputusan hidup yang selalu mempertimbangkan dampak relasional yang harmoni termasuk soal ekologis yang berkepanjangan. Hantu telah mengendalikan manusia Sunda untuk selalu bersikap ugahari dan penuh kehati-hatian. Ia telah mendidiknya menjadi pribadi yang mawas diri. Ulah saucap-ucapna, ulah mincrak teuing (Jangan seucap-ucapnya, jangan telalu berlaku heboh).
Hidup tidak selalu soal untung rugi, ada yang harus dibagi termasuk untuk hantu-hantu yang dipercaya hidup berdampingan dengan manusia. Percakapan tidak melulu tentang bisnis dan kerja, juga dongeng horor yang menggugah sebagai selingan yang kadang berubah seserius itu. Sunda yang lama telah mengerti betul pada masalah pembagian waktu dan ruang yang seadil-adilnya. Ada yang milik manusia, ada yang bukan. Ada yang cuma bisa dipinjam, ada yang cuma bisa diinjak, dilewati saja.
Baca Juga: Ngabuburit Digital: Bahasa Sunda di Era Reels dan Shorts
Hantu adalah pembatas dari dunia kita. Bahasa dari pagar-pagar kehidupan, dari wilayah yang tidak terjamah manusia. Ia menjadi pengingat bagi keserakahan manusia. Hantu adalah jelmaan musibah dari ulah manusia, yang bisa menelannya. Dan hal itu telah terjadi, kini manusia dibawa pada krisis yang berkepanjangan. Inilah mamala yang sejak dahulu selalu diingatkan oleh orang tua kita. Bencana alam, konflik, sampah dan limbah, kesengsaraan, paceklik, tuaian kita sendiri.
Kita telah kehilangan waktu dan ruang yang keramat. Semua disikat demi keuntungan peradaban yang sesaat. Kita lebih memilih menantang alam. Melawan hantu-hantu dengan persekutuan yang ganas dengan teknologi industri, ijazah sekolah, dan sains yang katanya mencerahkan. Sekarang hantu-hantu sudah tiada, sudah menjelma jadi kita yang haus kuasa di tengah kemegahan semesta yang luar biasa. (*)