Menjelang bulan suci Ramadan, Bandung selalu hidup dengan warna budaya yang khas. Dua istilah muncul sebagai penanda momen ini, yakni munggahan dan closingan. Sekilas keduanya tampak bertolak belakang, bahkan bisa dianggap paradoks. Namun justru dari kontradiksi inilah wajah kejujuran beragama di kota ini terlihat lebih cair, otentik, dengan kadang terikat tradisi, dan kadang ‘nakal’, tapi selalu nyata dalam pengalaman sehari-hari. Dalam ruang batin kita.
Munggahan: Naik ke Bulan Suci
Munggahan berasal dari bahasa Jawa, unggah yang berarti naik yang lalu kemudian dalam konteks Indonesia kontemporer dipadankan dengan istilah upload. Dalam budaya Sunda unggah mendapatkan imbuhan, munggahan jadi bermakna mempersiapkan diri. Tradisi ini adalah cara masyarakat Sunda termasuk Bandung dalam menyambut Ramadan dengan jiwa yang bersih, sekaligus menata hubungan sosial dan spiritual. Menjelang puasa, keluarga, tetangga, dan kawan-kawan berkumpul untuk makan bersama, saling bermaafan, berbagi doa, dan meneguhkan ikatan kolektif. Munggahan adalah ekspresi rasa syukur, kehangatan relasi, dan kesadaran akan pentingnya memulai ibadah puasa dengan persiapan lahir-batin.
Di Bandung, suasana munggahan kerap terasa di setiap sudut. Pasar dan lapak pinggir jalan mulai ramai dengan jajanan khas untuk sahur dan berbuka, musala dan masjid menjadi pusat persiapan berbagai kegiatan, sementara toko-toko dipenuhi dengan iklan tematik sebagaimana reguler tiap tahunnya. Tradisi ini memperlihatkan cara agama dan budaya berpadu, membentuk momen yang intim lagi memikat. Munggahan soal menghidupkan kembali nilai-nilai sosial yang membuat masyarakat tetap terhubung satu sama lain.
Closingan: Penutupan Sebelum Bulan Suci
Di sisi lain, muncul closingan, istilah yang lahir dari budaya urban-modern, terutama di kalangan orang muda kota besar. Kata ini, yang berasal dari bahasa Inggris closing, bermakna penutupan. Dalam konteks Bandung menjelang Ramadan, closingan merujuk pada aktivitas terakhir sebelum puasa dimulai—biasanya terkait hiburan malam, nongkrong, atau kegiatan sosial yang sifatnya lebih bebas dan ‘nakal’. Tempat hiburan, klub, dan kafe biasanya menutup operasionalnya selama Ramadan, sehingga closingan menjadi semacam momen pamitan terhadap kesenangan duniawi sebelum memasuki bulan suci.
Closingan seringkali dipandang sebagai refleksi gaya hidup perkotaan. Sifatnya yang spontan, bebas, dan kadang jauh dari tradisi formal. Namun menariknya, fenomena ini juga merupakan bagian dari respons sosial terhadap Ramadan. Tradisi baru ynag menunjukkan bahwa praktik religius tidak selalu linear dan formal. Ia mengakui keberadaan manusia modern yang mencari ruang ekspresi sebelum memasuki disiplin ibadah yang ketat. Closingan adalah cerminan urbanitas yang fleksibel—sebuah adaptasi budaya yang mengikuti ritme kota, teknologi, dan tren sosial.
Tarung Makna
Jika dilihat sekilas, munggahan dan closingan tampak bertolak belakang. Satu tradisi lokal, satu gaya hidup urban, satu sakral dan kolektif, satu bebas dan individual. Namun di Bandung, kedua fenomena ini eksis berdampingan, kadang saling tarik-menarik, menciptakan spektrum pengalaman menjelang Ramadan yang unik. Dan kita berada di sebuah ruang di antara keduanya. Jujur saja.
Misalnya, pada satu hal, keluarga besar melakukan munggahan di rumah, menata meja makan dengan hidangan tradisional, berdoa bersama, dan saling maaf-memaafkan. Sementara itu, teman sebaya merayakan closingan di penginapan atau pusat hiburan, mengakhiri malam dengan santai, bercanda, dan menikmati kebebasan sementara. Kedua momen ini berbeda bentuk, tujuan, dan intensi, tetapi keduanya muncul dari kesadaran yang sama ialah menyambut Ramadan dengan cara mereka masing-masing.

Fenomena ini menegaskan satu hal penting bahwa keberagaman praktik beragama di Bandung tidak selalu rapi dalam kategori tradisi versus modern, formal versus informal, sakral versus sekuler. Ia sesungguhnya tak terduga dan hidup. Kadang terikat aturan, kadang menerabasnya, tetapi selalu mengungkapkan pengalaman nyata masyarakat dalam menyambut bulan puasa.
Kejujuran Beragama
Pertarikan posisi di antara munggahan dan closingan sesungguhnya adalah potret kejujuran beragama. Kehidupan kita di akar rumput tidak memaksakan satu model tunggal. Bandung dan pengisinya menavigasi tradisi dan urbanitas secara lentur. Dalam konteks ini, kejujuran beragama bukan sekadar kepatuhan terhadap aturan atau dogma, tetapi bagaimana seseorang atau komunitas menghadirkan praktik religius yang nyata, relevan, dan menyentuh kehidupan sehari-hari. Terlepas dari masalah yang normatif. Dan inilah yang disebut dengan agama sehari-hari sebagaimana diungkapkan oleh Nancy Ammerman (Everyday Religion, 2007) dan Elizabeth Shakman Hurd (Beyond Religious Freedom, 2015).
Kehidupan yang kreatif—seperti yang terlihat dari kehadiran munggahan dan closingan—membuka ruang bagi kita untuk melihat agama sebagai pengalaman relasional dan dinamis. Tradisi leluhur tetap dihargai dan dijalankan, sementara kebiasaan urban muncul sebagai cara adaptif menghadapi kenyataan kota modern. Keduanya saling memantulkan, memperkaya, dan terkadang menegangkan satu sama lain, namun secara kolektif membentuk pengalaman keagamaan yang autentik.
Menariknya, kedua fenomena ini juga menunjukkan bagaimana masyarakat Bandung mengelola identitasnya. Munggahan menekankan keterikatan pada keluarga, komunitas, dan nilai-nilai leluhur. Closingan menekankan ekspresi diri, kebebasan sosial, dan adaptasi terhadap lingkungan urban. Keduanya memberi ruang bagi individu untuk menegosiasikan cara mereka menghadapi bulan puasa baik secara sakral, formal, ataupun santai.
Hal ini juga mengingatkan kita bahwa praktik beragama tidak selalu homogen. Tidak semua orang akan menjalani munggahan dengan cara yang sama, begitu pula closingan. Termasuk ada yang menggabungkan keduanya, berkumpul bersama keluarga sambil sesekali bertemu teman di kafe untuk pamitan dengan dunia hiburan. Inilah realitas keberagaman kita, yang menegaskan bahwa agama di Bandung adalah sesuatu yang kontekstual.
Baca Juga: Kuda Api dan Transformasi Cepat Pengembangan Bakat
Munggahan dan closingan adalah dua wajah menjelang Ramadan yang menampilkan kontradiksi sekaligus kesan mendalam dalam kehidupan beragama di Bandung. Keduanya ada dalam satu waktu dan ruang, saling berinteraksi, dan menciptakan pengalaman religius yang kaya dan realistis. Potret antara munggahan dan closingan menunjukkan bahwa praktik keagamaan kita tidak harus selalu seragam atau resmi. Kejujuran beragama justru tampak ketika masyarakat mampu menghadirkan praktik yang sesuai dengan konteks sosial, budaya, dan personal. Mereka merayakan bulan puasa dengan cara yang berbeda, tetapi sama-sama menegaskan nilai kebersamaan, kesadaran spiritual, dan keterhubungan dengan lingkungan sekitar.
Bandung, dengan segala keragaman dan dinamika urbannya, memperlihatkan kita yang berhadapan dengan ‘kebingungan’ ini. Ambivalensi adalah cermin dari realitas keberagaman kita—aneh dan penuh makna—yang memberi potret Bandung di zaman kiwari. (*)