Ayo Netizen

Belanja atau Investasi? Mengelola THR di Tengah Ketidakpastian Ekonomi

Oleh: Nurfarahim Sugih Lestari Selasa 10 Mar 2026, 16:13 WIB
Ilustrasi uang rupiah. (Sumber: Pexels | Foto: Ahsanjaya)

Setiap menjelang Hari Raya, jutaan pekerja di Indonesia menerima Tunjangan Hari Raya (THR). Bagi banyak orang, dana ini identik dengan belanja: membeli pakaian baru, menyiapkan hidangan Lebaran, atau membiayai perjalanan mudik.

Namun di tengah ketidakpastian ekonomi global saat ini, muncul pertanyaan yang semakin relevan: apakah seluruh THR sebaiknya dihabiskan untuk konsumsi, atau justru sebagian perlu disisihkan untuk memperkuat kondisi keuangan di masa depan?

Kondisi ekonomi global saat ini juga memengaruhi keputusan keuangan rumah tangga. Laporan World Economic Outlook Update dari International Monetary Fund memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia pada 2026 berada di kisaran 3,3 persen. Angka ini menunjukkan bahwa ekonomi global masih tumbuh, tetapi tidak dalam fase ekspansi yang kuat.

Para ekonom sering menggambarkan situasi ini sebagai kondisi yang relatif stabil, tetapi tetap rapuh. Di satu sisi, pertumbuhan didorong oleh perkembangan teknologi dan investasi besar di sektor kecerdasan buatan. Di sisi lain, berbagai risiko masih membayangi, mulai dari ketegangan geopolitik, fragmentasi perdagangan internasional, hingga tingginya utang pemerintah di banyak negara.

Konflik di berbagai kawasan juga berpotensi mengganggu rantai pasok global dan memicu fluktuasi harga energi. Dalam situasi seperti ini, ekonomi dunia memang tidak sedang berada dalam krisis, tetapi juga jauh dari kondisi yang sepenuhnya aman.

Bagi rumah tangga, ketidakpastian global tersebut mungkin terasa jauh. Namun dampaknya dapat muncul secara tidak langsung, misalnya melalui perubahan harga barang, nilai tukar, atau dinamika lapangan pekerjaan. Dalam konteks inilah keputusan mengenai penggunaan dana tambahan seperti THR menjadi semakin penting.

Mengapa THR Hampir Selalu Habis untuk Konsumsi?

Dalam kehidupan sehari-hari, tidak sulit menemukan orang yang menghabiskan sebagian besar THR mereka untuk kebutuhan Lebaran. Fenomena ini sebenarnya dapat dijelaskan melalui teori ekonomi mengenai perilaku konsumsi.

Ekonom John Maynard Keynes menjelaskan bahwa ketika pendapatan seseorang meningkat, sebagian dari tambahan pendapatan tersebut cenderung digunakan untuk meningkatkan konsumsi. Dengan kata lain, bonus atau tunjangan sering kali langsung diterjemahkan menjadi pengeluaran tambahan.

Dalam konteks Hari Raya, dorongan konsumsi ini menjadi semakin kuat. Lebaran tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan pribadi, tetapi juga dengan tradisi sosial: membeli pakaian baru, menyiapkan hidangan bagi keluarga, memberi hadiah kepada kerabat, atau berbagi dengan mereka yang membutuhkan.

Dari sudut pandang ekonomi, peningkatan konsumsi tersebut bukanlah sesuatu yang negatif. Justru dalam banyak kasus, belanja masyarakat saat hari raya ikut menggerakkan roda ekonomi.

Tanpa punya rupiah di dompet, kehadiran paylater menambah lapisan “keajaiban” baru, kita bisa membeli hari ini dan membayarnya nanti. (Sumber: Pexels/Defrino Maasy)

Konsumsi sebagai Penggerak Ekonomi

Konsumsi rumah tangga merupakan salah satu pilar utama perekonomian Indonesia. Lebih dari separuh Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia berasal dari aktivitas konsumsi masyarakat.

Momentum Hari Raya biasanya menjadi salah satu periode ketika aktivitas ekonomi meningkat signifikan. Permintaan terhadap berbagai barang dan jasa naik, mulai dari makanan, pakaian, transportasi, hingga sektor pariwisata. Pedagang kecil, pelaku UMKM, hingga sektor jasa turut merasakan dampak dari meningkatnya perputaran uang di masyarakat.

Dalam konteks ini, belanja menggunakan THR sebenarnya juga berkontribusi pada dinamika ekonomi yang lebih luas. Konsumsi masyarakat membantu menjaga aktivitas ekonomi tetap bergerak, terutama bagi sektor usaha kecil yang sangat bergantung pada momentum musiman seperti Lebaran.

Namun demikian, konsumsi yang berlebihan tanpa perencanaan juga dapat menimbulkan risiko bagi kondisi keuangan rumah tangga, terutama jika diikuti dengan penggunaan utang atau pengeluaran impulsif.

Belanja atau Investasi?

Pertanyaan mengenai apakah THR sebaiknya digunakan untuk belanja atau investasi sebenarnya tidak harus dijawab secara hitam-putih. Dalam praktiknya, keputusan finansial yang sehat biasanya berada di antara keduanya.

Momentum Hari Raya tetap menjadi waktu yang tepat untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan mempererat hubungan sosial. Namun pada saat yang sama, kondisi ekonomi yang penuh ketidakpastian juga mengingatkan pentingnya membangun ketahanan finansial.

Di sinilah pentingnya melihat THR bukan hanya sebagai dana untuk konsumsi, tetapi juga sebagai kesempatan untuk memperbaiki kondisi keuangan jangka panjang. Sebagian orang mungkin memilih menyisihkan sebagian THR untuk tabungan, dana darurat, atau investasi sederhana seperti emas atau reksa dana.

Pendekatan seperti ini tidak berarti menghilangkan makna perayaan Hari Raya. Sebaliknya, ia justru mencerminkan upaya menjaga keseimbangan antara kebutuhan saat ini dan keamanan finansial di masa depan.

Warga saat berbelanja pada gelaran Pasar Tani Di Pelataran Parkir Kantor Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jawa Barat, Jalan Surapati, Kota Bandung, Jumat, 6 September 2024. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Pada akhirnya, THR memang identik dengan kebahagiaan menjelang Hari Raya. Ia menjadi simbol kerja keras selama setahun sekaligus kesempatan untuk berbagi dengan orang-orang terdekat.

Namun, di tengah dinamika ekonomi global yang penuh ketidakpastian dana tambahan ini juga dapat menjadi momentum untuk memperkuat kondisi keuangan pribadi. Tidak semua THR harus dihabiskan sekaligus. Menyisihkan sebagian kecil saja untuk tabungan atau investasi dapat menjadi langkah sederhana untuk membangun ketahanan finansial di masa depan.

Dengan cara itu, THR tidak hanya menghadirkan kebahagiaan sesaat saat Lebaran, tetapi juga memberikan manfaat yang lebih panjang bagi kesejahteraan ekonomi rumah tangga. (*)

Reporter Nurfarahim Sugih Lestari
Editor Aris Abdulsalam