Ayo Netizen

Ulah Unggut Kalinduan Bila Dimaknai sebagai Upaya Mitigasi Gempa Bumi

Oleh: T Bachtiar Jumat 13 Mar 2026, 11:14 WIB
Kampung Muril, Desa Jambudipa, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Dari nama geografis ini menunjukkan kampung ini pernah diguncang gempabumi yang membuat pusing dan mual. (Sumber: Citra satelit: Google maps)

Peribahasa Sunda ulah unggut kalinduan, ulah gedag kaanginan, merupakan ungkapan untuk menggambarkan seseorang yang kuat godaan atau tahan uji. Walau digoyang lindu, digoyang gempabumi, terangguk pun tidak. 

Lahirnya kata-kata bijak dan filosofis yang mewujud dalam peribahasa Sunda ulah unggut kalinduan, ulah gedag kaanginan, pastilah orang yang pernah mengalami langsung diguncang gempabumi dan ditiup anginpuyuh. Lalu dia mengkristalkannya menjadi peribahasa, sebagai kompas hidup bermasyarakat.

Kenampakan rona bumi Tatar Sunda saat ini yang bergunung-gunung, dengan torehan sungai yang dalam sampai di dasar lembah, dengan gawir yang tegak memanjang curam. Semuanya itu menyiratkan, bahwa di dalam kulit buminya terdapat garis-garis patahan atau sesar yang silang-siur memanjang dari satu tempat ke tempat lainnya. Adanya patahan-patahan inilah yang menyebabkan getaran gempa dapat merambat sampai jauh. Magma dapat menerobos kulit bumi membentuk gunung-gunung, dan panas buminya menembus batuan hingga ke permukaan, memanaskan air tanah, keluar menjadi sumber air panas. Panas magma yang menjalar dapat mencairkan beragam logam dalam batuan, memanaskan endapan membentuk batu mulia yang beragam kekuatan dan keindahannya. Rona Bumi Tatar Sunda ini seperti yang sekarang, tidaklah sudah terbentuk sejak awal. Tapi, dinamika bumi Jawa Baratlah yang membentuk keadaan itu. 

Satu dari sekian banyak gejala kebumian yang menjadi topik tulisan ini adalah lini, lindu, atau gempabumi. Gempabumi pernah menggoyang wilayah-wilayah di Tatar Sunda dari waktu ke waktu. Kemungkinan besar masyarakat pernah mengalami goyangan gempabumi, besar atau kecil, selama dalam hidupnya. Inilah beberapa bukti kejadian gempa bumi yang terjadi di beberapa daerah yang dicatat dalam berita koran pada masa kolonial.

Senin, 15 Januari 1900, gempa bumi dahsyat terjadi di Sukabumi, yang mengakibatkan banyak bangunan tidak dapat dihuni, namun tidak ada korban jiwa (Algemeen Handelsblad, 16-01-1900). Rumah-rumah, terutama gedung-gedung pemerintah rusak parah dan tidak layak huni. Penduduk mengungsi (The Locomotive, 16 Januari 1900).

Baca Juga: Toponimi Kampung Muril: Serasa Berputar karena Gempa Sesar Lembang

Gempabumi terjadi di Cirebon pada sore hari tanggal 11 Februari 1903. Guncangan horizontal yang cukup kuat (The Locomotive, 27 Februari 1903).

Gempabumi terjadi tanggal 27 Juli 1906 sekitar pukul lima pagi, dirasakan cukup lama di Bandung, cukup kuat dirasakan di Lembang dan Malabar. Gempabumi juga terasa ringan di Garut dan Bogor pukul 5:10 (Land en volk, 29 Agustus 1906).

Gempabumi yang terjadi di Majalengka tanggal 18 Oktober 1912, menyebabkan di beberapa tempat telah ambles sekitar 5 cm, dan jalan menuju Madja telah naik 1,5 meter. (Bataviaasch Nieuwsblad, 19 Oktober 1912).

Gempabumi terjadi Bandung 12 Agustus 1913 sekitar pukul 12.45. Gempabumi dirasakan kuat di Lembang, yang berlangsung sekitar satu menit (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 13 Agustus 1913). 

Pada tanggal 2 Juni 1914 pukul 11.50 malam, Garut diguncang gempa bumi kuat (Bataviaasch Nieuwsblad, 3 Juni 1914). Tanggal 3 Juni 1914 gempabumi yang kuat kembali dirasakan di Bandung, juga dirasakan di Sumedang (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 05-06-1914).

Pada tanggal 4 Februari 1916, gempabumi yang terasa di Bandung telah dikonfirmasi oleh seismograf di Malabar (Bataviaasch Nieuwsblad, 5 Februari 1916). Pukul 6 sore tanggal 1 Oktober 1918, terjadi gempa bumi yang sangat kuat, tercatat seismograf di Malabar (De Locomotief, 2 Oktober 1918).

Gempabumi terjadi di Bandung tanggal 24 November 1924 pukul 03.20. Observatorium di Malabar merasakan guncangan yang cukup hebat. Pada tanggal yang sama, gempabumi juga terjadi di Selat Sunda (Algemeen Handelsblad voor Nederlandsch-Indië, 25-11-1924).

Gempabumi terjadi 2 November 1925, pukul 12:19 siang, dengan episentrum sekitar 500 km dari Bandung. Waktu gempa 2 menit (De Locomotief, 03-11-1925). Gempabumi terasa kuat di Bandung, pada 13 Februari 1926 pukul 5.00 pagi. Episentrumnya berjarak 240 kilometer dari Bandung, dengan durasi dua menit (Algemeen handelsblad voor Nederlandsch-Indië, 15 Februari 1926).

Gempabumi di Ngamplang, Garut, dirasakan sangat kuat, terjadi pada tanggal 8 Oktober 1927. Gempabumi yang berkepanjangan, sehingga para tamu hotel yang berada di ruang makan berhamburan diri ke luar (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 10 Oktober 1927).

Dan, sudah sejak lama, masyarakat Sunda memberikan nama tempat sesuai dengan peristiwa kebumian yang terjadi di lokasi itu. Toponim yang berkaitan dengan gempa bumi, misalnya, ada Cieundeur di Cianjur, yang bermakna desa itu pernah diguncang gempa besar yang merusak bangunan. Di Kabupaten Bandung Barat terdapat toponim Kampung Muril dan Kampung Gadogmuril.

Kembali ke peribahasa ulah unggut kalinduan, dalam arti yang sesungguhnya, merupakan upaya mengingatkan, upaya mitigasi gempabumi yang seharusnya terus diajarkan kepada masyarakat di Tatar Sunda. Upaya mengajarkan mitigasi dengan cara mengenali berapa kekuatan gempa bumi, berapa besar kerusakannya, berapa korban jiwa, adakah retakan, rekahan, amblesan, dll. Setelah mengenali akibat gempa bumi yang ditimbulkan, disusun skenario upaya apa yang harus dilakukan secara terus bertahap, menerus, agar peristiwa kebumian itu tidak menimbulkan korban jiwa dengan kerusakan besar.

Misalnya, bagaimana membangun rumah, gedung, pabrik, sekolah, tempat ibadah, jembatan, jalan raya, jalan tol, jalan layang, bendungan, pasar raya, rel kereta api, tempat wisata pantai, dan lain-lain dengan konstruksi bangunan yang tahan gempabumi, dan memperhitungkan ancaman tsunami bila berada di pantai. Apalagi bila di teluk, di muara sungai, di pantai yang datar, dll.

Mitigasi merupakan upaya, merupakan jawaban yang harus terus dilaksanakan. Apa yang harus diperbuat sebelum, pada saat, dan setelah gempa bumi terjadi. Kejadian gempa bumi itu sangat singkat, menimbulkan mual, pusing, dan dapat merobohkan bangunan, membengkokkan rel kereta api, mengambrukkan jembatan, membobol bendungan, melongsorkan tebing, dan menimbulkan korban jiwa.

Peribahasa ulah unggut kalinduan dapat juga dimaknai dalam arti yang sesungguhnya, karena sangat berkaitan, sangat berhubungan dengan upaya mitigasi gempabumi. (*)

Reporter T Bachtiar
Editor Aris Abdulsalam