Ayo Netizen

Ketika Ramadhan Akan Berakhir

Oleh: kurniawan abuwijdan Jumat 13 Mar 2026, 15:28 WIB
Sejumlah pengunjung memilih pakaian di Pasar Baru Trade Center, Kota Bandung, Jumat 13 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Waktu berjalan begitu cepat. Tanpa terasa bulan Ramadhan telah memasuki fase sepuluh hari terakhir. Di berbagai tempat, aktivitas manusia justru tampak semakin meningkat.

Para pegawai dan karyawan di kantor maupun perusahaan dituntut untuk segera menyelesaikan pekerjaan atau mencapai target sebelum memasuki masa libur panjang Hari Raya Idul Fitri. Di sisi lain, aktivitas ekonomi di berbagai pusat perdagangan juga semakin menggeliat.

Pasar tradisional, minimarket, supermarket, hingga pusat perbelanjaan modern menawarkan berbagai diskon menarik untuk kebutuhan Lebaran. Mulai dari kebutuhan pokok, pakaian baru, hingga aneka kue Lebaran dan parcel. Kini mereka juga harus bersaing dengan layanan belanja daring yang dalam beberapa tahun terakhir semakin berkembang pesat, bahkan membuat sebagian pusat perbelanjaan konvensional harus berjuang keras mempertahankan pelanggan.

Kafe, restoran, dan rumah makan pun tidak mau ketinggalan. Mereka berlomba menawarkan paket berbuka puasa, baik untuk keluarga maupun acara perusahaan. Beragam pilihan takjil, makanan utama, hingga hidangan penutup yang menggugah selera tampil dalam iklan di media sosial maupun spanduk-spanduk di berbagai sudut kota.

Memang hampir setiap tahun, ketika Ramadhan tiba dan mendekati hari Lebaran, aktivitas ekonomi meningkat cukup signifikan. Para pelaku usaha yang jeli—baik perorangan, kelompok usaha, maupun perusahaan skala menengah dan besar—berlomba memanfaatkan momentum ini untuk meningkatkan penjualan dan meraih keuntungan yang lebih besar.

Sebuah laporan dari datasatu.com menyebutkan bahwa perputaran uang selama periode Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah atau Lebaran 2026 diperkirakan meningkat secara signifikan. Ekonom dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, memproyeksikan total perputaran uang pada periode tersebut berpotensi menembus Rp190 triliun. Angka ini lebih tinggi dibandingkan realisasi Lebaran tahun sebelumnya yang tercatat sekitar Rp160 triliun.

Peningkatan ini sejalan dengan naiknya aktivitas konsumsi masyarakat, mulai dari belanja kebutuhan pokok, pakaian, transportasi mudik, hingga sektor pariwisata dan hiburan. Momentum musiman Ramadhan dan Idul Fitri memang menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang memberikan kontribusi besar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Di sisi lain, ada juga sebagian umat Islam yang justru memilih memanfaatkan sepuluh hari terakhir Ramadhan untuk semakin bersungguh-sungguh dalam beribadah. Mereka memperbanyak doa, membaca Al-Qur’an, melaksanakan shalat sunnah, qiyamul lail, serta beritikaf di masjid.

Hal ini meneladani apa yang dicontohkan oleh Rasulullah S.A.W. Dalam sepuluh hari terakhir Ramadhan, beliau meningkatkan kesungguhan dalam beribadah kepada Allah. Padahal beliau adalah Nabi dan kekasih Allah yang telah dijamin ampunan atas dosa-dosanya, baik yang telah lalu maupun yang akan datang. 

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah radhiyallahu ‘anha disebutkan:

"Apabila telah masuk sepuluh hari terakhir Ramadhan, Rasulullah Sholallohu “Alaihi Wassalam menghidupkan malam-malamnya, membangunkan keluarganya, bersungguh-sungguh dalam beribadah, dan mengencangkan ikat pinggangnya."
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menggambarkan bagaimana Rasulullah memberikan teladan kepada umatnya untuk memaksimalkan ibadah pada penghujung Ramadhan. Malam-malam tersebut dihidupkan dengan berbagai bentuk ibadah, mulai dari shalat malam, membaca Al-Qur’an, memperbanyak doa, hingga memperbanyak amal kebaikan lainnya.

Bulan yang penuh berkah dan limpahan pahala ini tentu sangat sayang jika dilewatkan begitu saja. Banyak amal ibadah yang dapat dilakukan untuk meraih pahala yang berlipat ganda. Terlebih lagi pada sepuluh hari terakhir ini terdapat malam yang sangat mulia, yaitu malam Lailatul Qadar.

Allah menjanjikan bahwa siapa saja yang beribadah pada malam tersebut akan mendapatkan pahala seperti beribadah selama seribu bulan, atau sekitar delapan puluh tiga tahun lebih. Sebuah kesempatan yang luar biasa bagi setiap Muslim untuk memperbanyak amal dan mendekatkan diri kepada Allah.

Di berbagai masjid besar di seluruh Indonesia, bahkan di berbagai belahan dunia, kegiatan iktikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadhan menjadi tradisi yang terus hidup. Kegiatan tersebut biasanya diisi dengan kajian ilmu syariah seperti fikih, tauhid, akhlak, dan muamalah, tadarus Al-Qur’an bersama, serta qiyamul lail berjamaah.

Para pengurus masjid biasanya juga menyiapkan takjil untuk berbuka puasa hingga makanan sahur bagi para jamaah, yang berasal dari infak dan sedekah kaum Muslimin. Tidak sedikit masjid yang dipenuhi jamaah yang ingin memanfaatkan sisa hari Ramadhan dengan meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadahnya. Harapan mereka sederhana namun sangat mulia: mendapatkan kemuliaan malam Lailatul Qadar dan meraih ampunan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ketika Ramadhan berakhir dan tanggal 1 Syawal tiba, mereka menyambut Hari Raya dengan perasaan bahagia—sebuah kebahagiaan karena telah berusaha memaksimalkan ibadah di bulan suci ini dan berharap kembali kepada fitrah yang suci.

Pada akhirnya, kita melihat dua pemandangan yang cukup kontras. Di satu sisi, sebagian orang disibukkan dengan berbagai agenda buka puasa bersama, mulai dari reuni teman sekolah, rekan kerja, hingga komunitas tertentu. Di sisi lain, ada pula yang disibukkan dengan mengejar peningkatan omzet usaha karena tingginya permintaan menjelang Lebaran, terutama pada sektor makanan dan pakaian.

Suasana i’tikaf dengan tadarus Al Qur an Di Masjid Ar Rohman Parahyangan Kencana Kab Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Tidak jarang aktivitas tersebut membuat sebagian orang melewatkan kesempatan untuk beribadah di masjid, seperti shalat tarawih atau membaca Al-Qur’an. Alasannya sederhana: momen ini hanya datang setahun sekali dan sayang jika tidak dimanfaatkan secara maksimal untuk kepentingan dunia.

Sesungguhnya tidak ada yang salah dengan memanfaatkan peluang ekonomi atau mempererat silaturahmi. Ramadhan juga membawa keberkahan bagi kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Namun alangkah bijaksananya jika urusan akhirat juga mendapatkan prioritas yang utama. Sebab kehidupan di dunia ini tidaklah abadi. Pada akhirnya setiap manusia akan kembali kepada Allah, dan bekal terbaik yang dapat dibawa adalah amal ibadah.

Allah telah memberikan satu bulan istimewa di antara sebelas bulan lainnya agar manusia memberikan perhatian lebih pada ibadah, yaitu bulan Ramadhan. Bukan berarti urusan dunia tidak penting, tetapi ada waktu yang seharusnya kita sisihkan untuk memperkuat spiritualitas dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Semoga sisa hari Ramadhan ini masih memberi kesempatan bagi kita untuk memperbaiki diri, memperbanyak amal, dan meraih keberkahan yang telah Allah siapkan bagi hamba-hamba-Nya. (*)

Reporter kurniawan abuwijdan
Editor Aris Abdulsalam