Ayo Netizen

Lailatul Qadar, Malam yang Datang Tanpa Pengumuman

Oleh: Ridwan Rustandi Jumat 13 Mar 2026, 17:24 WIB
Ilustrasi seorang laki-laki memanjatkan doa, melatih kepekaan batinnya (Sumber: Pixabay | Foto: Mohammed Hassan, Pixabay)

Penghujung terakhir bulan ramadan menyisakan misteri waktu yang mendatangkan keberkahan. Setiap manusia beriman berharap peroleh karunia bertemu dengan malam yang datang tanpa ada pengumuman. Malam itu, dinisbahkan sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan. Malam yang mengundang jiwa-jiwa beriman memilih untuk bangun ketika yang lain tidur, bersujud ketika yang lain beristirahat, dan berbisik kepada sang pencipta dengan keyakinan mendapat ukuran pasti dari pengharapan yang dimunajatkan. Itulah lailatul qadar, malam yang menggetarkan semesta dengan tasbih. Malam yang mempertautkan penduduk langit dan bumi dalam segala urusan. Malam yang mengantarkan fajar dengan kedamaian.

Kata lailatul qadar berasal dari dua akar kata: lailah (malam; waktu setelah matahari terbenam hingga terbit fajar; satu malam) dan al-qadru (ketentuan / takdir; ukuran / ketetapan; kemuliaan / keagungan; kekuasaan). Para ulama menafsirkan kata lailatul qadar sebagai malam ditetapkannya kemuliaan, malam penetapan takdir, malam yang didalamnya terdapat nilai dan ukuran pahala yang besar. Lailatul qadar mencerminkan sebuah keteraturan kosmologis yang menentukan laju alam semesta. Di malam ini, Allah Swt menetapkan fine tunning atau penyetelan alam semesta secara halus. Didalamnya terdapat beragam informasi kosmik yang memberikan ruang kontemplasi (tafakkur) kepada manusia beriman untuk menyiapkan jiwanya agar bisa bertemu dengan momen besar kesadaran spiritual.

Resonansi Semesta

Tiga puluh hari selama ramadan adalah proses menempa jiwa manusia agar bertemu dengan momen agung dalam ber-taqarrub kepada Allah Swt. Melalui lapar dan dahaga, manusia menurunkan ego. Melalui malam-malam panjang yang dihiasi dengan sembah sujud pada-Nya, manusia melatih kepekaan batin. Melalui do’a-do’a yang dipanjatkan, manusia berupaya membuka kanal spiritualitas dengan rabbul alamin.

Lailatul qadar mempertemukan getaran langit dan bumi. Di dalamnya Allah Swt menyingkap yang terlihat (syahadah) dan yang tersembunyi (ghaib). Penduduk langit turun ke bumi (nuzulul malaikat wa ruh) menebarkan kedamaian bagi semesta kehidupan (salamun hiya hatta matla’il fajr). Pada malam itu pula, Allah Swt mengirimkan keberkahan dengan turunnya kitab al-Qur’an. Inilah resonansi semesta yang menggetarkan jiwa manusia melalui tasbih yang dilantunkan. Lailatul qadar adalah momen yang dinanti sekaligus dicari agar menyatu dengan irama penghambaan kepada-Nya.

Menariknya, kedatangan malam seribu bulan ini tidak memiliki kepastian waktu. Ia datang tanpa pengumuman. Rasulullah Saw hanya meneladankan pencarian malam ini dengan mengencangkan ikat pinggang dan meningkatkan intensitas ibadah pada sepuluh malam terakhir bulan ramadan. Beliau menghidupakan malam-malam tersebut, terutama pada malam-malam ganjil sebagai fase pencarian aktif momen spiritual manusia.

Ketidakpastian waktu datangnya lailatul qadar mengisyaratkan agar manusia menyiapkan diri untuk menangkap sinyal kesadaran ilahiyyah. Hal ini sekaligus menghindarkan manusia dari transaksi spiritual. Seandainya, kehadiran lailatul qadar ini diumumkan dari awal, misalnya ia akan datang pada malam ke-27 bulan ramadan, maka bisa dipastikan, manusia memenuhi masjid-masjid hanya pada malam itu saja. Meramaikan malam dengan tasbih, tahmid dan tahlil di waktu itu saja. Inilah yang dimaksud penghindaran terhadap ‘transaksi spiritual’. Sebab, lailatul qadar hanya akan didapatkan oleh manusia yang jiwanya telah di-tuning ulang oleh shaum, doa, keheningan, dan ketulusan. Bukan kecerdasan rasional yang menemukannya, melainkan kepekaan batin yang mengenalinya.

Inilah filter kesadaran spiritual yang membedakan malam-malam sebelumnya dengan lailatul qadar. Bahkan Allah Swt menegaskan bahwa ibadah pada satu malam ini sama dengan seribu bulan. Satu malam peribadahan sama dengan 83 tahun, di mana amal yang dilakukan pada malam itu peroleh pahala yang besar dan tidak berbatas. Al-Qur’an menggambarkan malam ini bukan hanya sebagai peristiwa waktu, tetapi proses spiritual yang menuntut kesungguhan jiwa.

Setidaknya ada empat perjalanan batin yang harus ditempuh dalam proses kesadaran spiritual ini. Pertama, pemurniaan jiwa atau tazkiyah. Ibadah ramadan mendidik jiwa manusia agar bersih dan suci. Shaum, sedekah, salat malam, dan ibadah lainnya adalah latihan tazkiyah agar menyucikan jiwa dalam menerima limpahan rahmat lailatul qadar (Qs. 91: 9; 87: 14; 24: 21).

Kedua, pencarian dengan penuh kesungguhan agar memperoleh keberkahan universal dari lailatul qadar. Dalam hal ini, proses pencarian berkaitan erat dengan proses pemurnian jiwa. Allah Swt menegaskan bahwa orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, pasti Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami (Qs. 29: 69). Pencarian ini dilakukan dengan menghidupkan malam dengan ibadah, qiyamul lail (Qs. 17: 79). Serta melalui pencarian karunia dan keridaan Allah Swt, ibtighā’ ridwānillāh (Qs. 48: 29).

Baca Juga: Ketika Ramadhan Akan Berakhir

Ketiga, pertemuan atau liqa al-barakah. Pertemuan ini adalah momen kosmis ketika langit dan bumi dipenuhi rahmat, tanazzalul-malā’ikatu war-rūḥu fīhā (Qs. 97: 4). Pada lailatul qadar, para malaikat dan ruh (Jibril) turun ke bumi. Pertemuan ini bukan sekadar peristiwa waktu, tetapi perjumpaan batin antara manusia dan rahmat ilahi.

Keempat, transformasi atau taghyir. Momen lailatul qadar menghadirkan energi spiritual yang mengubah arah perjalanan hidup manusia. Satu malam yang menampilkan lompatan spiritual tiada berbatas, laylatul-qadri khayrun min alfi shahr (Qs. 97: 3). Transformasi ini dimulai dari adanya perubahan jiwa (Qs. 91: 9), kesungguhan spiritual (Qs. 29: 69), perubahan keadaan (Qs. 13: 11), kesadaran baru untuk kembali kepada Allah Swt (Qs. 39: 54), sampai dengan keberhasilan spiritual (Qs. 87: 14).

Lailatul qadar adalah malam ketika alam berzikir dan manusia mendengar. Dalam keheningan penghambaan diri kepada Allah Swt, manusia tunduk menangkap sinyal-sinyal spiritual. Mereka melatih kepekaan batin dalam keheningan ber-taqarrub kepada Allah Swt. Di malam yang paling sunyi di bulan yang paling mulia, ada jiwa manusia yang berdiri di persimpangan itu, cukup kecil untuk tunduk, dan cukup besar untuk menerima. Inilah satu malam, seribu bulan. (*)

Reporter Ridwan Rustandi
Editor Aris Abdulsalam