Hari ini, Rabu (18/3/2026) petualangan mudik kakaretaan dimulai. Ya, bukan sekadar perpindahan dari satu Stasiun (Gedebage) ke Bandung, lanjut ke Pasar Senen, hingga berakhir di Tangerang, melainkan perjalanan asyik menembus ingatan, rasa, dan harapan yang pelan-pelan tersusun di atas (rel) waktu.
Betapa tidak, pagi yang masih dingin, basah, cebrek akibat guyuran hujan semalam, suara ayam kukuruyuk saling bersahutan milik tetangga. Berempat berangkat dari rumah pukul 05.00 WIB.

Perjalanan Rasa, Merawat Asa
Setelah pesen mobil aplikasi yang menunggu di Golden Sata Cibiru, seolah-olah menjadi pengantar awal sebelum benar-benar menyerahkan diri sepenuhnya pada perjalanan panjang bernama mudik.
Jalanan belum sepenuhnya ramai, tetapi bayangan macet jelang Lebaran sudah cukup menjadi alasan untuk memilih jalur kereta api.
Alasan pilihan kakaretaan ini bukan tanpa musabab. Pasalnya, ingin menghadirkan suasana baru, ada keinginan sederhana dari Aa Akil, anak kedua yang berusia 11 tahun. Baginya, kereta api bukan sekadar alat transportasi, melainkan pengalaman berharga.
Bocah kelas 5 ini kerap tak kuat perjalanan jauh dengan mobil yang sering diwarnai mabuk, muntah, dan kelelahan. Kehadiran rel dan gerbong menjadi jawaban atas kenyamanan bisa tidur pulas dan kegembiraan yang luar biasa.
Pukul 05.33 tiba di Stasiun Gedebage. Suasana pagi itu terasa seperti ruang tunggu kehidupan. Beragam orang-orang dengan tujuan berbeda, tapi satu arah yang sama untuk pulang. Kereta lokal yang membawa menuju Stasiun Bandung berangkat pukul 06.25 WIB.
Sambil menunggu, waktu diisi dengan musik dari aplikasi, dan Aa Akil tak henti bertanya, “Kapan berangkat?”
Satu pertanyaan sederhana yang sesungguhnya menyimpan antusiasme yang sulit disembunyikan dan diceritakan.

Perjalanan singkat sekitar 22 menit membawa segudang harapan tiba di Stasiun Bandung. Di sana, waktu terasa melambat. Menunggu keberangkatan menuju Stasiun Pasar Senen dengan Kereta Api Cikuray.
Di sela jeda itu, Aa Akil dan Kakang larut dalam aktivitas kecil yang sering luput dari perhatian orang dewasa, dengan asyik melihat iklan warna-warni, sambil tertawa ringan, dan menikmati detik demi detik tanpa beban.
Posisi duduk di Gerbong 2, kursi 5A, 5B, 6A, dan 6B. Ruang kecil yang untuk tiga-empat jam ke depan akan menjadi rumah singgah tempat percakapan, diam, dan renungan berkelindan.
Kereta berangkat pukul 08.04. Rel mulai berbunyi ritmis bak dzikir panjang yang mengiringi perjalanan.
Dari jendela, lanskap berganti perlahan, ada kota, hamparan sawah, pabrik, sampai perkampungan khas pinggiran rel kereta. Semuanya ibarat fragmen kehidupan yang disusun tanpa banyak bicara dan kata-kata.
Sepanjang perjalanan Aa Akil tidur lebih dahulu dengan pulas, disusul Kakang yang bangun lebih awal dari biasanya dan ikut makan sahur jam 03.00-an.
Alih-alih takut ditinggal mudik dan tidak ketemu Kaka Fia, anak pertama yang sudah pulang dari Pondok Al Kamil, tapi tidak ke Bandung langsung ke Neneknya di Gembor Tangerang.

Ngangon Nafsu, Kenali Diri
Saat asyik menulis selama perjalanan naik kereta api, tiba-tiba tulisan renyah dan bergizi hadir lewat (melintas) beranda medsos (facebook) dari Ki Guru, Dadan Rusmana, Dosen UIN Bandung yang berjudul Ngangon (Mengembala): Kurikulum Langit dari Universitas Padang Rumput.
Hari ini, kita mungkin tidak lagi memegang tongkat bambu dan menggiring domba di perbukitan. Namun, filosofi ngangon ini menemukan momentum puncaknya justru di hari-hari akhir bulan suci Ramadan.
Sadar atau tidak, selama sebulan penuh ini Allah sedang menyuruh kita menjadi penggembala. Apa yang kita gembalakan? Bukan ternak, melainkan hewan buas yang bersemayam di dalam diri kita sendiri: hawa nafsu.
Sejak terbit fajar hingga tenggelam matahari, kita memegang erat "tongkat gembala" berupa syariat puasa. Kita menahan lapar, dahaga, amarah, dan syahwat agar "ternak" nafsu kita tidak berlarian merusak kebun pahala.
"Puasa adalah perisai. Maka apabila salah seorang dari kalian sedang berpuasa, janganlah ia berkata kotor dan janganlah bertindak bodoh." (HR. Bukhari dan Muslim)
Sama seperti Mama Ciwedus yang ditempa 12 tahun untuk mencapai futuh, kita pun sedang menjalani riyadhah di madrasah Ramadan. Kita diajarkan tawadhu saat menahan lapar bersama si miskin, kita dilatih siyasah saat mengatur ritme ibadah, dan kita diberi ruang tafakur saat beri'tikaf di penghujung malam.
Kini, wangi kemenangan Idulfitri sudah mulai tercium. Namun, ujian sesungguhnya bagi seorang penggembala bukan saat kawanannya berada di dalam kandang karantina, melainkan apa yang terjadi setelahnya.
Setelah Ramadan pergi dan "tongkat" puasa wajib diletakkan, apakah nafsu yang sudah kita jinakkan sebulan ini akan kembali liar dan buas?
Mari kita gemakan kembali amanat luhur ini di dalam dada, "Setiap kalian adalah pemimpin (penggembala), dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang digembalakannya." (HR. Bukhari & Muslim)
Untuk menggapai langit kemenangan, kadang kita harus berani merendah ke bumi, bersabar menuntun jiwa kita sendiri agar tak tersesat dari jalan-Nya. Selamat merampungkan tugas ngangon di sisa Ramadan ini. Semoga kelak kita kembali menemu fitrah, seutuhnya takluk pada Sang Maha Pencipta.
Laku ngangon adalah mujahadah kita di alam zahir. Menahan lapar dan dahaga puasa adalah mujahadah kita di bulan Ramadan. Dan bagi mereka yang telaten menjadi penggembala bagi nafsunya sendiri, Allah telah menyiapkan hadiah terindah di alam batinnya. Musyahadah, sebuah futuh di mana hijab-hijab duniawi disingkapkan, dan jiwa kembali pulang merengkuh rida Tuhannya.

Pancaran sinar pagi menembus jendela kereta yang semakin menghangatkan suasana. Aa Akil tambah pulas tidur alakadarnya yang membuat morongkol. Jaket tebal bulu angsa terus menemani perjalanan kakaretaan ini.
Kereta Cikuray melintasi rute panjang, dari Garut, Cibatu, Leles, Kiaracondong, Bandung, Cimahi, Purwakarta, Karawang, Bekasi, hingga akhirnya tiba di Pasar Senen.
Setiap stasiun menjadi pertanda titik singgah. Tiap nama memiliki segudang cerita. Dari pemberhentian yang ramai jadi bagian jeda untuk mengingat ihwal perjalanan ini bukan hanya tentang tujuan, melainkan soal proses pulang, kembali bertemu saudara, handai taulan di momen tahunan itu sendiri.
Saat berada di Stasiun Bekasi pukul 11.08, istri memanggil, “Bah, siap-siap… bangunkan Aa Akil.”
Jawabaku, "Muhun," sambil bertanya, “Sanes masih lami ka Senen?”
Ternyata akan turun di Jatinegara, keputusan kecil yang mengubah arah langkah berikutnya, sebab jika ke Senen nanti balik lagi.
Pukul 11.23 tiba di Jatinegara. Perjalanan belum usai. Mari melanjutkan kakaretaan dengan KRL Commuter Line menuju Duri, sempat bolak-balik mencari arah, seperti hidup yang kadang menguji kesabaran atas ketidakpastian yang harus dihadapi, dinikmati, dijalani dan disyukuri.
Dari stasiun Duri, pukul 12.40, berangkat untuk melanjutkan perjalanan menuju Stasiun Tangerang. Sambil menunggu, Aa Akil dan Kakang mengamati ikan-ikan di sekitar Stasiun, salah satu hiburan sederhana yang mengajarkan soal kebahagiaan sering hadir dari aktivitas dan pertemuan kecil.

Pukul 13.09 tiba di Stasiun Tangerang dan beristirahat sejenak atas penatnya roda kehidupan dan drama mudik tahunan. Kakang yang dari tadi lapar (ingin ngagodin) dengan membeli roti.
Tepat pukul 13.36, setelah perut terisi, perjalanan dilanjutkan dengan mobil aplikasi menuju Gembor, titik akhir dari rangkaian panjang kakaretaan hari ini.
Saat tiba di rumah Nenek yang disambut oleh Kaka Fia, anak pertama tampak raut wajah bahagia ketika bertemu keluarga kecil.
Sesungguhnya, kakaretaan sambil ngabeubeurang yang sampai bukan hanya raga. Ada rasa syukur, kebersamaan, dan kesadaran yang ikut tiba mengiringi perjalanan. Ihwal mudik bukan sekadar perpindahan tempat. Justru perjalanan batin yang berusaha untuk menghadirkan kembali (waktu asali) pada asal, keluarga, kenangan, dan diri sendiri meraih kebahagiaan dan kemenangan hakiki.
Ingat, di atas rel, kita belajar soal hidup, seperti kereta, akan terus berjalan. Kadang cepat, melambat. Sesekali berhenti sejenak untuk memberi jeda waktu memahami arah biar terarah dan mendapatkan berkah.
Ya selama kita tahu ke mana hendak pulang, bak perjalanan, dengan segala lika-liku kehidupannya akan selalu bersandar pada yang maha kuasa untuk menemukan makna dan keabadian sejati. (*)