Ayo Netizen

Idulfitri sebagai Komunikasi Hati

Oleh: Aldin Aldama Kamis 19 Mar 2026, 20:00 WIB
Ribuan umat muslim melaksanakan shalat Idul Fitri 1446 H di Lapangan Gasibu, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Senin 31 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)

Setiap datangnya idul Fitri, kita selalu diingatkan untuk merapatkan kembali hubungan, memperbaiki jarak yang sempat terbentuk, dan menyapa mereka yang mungkin lama tidak kita temui. Namun, tradisi hangat itu kini bersinggungan dengan budaya komunikasi yang serba cepat dan penuh distraksi. Ditengah kehidupan yang dipenuhi suara digital, muncul pertanyaan: bagaimana menjaga ketulusan dalam pesan yang kita sampaikan?

Pakar komunikasi Joseph DeVito menjelaskan bahwa inti dari interaksi manusia adalah "kehadiran emosional'. Pesan akan terasa bermakna jika pengirimnya benar-benar hadir secara batin. Tetapi hari ini, kehadiran itu sering tergantikan oleh pesan instan. Banyak ucapan Idul Fitri dikirim lewat template, stiker, atau broadcast massal. Peneliti Stanford, Clifford Nass, bahkan mengingatkan bahwa komunikasi yang terlalu otomatis membuat pesan terasa kurang tulus. Tak heran jika ucapan "mohon maaf lahir batin" yang dikirim ke ratusan orang sekaligus tidak lagi punya kekuatan emosional seperti dulu.

Pemudik sepeda motor melintasi jalur utama di Kota Bandung dengan membawa barang bawaan saat mudik Lebaran. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)

Fenomena ini bagian dari apa yang dikenal sebgai digital noise, kebisingan informasi yang membuat kita sulit merasakan makna percakapan yang sejati. Sherry Turkle dalam bukunya Reclaiming Conversation menyebut bahwa teknologi menciptakan "kedekatan palsu', artinya kita terlihat ramai berkomunikasi, tetapi sesungguhnya miskin percakapan yang mendalam. Aktivitas posting foto lebaran atau membanjiri media sosial dengan ucapan sering membuat kita sibuk tampil, bukan hadir.

Padahal jika menggunakan kacamata James Carey, Idul Fitri adalah sebuah "ritual komunikasi' yaitu bukan sekadar mengirim pesan, tetapi membangun kebersamaan, menghangatkan hubungan, dan memulihkan rasa terhubung sebagai satu komunitas. Tradisi saling memaafkan, mudik, dan halal bihalal mengandung unsur emosional yang tidak bisa tergantikan oleh interaksi digital.

Baca Juga: Mudik dan Kelanjutan Ramadan: Menguji Ketakwaan di Jalan Kehidupan

Tentu teknologi tetap punya peran penting yang mempermudah kita menyapa orang yang jauh. Tapi yang perlu dijaga adalah kualitas pesan. Satu ucapan yang personal sering lebih berarti dibandingkan ratusan pesan seragam. Sebuah telepon singkat kadang lebih mengena dibandingkan stiker yang dikirim sekadarnya.

Idul Fitri sesungguhnya mengingatkan kita bahwa komunikasi paling kuat bukanlah yabg tercepat, tetapi yang paling tulus. Di tengah riuhnya dunia digital, Lebaran menjadi kesempatan untuk kembali pada komunikas yang memanusiakan, dimana komunikasi yang menghadirkan empati, kedektan, dan rasa.

Pada akhirnya, teknologi hanya mnghubungkan perangkat. Yang benar-benar menghubungkan manusia adalah hati. Taqabbalallahu minna wa minkum. Selamat Idul Fitri. Mohon Maaf Lahir Batin. (*)

Reporter Aldin Aldama
Editor Aris Abdulsalam