Ayo Netizen

Beda Hari Satu Kemenangan: Menghargai Landasan Ilmu di Balik Penentuan Hari Raya

Oleh: Nenah Haryati Senin 23 Mar 2026, 19:08 WIB
Salat Idulfitri di Balai Kota Bandung Berlangsung Khidmat, Jadi Ajang Silaturahmi Warga. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Muslim Yanuar)

Di sela-sela obrolan santai sambil menikmati kue nastar bersama keluarga, nggak jarang obrolan kita bergeser ke topik yang cukup klasik: "Kenapa ya Lebaran tahun ini kok beda lagi?" Pertanyaan itu memang sudah jadi langganan setiap tahun, seolah-olah sudah jadi bagian dari tradisi di meja makan kita. Bahkan, rasa penasaran itu biasanya sudah muncul beberapa hari sebelum takbiran berkumandang.

Penentuan awal bulan ini bukan soal siapa yang paling benar atau siapa yang keliru. Di satu sisi, ada teman-teman kita yang berpegang teguh pada metode Rukyatul Hilal—yaitu cara yang sangat menjaga tradisi dengan "mengintip" langsung keberadaan bulan sabit muda di ufuk.

Di sisi lain, ada juga yang lebih percaya pada Metode Hisab, yang mengandalkan hitungan astronomi super akurat untuk memprediksi posisi bulan secara matematis. Keduanya bukan cara yang asal-asalan. Metode Rukyat punya dasar sejarah yang kuat, sementara Hisab punya akurasi data yang luar biasa. Para ulama yang memegang teguh salah satu metode ini pun sudah melakukan kajian yang sangat dalam.

Seni Menghargai "Cara Tracking" Ulama

Ribuan umat muslim melaksanakan shalat Idul Fitri 1446 H di Lapangan Gasibu, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Senin 31 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)

Perbedaan tanggal 1 Syawal seharusnya nggak kita lihat sebagai perpecahan. Kalau para ahli ilmu saja bisa saling menghargai cara tracking masing-masing, masa kita yang tinggal terima hasilnya malah sibuk berdebat? Menghargai landasan ilmu di balik penentuan hari raya adalah bentuk kedewasaan kita dalam beragama.

Lebaran itu bukan soal menang-menangan tanggal di kalender, tapi soal kemenangan hati kita setelah sebulan penuh "war" melawan hawa nafsu. Mau hari Sabtu atau Minggu, tujuannya satu: merayakan rasa syukur kepada Sang Pencipta.

Perbedaan waktu merayakan bukan alasan untuk membuat jarak, justru inilah momen paling pas untuk menunjukkan toleransi dan rasa saling menghargai. Inilah hari untuk saling memaafkan. Memang, banyak yang menganggap Lebaran hanya sekadar formalitas tahunan—yang kalau dasarnya sulit memaafkan, ya akan tetap terasa sulit.

Baca Juga: Setiap Habis Ramadhan

Lebaran bukan hanya diisi seremoni atau bagi-bagi amplop. Ini adalah satu langkah besar untuk menjernihkan kembali hati kita. Jika setelah ini masih ada yang memilih untuk tetap menjaga jarak atau tidak bertegur sapa, itu kembali ke pilihan masing-masing. Namun, bukankah sayang jika kemenangan ini dilewati tanpa kedamaian batin?

Lalu, siapa orang pertama yang harus kita kasih ucapan terima kasih dan minta maaf? Jawabannya bukan orang lain, tapi diri sendiri. Kita perlu berterima kasih karena diri ini sudah mau berjuang, bertahan, dan berusaha jadi versi lebih baik selama sebulan penuh.

Mari kita nikmati kemenangan ini dengan hati yang lapang. Karena di balik metode penentuan hari raya, tetap ada satu kebahagiaan yang kita tuju bersama. (*)

Reporter Nenah Haryati
Editor Aris Abdulsalam