"Biarpun di atas kuburan, tak ada maut bagi cinta".
Entah mengapa, sepotong baris puisi karya W.S. Rendra itu selalu muncul di relung hati ketika saya melakukan nyekar ke makam orang tua dan leluhur di kampung halaman pada saat lebaran.
Meskipun diatas kuburan terasa bahwa cinta orang tua tidak pernah mati. Namun terus bersemi diantara rasa rindu yang membasahi kalbu. Rindu kepada orang tua dan sanak saudara yang telah mendahului berpulang kehadirat Ilahi.
Nyekar adalah tradisi ziarah kubur dengan mengunjungi, membersihkan makam, menaburkan bunga (sekar), serta mendoakan arwah leluhur atau keluarga yang telah wafat. Tradisi ini umumnya dilakukan menjelang Ramadan, Idul Fitri, atau momen penting lainnya sebagai bentuk kasih sayang, berbakti, penghormatan, dan pengingat akan kematian.
Bagi penulis, nyekar juga merupakan saat yang tepat untuk merenungi kehidupan dan mawas diri. Serta mengingat petuah dan ajaran orang tua dan leluhur kita. Petuah Ibu yang tak pernah lekang oleh waktu selalu

Bakul Kembang Telon
Kurang afdol jika saat lebaran tidak nyekar menaburkan kembang telon di pusara orang tua. Lalu berdoa menurut keyakinan kita.
Sebelum masuk kawasan kuburan, Nduk (sebutan untuk anak perempuan) membeli beberapa bungkus kembang telon.
Mata ini terpana melihat bakul (penjual) kembang telon yang berjajar di pinggir jalan menuju kuburan.
Saya heran, bakul kembang yang sudah berlangsung sejak saya masih kecil hingga sekarang masih tetap eksis dengan lapak yang sama dengan masa lalu. Bakul kembang telon merupakan usaha turun temurun yang memiliki segmen pasar di dua alam.
Kembang telon digunakan untuk prosesi nyekar di kuburan. Atau juga untuk kirim sesaji kepada arwah leluhur. Biasanya kembang telon itu dimasukkan dalam mangkuk yang berisi air jernih. Lalu disampingnya ada segelas kopi tubruk. Dalam tradisi di tempat kelahiran saya, kembang telon merupakan kumpulan bunga yang biasanya terdiri tiga macam bunga. Bisa menggunakan bunga Mawar putih, Mawar merah, dan sekuntum bunga Kantil. Bisa juga Mawar, Melati, Kenanga. Atau Mawar, Melati, Kantil. Tergantung musimnya bunga.
kulihat wajah Mbok bakul kembang tampak serius memilihkan kembang itu. Masih seperti dulu, ada bau wangi kuburan, hanya saja bedanya si Mbok yang ini di mulutnya tidak terlihat susur atau nginang seperti yang kulihat saat saya masih kecil dulu.

Kembang Turi Putih Melambai
Kawasan makam orang tua berada di tengah sawah. Di pematang sawah terlihat pohon turi yang sedang berbunga. Ternyata hidup ini rasanya pahit-pahit sedap, seperti rasanya sayur kembang turi yang saat dulu sering dimasak oleh ibu.
Sayur kembang turi itu biasanya dijadikan pecel atau sayur asem. Pecel kembang turi disertai dengan mentimun krai yang direbus untuk sayur bendoyo. Sambal pecel khas desa sangat khas, karena kacangnya disangrai lalu ditumbuk dengan lumpang dan alu. Satu lagi komponen yang tidak boleh tertinggal yakni kerupuk bawang berwarna putih yang rasanya gurih. Kerupuk yang lumer di lidah jika tersiram sambal itu berbahan dasar singkong. Proses pembuatannya disangrai dengan pasir sungai Brantas yang memiliki butiran yang khas dan sangat baik untuk media heat transfer dalam proses sangrai.
Menikmati pecel kembang turi sangat baik untuk mengenang waktu kehidupan dan membasahi rindu terhadap kerabat dan kampung halaman. Itu semua bisa menyehatkan jiwa dan raga. Kembang turi yang penuh filosofi arti kehidupan mengingatkan kita terhadap perjalanan sang waktu yang pernah kita lalui. Perjalanan kehidupan yang terasa manis,pahit,gurih,asam, semua itu sekedar “nglakoni” takdir yang telah digariskan oleh Yang Maha Kuasa.
Menu pecel kembang turi biasanya terdiri dari kerupuk singkong bawang, sayur kembang turi, sayur bendoyo (timun krai), sayur kecambah, kemangi, dan lain-lain. Kemudian disiram dengan sambal pecel. Sayur bendoyo membuat perut atau alat pencernaan kita terasa adem. Kurang afdol jika menu pecel kembang turi tidak disertai dengan bendoyo.
Sifat buah ketimun krai yang lebih besar dan lebih keras dibandingkan dengan buah ketimun lalap mesti direbus dahulu sehingga menjadi lembek namun teksturnya tetap kompak ( tidak hancur). Kerupuk singkong bawang yang berwarna putih, atau orang desa suka menyebutnya kerupuk upil sangat baik untuk memenuhi karbohidrat bagi mereka yang tengah melakukan proses penurunan berat badan.
Menikmati pecel kembang turi biasanya disertai dengan minuman rujak kambang. Yakni minuman rujak yang berbahan aneka buah endemik atau buah lokal yang sedang musimnya. Menikmati pecel kembang turi angan kita dibawa terbang oleh lagu Turi Putih. Lagu tradisional yang penuh makna dan pitutur luhur bahwa manusia mesti ingat akan kematian sehingga perlu berbuat kebaikan terus menerus.
Pitutur Ibu
Dalam keheningan makam, terngiang pitutur Ibuku agar aku mengarungi kehidupan ini bisa mengendalikan hawa nafsu. Menuju kehidupan lebih baik di dunia maupun akhirat.
Masih terngiang, pelajaran tentang nafsu oleh Ibuku. Bahwa Aluamah adalah nafsu yang menimbulkan keinginan makan dan minum berlebihan. Pengabdi nafsu aluamah tandanya gemar makan-minum yang enak-enak dan tidak pernah puas.
Selain aluamah, ada nafsu amarah dan supiyah. Amarah adalah keinginan selalu marah dan mudah tersinggung, sedangkan supiah adalah nafsu cinta duniawi yang juga menimbulkan berahi tanpa batas kepuasan.
Tiga nafsu itu menurut Ibuku mesti dikendalikan, sepanjang hayatku.Masih ada satu lagi, lanjutnya, yakni mutmainah.
Nafsu ini mengandung kesabaran dan menimbulkan keinginan membantu orang lain. Nafsu ini yang mesti terus dikembangkan, tetapi tetap dalam kendali. Suatu saat Ibuku bercerita, pada diri anak-anaknya dinaungi oleh sang Khodam. Penjaga laku kebaikan dan budi pekerti yang welas asih.
Sang Khodam adalah Sedulur Papat Lima Pancer yang selalu bersatu dalam jiwa dan raga kita.
Arti sedulur papat limo pancer menurut Ibuku,
Pertama adalah Kakang Sawah, yakni air ketuban yang membantu manusia dilahirkan ke dunia. Karena air ketuban keluar pertama kali, masyarakat Jawa menyebutnya Kakang, yang berarti Kakak.
Kedua adalah Adi ari-ari atau plasenta. Yakni ari-ari yang keluar setelah bayi dilahirkan dan disebut Adi, yang berarti adik dalam bahasa Indonesia.
Ketiga adalah Getih atau darah, yang menjadi zat utama bagi ibu dan bayi. Saat berada dalam kandungan, bayi dilindungi dan dihidupi oleh getih.
Keempat adalah Puser yakni tali plasenta yang menghubungkan ibu dan bayi.
Tali pusar ini adalah jembatan kehidupan yang menyediakan nutrisi yang penting bagi kelangsungan hidup bayi saat di dalam kandungan.
Dan yang kelima adalah Pancer, juga disebut sebagai raga diri kita. Raga yang terdiri dari jaringan tubuh, otak, sistem saraf. otot dan panca Indera kita.
Sedulur Papat Lima Pancer, Itulah Khodam aku dan kita semua. (*)