Ayo Netizen

Lebaran Telah Usai, Keselamatan Kerja Industri Distribusi BBM Tidak Boleh Kendor

Oleh: Arif Minardi Jumat 27 Mar 2026, 16:27 WIB
Ilustrasi kasus kebakaran akibat kecelakaan kerja pada industri distribusi BBM (Sumber: Meta | Foto: Arif Minardi)

Libur Panjang Lebaran 2026 telah usia. Semua pihak dituntut untuk menjaga semangat dan kewaspadaan terhadap keselamatan dan kesehataan kerja yang prima. Tidak boleh ada yang kendor dalam unit kerja. Apalagi alam lingkungan semakin kurang bersahabat dengan keberadaan infrastruktur industri, seperti halnya penyimpanan BBM.

Segenap pekerja perlu mewujudkan keselamatan kerja pada konstruksi dan komponen tangki depo BBM agar tidak menjadi rentan terhadap proses kimia yang bisa merusak seperti korosi, deformasi hingga keretakan yang bisa berakibat fatal. Oleh sebab itu pekerjaan inspeksi di lapangan perlu digiatkan untuk mencegah malapetaka.

Mewujudkan keselamatan kerja di industri distribusi BBM memerlukan pendekatan terintegrasi. Antara lain kepatuhan penggunaan alat pelindung diri ( APD ), sertifikasi kompetensi pekerja, serta standar tinggi pemeliharaan kendaraan dan operasional. Implementasi budaya keselamatan yang ketat, termasuk test gas, permit to work (PTW), dan safety driving, penting untuk mencegah kecelakaan fatal.

Dengan komitmen tertinggi pada standar keselamatan seperti yang ditunjukkan oleh capaian jam kerja aman maka risiko industri dapat dikelola untuk melindungi pekerja dan lingkungan alam dan sosial.

Ilustrasi inspeksi dan pengamanan instalasi vital oleh teknisi (Sumber: Meta | Foto: Arif Minardi)

Pengamanan Instalasi Vital

Di Kota Bandung industri distribusi BBM yang menonjol adalah PT Pertamina Patra Niaga yang mengelola Fuel Terminal (FT) Ujung Berung dan FT Padalarang. Keduanya menjamin pasokan agar aman untuk wilayah Bandung Raya dan sekitarnya. Distribusi mencakup BBM subsidi dan non-subsidi (Pertalite, Pertamax, Solar, Dexlite) untuk kebutuhan industri serta ritel, dengan dukungan pihak ketiga untuk penyaluran solar industri.

Perlu kewaspadaan dan kesiapan agar bisa terhindarkan dari berbagai bentuk risiko yang berakibat fatal. Pekerja perlu lebih disiplin untuk mencegah masalah kebakaran dan kebocoran karena depo BBM. dan industri kilang

Dari pada terlanjur berakibat fatal, lebih baik bekerja keras dan teliti untuk mengamankan seluruh instalasi vital. Perlu upaya serius untuk meminimalkan kerugian material dan pencegahan kerusakan lingkungan. Sesuai amanat Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian, disebutkan bahwa perusahaan industri BBM dan bahan kimia wajib menjamin keamanan dan keselamatan alat, proses, hasil produksi, penyimpanan, serta pengangkutan atau transportasi.

Menjaga keamanan, kesehatan, dan keselamatan kerja industri distribusi BBM dan kilang merupakan keniscayaan.   Apalagi keselamatan kerja menjadi agenda penting organisasi buruh sedunia (ILO). Organisasi dunia tersebut merekomendasikan agar keselamatan kerja ditaati oleh semua pihak. Cuaca ekstrim juga menyebabkan kondisi fisik bangunan kilang beserta peralatan mengalami gangguan serius. Namun faktor alam ini hendaknya jangan dijadikan kambing hitam begitu saja. Karena faktor kelalaian manusia lebih besar pengaruhnya.

Proses distribusi depo BBM dan produksi kilang berpotensi menimbulkan bahaya bagi kesehatan pekerja dan keselamatan masyarakat serta mengancam lingkungan hidup. Kita semua masih ingat, pelajaran penting yang bisa dipetik dari kasus kebakaran Depo Plumpang. Kasus ini mengingatkan kita perlunya menegakkan peraturan yang berkaitan dengan lingkungan hidup dan perencanaan industri.

Selain itu adalah pentingnya standarisasi, baik dalam perlakuan bahan baku industri, pengadaan alat pengamanan, maupun dari hasil limbah yang dihasilkan agar tidak mengganggu kualitas lingkungan. Kemudian perlu dilakukan pelatihan yang terus menerus bagi para pekerja terutama yang menggunakan peralatan elektronik dan proses pengelasan.

Media telah mengabarkan beberapa kali kasus kebakaran terjadi di kilang minyak (Refinery Unit) milik PT Pertamina, Perlu ekstra kewaspadaan agar kasus kebakaran tersebut tidak terjadi lagi. Pada hakekatnya kasus kebakaran merupakan kecelakaan kerja. Akar masalah penyebab kebakaran di kilang dan depo sangat kompleks dan bukan karena faktor tunggal. Beberapa faktor selama ini telah terakumulasi dan berlarut-larut tanpa solusi. Faktor tersebut antara lain, pertama sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja ( SMK3) yang melemah. Kedua masalah sistem perawatan dan monitoring instalasi tangki timbun  BBM yang kondisinya sudah tua dan termakan korosi akibat cuaca ekstrim. Ketiga faktor gangguan alam seperti sambaran petir karena terganggunya sistem peralatan anti petir. Keempat faktor tata ruang di sekitar kawasan kilang atau depo yang semakin padat penduduk, bahkan permukiman penduduk semakin menghimpit pagar kawasan depo. Hal ini sangat rawan kepada semua pihak terkait dengan mitigasi bencana kebakaran.

Faktor-faktor kerawanan yang disebabkan kegagalan sistem pengamanan instalasi tangki timbun perlu diatasi. Biasanya kebakaran dipicu oleh tekanan berlebih dari dalam tangki yang tidak mampu diantisipasi oleh sistem pengamanan tangki.

Kronologi kebakaran Depo BBM biasanya diawali dengan tercium bau BBM yang menyengat sebelum terjadi kebakaran hebat.  Kejadian kebocoran di instalasi pipa tangki timbun tidak bisa diatasi oleh sistem pengamanan tangki.  Yakni pengamanan oleh sprinkler, penyemprot air ke seluruh dinding bagian luar tangki dan instalasi pipa disekitarnya jika dalam keadaan darurat.  Kemudian ada pula sistem saluran foam, yakni penyemprot busa jika terjadi kebakaran.

Keselamatan kerja merupakan aspek yang krusial, karena kondisi infrastruktur dan instalasi kilang yang sarat dengan masalah perawatan dan komponen yang bermasalah. Perlu audit seluruh peralatan kilang dan depo terkait sering terjadi insiden kebakaran hebat. Proses audit itu dilakukan untuk meningkatkan standar keamanan peralatan, mendeteksi adanya peralatan yang substandar, termasuk untuk meningkatkan kualifikasi tingkat keselamatan kerja karyawan.

Baca Juga: Lebaran Ketupat: Melacak Akar Historis dari Era Jawa Kuno hingga Syiar Sunan Kalijaga

Selama ini kejadian kecelakaan kerja juga sering terjadi saat aktivitas pengosongan tangki untuk keperluan perawatan.  Proses mengosongkan sisa produk premium di dasar tangki yang sudah tidak dapat dipompakan lagi dengan pompa produk. Karena itu pengosongan sisa produk premium dilanjutkan dengan menggunakan pompa portable yang dihubungkan ke pipa pengeluaran.

Sesuai prosedur kerja tangki, maka dilakukan pendinginan dengan tirai air sekaligus untuk mengisolasi uap premium yang keluar dari tangki. Dalam prosedur itu sangat riskan dengan kasus kebakaran dalam tangki. Potensi bahaya kebakaran dan ledakan pada instalasi pipa dan tangki timbun BBM perlu diaudit dan diperbaiki prosedurnya sesuai dengan metode antara lain Dow’s Fire And Explosion.

Dengan audit juga bisa diketahui prediksi radius paparan dan dampak panas akibat kebakaran terhadap keselamatan pekerja. Radius paparan yang dimaksud adalah radius atau jarak dimana terdapat  kemungkinan pekerja atau unit proses lain terkena paparan langsung dari api ataupun ledakan. Menurut The International Association of Oil and Gas Producers pekerja atau orang yang berada pada radius tersebut, kemungkinan dapat terkena efek paparan langsung oleh api, atau terkena efek ledakan udara. Jika sedang berada pada jarak tersebut pekerja harus memenuhi prosedur penyelamatan dengan peralatan khusus. (*)

Reporter Arif Minardi
Editor Aris Abdulsalam