Kawasan di sekitar Telkom University kerap kali dihadapkan pada masalah tahunan yang belum sepenuhnya terselesaikan: banjir dan penurunan kualitas ekosistem sungai. Menyadari bahwa salah satu akar permasalahannya adalah tumpukan sampah rumah tangga yang menyumbat aliran air dan mencemari sungai,
sekelompok mahasiswa S1 Sistem Informasi Telkom University (Kelompok D) meluncurkan solusi inovatif berbasis teknologi dan lingkungan. Melalui proyek bertajuk "IMPLEMENTASI PENGEMBANGAN WEBSITE EDUKASI INOVASI ECOENZYME UNTUK MENINGKATKATKAN KESADARAN PENGELOLAAN SAMPAH DI GANG DESA", para mahasiswa ini mengajak warga di kawasan Gang Desa, RT.03, Desa Lengkong, Kecamatan Bojongsoang untuk turun tangan langsung memulihkan ekosistem sungai. Inisiatif ini merupakan wujud nyata penerapan kolaborasi Mata Kuliah Bahasa Indonesia, Kewarganegaraan, dan Pancasila.
Aksi Ganda: Kurangi Sampah Organik, Jernihkan Sungai Proyek ini tidak hanya berfokus pada pengurangan volume sampah sisa makanan (food waste) yang kerap berakhir di tempat pembuangan akhir atau membusuk di saluran air.
Lebih dari itu, cairan ecoenzyme hasil fermentasi sampah organik tersebut memiliki agen bio-katalis yang terbukti ampuh memecah polutan, mengurangi bau tidak sedap, dan memulihkan ekosistem air sungai.
"Krisis ekosistem sungai dan banjir di sekitar kampus kita tidak bisa hanya mengandalkan pengerukan fisik. Kita butuh solusi yang menyasar akar masalah di rumah tangga," tegas Viyendra, Ketua Tim Kelompok D. "Website Edukasi Ecoenzyme ini kami rancang sebagai senjata digital warga. Dengan mengubah sisa dapur menjadi ecoenzyme, warga tidak hanya mengurangi tumpukan sampah yang menyumbat air, tetapi juga memproduksi cairan penjernih alami yang nantinya bisa kita tuangkan bersama-sama untuk memulihkan sungai di Bojongsoang."Menjembatani Semangat Warga dengan Teknologi
Menyadari pentingnya aksesibilitas informasi, Kelompok D membangun platform website edukasi yang dirancang sangat user-friendly untuk mengatasi kesenjangan literasi digital.
"Kami ingin mengubah stigma bahwa aksi menjaga lingkungan itu sulit," ujar Langgeng Yongi Surya, perwakilan Kelompok D. "Melalui website ini, warga Desa Lengkong memiliki panduan digital di genggaman mereka untuk menyulap kulit buah menjadi pahlawan lingkungan."

Website edukasi ini memuat fitur-fitur taktis yang mendukung gerakan pemulihan sungai:
● Video Tutorial Interaktif: Panduan visual langkah demi langkah pembuatan ecoenzyme dengan rumus standar 1:3:10 (gula, sisa organik, air), dari proses awal hingga panen.
● Modul Ekosistem Air: Edukasi khusus mengenai cara kerja ecoenzyme dalam menjernihkan air, mengurai lumpur sungai, dan mengembalikan habitat mikroorganisme baik di perairan.
● Galeri Aksi Warga: Ruang pamer digital untuk mendokumentasikan hasil panen ecoenzyme warga dan momen penuangan cairan tersebut ke aliran sungai sekitar.
Sinergi Menuju Pemukiman Tangguh Bencana Sebagai agen perubahan yang terjun ke akar rumput, implementasi digital ini diperkuat dengan pendampingan langsung. Mahasiswa mentransfer pengetahuan kepada kader lingkungan, ibu-ibu PKK, dan Karang Taruna agar mereka dapat memandu warga lainnya. Gerakan ini semakin komprehensif berkat kolaborasi erat dengan Kelompok C, yang fokus mengunci sampah anorganik (plastik) penyebab tersumbatnya drainase melalui inovasi Ecobrick. Sinergi ini menghadirkan solusi dari hulu ke hilir: sampah plastik dicegah masuk ke sungai dengan Ecobrick, sementara sampah organik diubah menjadi penjernih sungai melalui Ecoenzyme.

Langkah strategis yang mengintegrasikan teknologi informasi dan pelestarian lingkungan ini mendapat dukungan penuh dari Dosen Pembimbing Lapangan, Indra Nugrahayu Taufik dan Dr. Runik Machfiroh, S.Pd., M.Pd.
"Sebagai mahasiswa Sistem Informasi, kami sadar bahwa teknologi terbaik adalah teknologi yang dampaknya bisa langsung dirasakan oleh masyarakat," tutup Viyendra. "Proyek ini bukan sekadar pemenuhan tugas kuliah, melainkan wujud pengabdian kami. Kami berharap warga Desa Lengkong tidak hanya menjadi penonton, tapi menjadi aktor utama yang berdaya dalam memutus mata rantai masalah sampah dan menyelamatkan ekosistem sungai di sekitar lingkungan kampus kita."
Inisiatif mahasiswa Telkom University ini menjadi bukti nyata bahwa inovasi digital di tingkat desa dapat berkontribusi langsung pada pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Khususnya pada poin 6 (Air Bersih dan Sanitasi Layak), poin 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), serta poin 13 (Penanganan Perubahan Iklim). (*)