Bandung adalah salah satu target kaum urban baik itu di era modern seperti sekarang ini, ataupun di masa lalu. Bandung dahulu adalah sebuah kampung kecil yang perkembangannya dimulai dari selatan. Namun, demi perkembangannya maka peradaban pun dibuka kembali di kawasan utara, demi kondisi yang lebih baik.
Bandung dalam kacamata saya seorang warganya, adalah sebuah kota yang terlalu berat menyandang tempat. Dahulu, Bandung hanyalah sebuah kabupaten yang sedang menggeliat yang lahir di 25 September 1810. Bandung pun resmi menjadi ibu kota Karesidenan Priangan pada 17 Agustus 1864. Lalu pada 1 April 1906 Bandung menjadi Gemeente atau Kotapraja. Bahkan, Bandung pernah menjadi negara Pasundan pada 24 April 1948, namun dua tahun kemudian di 8 Maret 1950 kembali ke Republik Indonesia. Dan, Bandung pun menjadi ibu kota Asia-Afrika, semenjak diadakan Konferensi Asia Afrika di Bandung pada 18-24 April 1955.
Begitu banyak beban yang ditopang kota ini, hingga tak heran tempat yang kecil ini pun harus membesar, menggeser wilayah lain terutama di utaranya, yaitu Lembang. Dan, sudah otomatis momen ini adalah sebuah magnet besar bagi kedatangan para kaum urban.
Pada awalnya batas kota Bandung sebelum menjadi kotapraja adalah hanya hingga kawasan Cicendo/pabrik kina. hingga warga-warga lama selalu memiliki sudut pandang wilayah di luar Cicendo adalah kawasan luar kota atau Bandung coret.
Hingga pemerintah kolonial pada saat itu membangun pabrik pengolahan kina yang besar di sana, karena pada saat itu kawasan pabrik adalah kawasan luar kota. Selain pabrik pengolahan kina, terdapat pula pabrik pengalengan makanan terutama daging di utara Bandung (kawasan Ciwalk sekarang). pabrik permen Wybert (sekarang Rumah Mode), pabrik karung goni besar (sekarang Wisma TNI AU Stiabudi), pabrik selai skala besar (sekarang Borma Stiabudi), pabrik permen Davos (Stiabudi atas) dan pabrik cokelat Mavalda (sekarang kawasan komplek di jalan Eykman, dan surau pabriknya pada tahun 1934 menjadi masjid Cipaganti). Selain dibangun banyak kawasan pabrik, utara Bandung (luar kotanya) pun didirikan pemakaman Kebon Jahe (Kerkof Kebon Jahe) yang sekarang menjadi kawasan GOR Pajajaran.
Batas kota yang tepat berada di perempatan jalan Pajajaran, Cicendo dan Cihampelas bawah itu dahulu perempatan pertama di Bandung yang menggunakan lampu setop. Hal tersebut dilakukan karena apabila waktu masuk dan pulang karyawan pabrik kina, akan terjadi kepadatan, hingga memang diperlukan digunakan lampu setop di perempatan tersebut.
Dengan banyaknya pabrik-pabrik di utara Bandung sudah bisa dipastikan lonjakan kaum urban di Bandung pada masa itu, mereka berlomba untuk menjadi karyawan pabrik-pabrik tersebut guna kehidupan yang lebih menjanjikan.
Namun ketika Bandung telah menjadi kotapraja pada tahun 1906, maka luasan kota mulai ditambah. Yang awalnya batas kota itu di kawasan pabrik kina (pabrik kina ke atas disebut Lembangweg atau jalan raya Lembang), kini harus meluas hingga ke kawasan Stiabudi sekarang (patokannya adalah taman segitiga di depan Stiabudi Supermarket). Di taman itulah dahulu terdapat tugu yang menjadi ciri batas kota Bandung dan Lembang.
Kawasan-kawasan yang awalnya merupakan luar kota Bandung menjadi bagian dari kota Bandung, hingga mulailah bermunculan komplek perumahan di utara Bandung seperti kawasan Villa Park, kawasan jalan Pajajaran (jalan nama-nama wayang), Perumahan di Dago dan kawasan Cipaganti. lahan-lahan kosong pun semakin banyak yang mulai dibangun, hingga mulai dibangun banyak sekolah di utara Bandung.
Lembang yang telah mundur pada 1906, harus mundur untuk kedua kalinya ketika Bandung dijadikan Negara Pasundan pada 1948. Mundur beberapa kilometer terus ke arah utara hingga yang sekarang menjadi batas kota Bandung dan Lembang di jalan Stiabudi atas (utara Eldorado). Sehingga kawasan-kawasan yang tadinya luar kota Bandung menjadi bagian dari kota Bandung.
Dua kali mundur untuk Lembang dan dua kali maju dan berkembang untuk Bandung. Itulah yang saya catat dalam perjalanan riset sejarah saya tentang Lembang dan Bandung. Hal tersebut memberikan banyak sekali dampak, kawasan pabrik-pabrik di bagian luar kota utara Bandung pun kemudian banyak yang mulai berubah menjadi hunian, dan semakin padat hingga sekarang.

Informasi ini saya peroleh secara lisan. Ketika saya berhasil memperoleh dan mewawancarai berbagai narasumber yang hidup dalam dua masa mundurnya Lembang tersebut. bahkan saya menemukan seorang fotografer amatir tahun 1950-an yang saat 2017 saya temui di kediamannya di kawasan Stiabudi, Bandung. Ia pun menjadi saksi akan perluasan wilayah tersebut dan saya diperkenankan untuk memperoleh dokumentasi beliau tentang keadaan terminal angkutan kota arah Lembang yang masih berjajar di kawasan Stiabudi (kawasan Stiabudi Supermarket tahun 1950-an).
Selain informasi lisan, saya juga memperoleh informasi ini melalui buku Bapak Haryoto Kunto, sang kuncen Bandung yang berjudul “Balai Agung di Kota Bandung”. Yang terdapat sebuah lampiran peta perubahan wilayah kota Bandung 1906-1996 yang tersimpan antara halaman 8 dan 9.
Bisa dibayangkan wilayah yang meluas, adalah magnet bagi kedatangan kaum urban. Beban kota Bandung yang semakin berat di setiap tahunnya sungguh sangat terasa dan semakin terasa sekarang ini, hingga terdapat istilah dalam bahasa Sunda “Bandung Heurin Ku Tangtung” (Bandung sesak oleh orang yang berdiri/penuh sesak). (*)