Ayo Netizen

Reinventing Bandung Kota Diplomasi, Nyalakan Lagi Solidaritas Asia Afrika!

Oleh: Totok Siswantara Kamis 16 Apr 2026, 16:19 WIB
Ilustrasi diorama Konferensi Asia Afrika di Museum KAA Bandung (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)

Kondisi geopolitik global saat ini menunjukkan bahwa nilai dan semangat Konferensi Asia Afrika (KAA) masih relevan. Konferensi diadakan di kota Bandung pada tanggal 18-24 April 1955 merupakan momen bersejarah. Sejak saat itu Bandung bertransformasi menjadi pusat diplomasi internasional, atau sering disebut sebagai "Bandung Incorporated" dalam konteks kolaborasi antarnegara berkembang.

Pasca-KAA, Bandung memetik berkah sebagai kota konferensi internasional dan membentuk citra sebagai kota diplomasi dan konektivitas global. Konferensi melahirkan Dasasila Bandung, sebuah deklarasi mengenai prinsip-prinsip hubungan internasional, penghormatan hak asasi manusia, kedaulatan negara, dan kerja sama internasional.

KAA di Bandung menjadi kunci yang melahirkan Gerakan Non-Blok dan konsep Dunia Ketiga atau Selatan, sebagai respons terhadap Perang Dingin antara Barat dan Uni Soviet. Keberhasilan konferensi di Bandung ini menegaskan posisi penting Indonesia dalam diplomasi pascakolonial dan mengubah Bandung menjadi simbol perjuangan serta solidaritas negara-negara Asia-Afrika.

Penulis mengunjungi museum KAA di Bandung (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)

Urgensi Solidaritas Ekonomi Asia Afrika

KAA melahirkan solidaritas yang hebat diantara bangsa-bangsa di benua Asia dan Afrika. Pada saat itu buah dari solidaritas adalah terbebasnya banyak negara dari belenggu penjajahan. Setelah  penyelenggaraan KAA beberapa negara menyatakan kemerdekaannya.

Solidaritas KAA pada saat ini sebaiknya bertransformasi di bidang ekonomi. Kini bentuk solidaritas bangsa Asia Afrika yang relevan dan aktual perlu dirumuskan kembali. Karena eksploitasi dan penjajahan sejatinya masih ada. Tetapi dalam bentuk yang lain. Masih banyak bangsa di Asia Afrika terpaksa menjadi penyedia sumber daya alam atau bahan mentah semata. Hak dan kekayaan alam dikuras pihak asing tanpa ada proses nilai tambah yang bisa memakmurkan rakyat.

KAA juga telah mencuatkan diplomasi kuliner. Karena  dalam konferensi disuguhkan menu makanan untuk delegasi konferensi menonjolkan kuliner Nusantara, khususnya masakan Sunda dan Madura, sebagai bagian dari diplomasi meja makan. Hidangan utama yang disajikan meliputi sate dan soto Madura dari RM Madrawi, nasi timbel, aneka lalapan, sambal terasi, serta colenak alias tape panggang.

Presiden Soekarno secara khusus menjamu delegasi dengan sate dan soto ayam, sate dan gulai kambing, serta rawon sapi. Menjelang siang hari pada 18 April 1955, beberapa peserta diajak oleh  Presiden Soekarno makan siang di Rumah Makan Madrawi. Restoran itu berlokasi di Jalan Dalem Kaum, dekat Masjid Agung Bandung.

Pemilik rumah makan Madrawi, Fadli Badjuri, mengingat Presiden Mesir Gamal Abdel Nasser, Perdana Menteri India Jawaharlal Nehru, Perdana Menteri Burma (Myanmar) U Nu, dan putra mahkota Raja Arab Saudi saat itu, Faisal bin Abdul Aziz. Ada yang kejadian menarik dan lucu. Selain makanan yang dipesan, seperti biasa, di meja mereka disediakan air dalam mangkuk untuk cuci tangan alias kobokan. Di luar dugaan, Nehru dan Gamal meminum air untuk kobokan itu. Kepala pelayan pun sigap dan menjelaskan bahwa air itu bukan untuk diminum, melainkan untuk cuci tangan. Hal ini menimbulkan gelak tawa.

Saat ini perlu reinventing Bandung sebagai kota diplomasi yang mampu mendorong lahirnya kepemimpinan otentik di negara Asia Afrika untuk mengatasi eksploitasi gaya baru dan mencegah kolonialisme mencengkeram dunia. Perlu usaha untuk merumuskan dan menghasilkan kepemimpinan otentik yang lebih banyak lagi di Asia Afrika.

Kepemimpinan korporasi Asia Afrika

Reinventing Bandung sebagai kota diplomasi global perlu menekankan bahwa setiap diplomat, khususnya dari Indonesia harus mampu untuk mencari peluang perdagangan, investasi dan peluang kerjasama ekonomi lainnya. Pentingnya diplomat Indonesia mampu menjadi marketers bagi negaranya di luar negeri.

Perlu penguatan pemahaman terhadap aspek perdagangan internasional bagi setiap diplomat Indonesia agar menjadi marketers yang andal.

Selama ini data statistik mencatat bahwa volume perdagangan ekspor dan impor Indonesia dengan negara Asia dan Afrika baru mencapai belasan miliar US dollar  per tahun. Sementara itu, nilai ekspor Asia ke Afrika mencapai 26 % dari total ekspor Asia ke dunia, lebih besar dari ekspor Afrika ke Asia yang hanya 3 % dari ekspor mereka ke dunia. Melalui pelaksanaan AABS, diharapkan nilai perdagangan antara kedua kawasan tersebut dapat lebih ditingkatkan, baik dari segi kualitas maupun kuantitas.

Planet bumi saat ini sedang mengalami perubahan ekologi yang dramatis dan kapitalisme pasar global yang semakin disruptif dan mematikan. Kondisi diatas tentunya harus bisa diantisipasi oleh para CEO di Asia Afrika.

Kepemimpinan korporasi Asia Afrika juga masih terkendala oleh masalah konektivitas. Kendala tersebut juga dialami oleh Indonesia. Definisi konektivitas meliputi konektivitas fisik, institusi dan antar warga negara. Pada saat ini konektivitas bisa dianalogikan seperti pisau bermata dua bagi suatu bangsa. Disatu sisi sangat penting sebagai wahana untuk meningkatkan daya saing bangsa, namun disisi lain bisa dianalogikan mengundang liberalisasi jasa dan produk negara maju.

Peringatan KAA sebaiknya disertai dengan membenahi beberapa museum yang ada. Museum sebagai ikon peradaban dan kebudayaan sangat relevan menjadi objek kunjungan.

Pembenahan beberapa museum, terutama yang ada di kota Bandung harus segera dilakukan. Butuh  kreativitas dan inovatif dalam hal layout objek atau koleksi museum. Begitu juga membenahi sistem informasi koleksi yang dimiliki museum.

Eksistensi museum harus mampu menguatkan nilai-nilai koleksi yang tersimpan. Pentingnya mentransformasikan sistem pengelolaan dan SDM museum. Agar lebih adaptif dengan perkembangan zaman dan kompatibel dengan industri pariwisata global. Sistem pengelolaan museum harus bisa mengemas koleksi sehingga bisa mendongkrak segmentasi pasar, promosi serta nilai estetika dan ilmiahnya. Langkah transformasi yang penting disegerakan adalah menyangkut sistem pengelolaan museum yang berbasis digital dan teknologi virtual yang berkembang pada saat ini. (*)

Reporter Totok Siswantara
Editor Aris Abdulsalam