Embusan uap dari mata air panas yang terus membual di dalam wadah alami, seperti air yang mendidih di dalam sѐѐng, di dalam dandang di atas tungku. Dalam bayangan para orangtua yang memberi nama daerah ini, hamparan lahan di kaki gunung kapur itu dianalogikan sebagai tungku tanah. Nyala bara apinya dari panas yang merambat dari kedalaman bumi. Mataair panas yang membual di dalam dandang alami itu, persis seperti saat memasak nasi dengan sѐѐng. Rekaman situasi dapur saat menanak nasi dan kenampakan rona bumi itulah yang menginspirasi para sepuh masa lalu untuk menamai kawasan ini Cisѐѐng.
Sѐѐng, yang dijadikan perumpamaannya, dan tidak dengan alat dapur yang lain, karena setiap hari, semua orang di dalam rumah itu melihat dan menggunakan sѐѐng saat menanak nasi. Dan, bentuknya bertumbuh ke atas seperti dandang, serta ada air panas yang terus membual di dalamnya.
Mata Air panas dan travertin Cisѐѐng merupakan gejala kebumian yang bermula dari air meteorik yang tercurah di gunung kapur di kawasan Cisѐѐng dan sekitarnya. Air meresap, menyelusup di rekahan batu kapur dan mendapatkan pemanasan. Sumber panasnya berasal dari kegiatan magmatik atau kegiatan gunung api purba. Namun, bisa juga bersumber dari sirkulasi air tanah yang meresap hingga mencapai kedalaman batuan yang panas, kemudian air panas itu naik kembali ke permukaan melalui rekahan di jalur patahan. Panas itulah yang menyebabkan bukit kapur dikukus panas bumi secara terus-menerus, sejak jutaan tahun yang lalu hingga kini.
Pada saat air panas bertekanan tinggi itu berinteraksi dengan karbondioksida (CO2), maka asam karbonatnya menjadi sangat efektif melarutkan batugamping. Air Panas dari dalam bumi itu menjalar melalui rekahan di jalur patahan. Larutan batu gamping itu kemudian ke luar bersamaan dengan bualan air panas yang meluber ke luar di mataair. Pada saat bersentuhan dengan udara di luar, terjadilah penurunan tekanan secara drastis, menyebabkan proses pelepasan gas CO2 secara seketika. Karbon dioksidanya menguap, lepas ke atmosfer, meninggalkan kalsium karbonat (CaCO3) yang mengendap secara bertahap, sedikit demi sedikit, lapis demi lapis, kemudian mengeras, yang sudah berlangsung selama jutaan tahun. Itulah travertin.
Endapan travertin selama berjuta-juta tahun itu mewujud menjadi bukit-bukit yang khas. Dari kejauhan, bukit-bukit travertin itu tampak putih yang dilatari tumbuhan yang menghijau. Travertin Cisѐѐng berpori-pori, bekas gelembung gas CO2 yang dilepaskan. Demikian juga terdapat sisa dedaunan dan ranting yang terjebak saat latutan itu mengeras. Umumnya travertin di sini berwarna putih gading, abu-abu muda. Namun, di jalur berair, ada yang berpoles warna jingga karena mengandung oksida besi, dan warna hijau yang berasal dari koloni mikroorganisme yang hidup di air panas.
Cisѐѐng berada di Desa Cisѐѐng, Kecamatan Cisѐѐng, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Kawasan Cisѐѐng dan daerah sekelilingnya yang sangat luas, antara 10 juta – 5 juta tahun yang lalu, masih berupa laut dangkal. Di dasar laut dangkal inilah mengendap tumbuhan dan binatang koral yang mati. Dari waktu ke waktu, terus menumpuk, lapis demi lapis, hingga ketebalannya setinggi gunung, setinggi bukit. Tenaga dari dalam bumi, seperti adanya kegiatan vulkanisme, menyebabkan endapan di laut purba ini terangkat ke permukaan. Setelah di permukaan, dinamika atmosfer seperti panas matahari, angin, tanah, dan air meteorik yang turun, kemudian meresap ke dalam gunung kapur.
Adanya mata air panas dengan suhu antara 37°C hingga 48°C, merupakan penanda bahwa proses panas bumi di kedalaman bumi masih terus berlangsung. Mataair panasnya ke luar di beberapa tempat, seperti di Gunung Peyek. Sistem panas bumi yang bersuhu rendah hingga sedang. Di dalam reservoarnya jauh di kedalaman bumi, suhunya mencapai 180°C hingga 200°C. Suhu dalam kisaran ini umumnya digunakan untuk pemanasan langsung, seperti pemanas ruangan, rumahkaca untuk pertanian, kolam pemandian airpanas, dll.

Mataair Panas ini oleh masyarakat dimanfaatkan menjadi pemandian air panas. Banyak yang datang ke sini untuk balneo terapi, terapi kesehatan yang memanfaatkan mataair panas, dan untuk penguatan jiwa. Sudah disediakan pemandian umum dan pemandian privat. Ada juga bak mandi alami yang berbentuk silinder berair panas. Yang semula merupakan merek dagang bak mandi airpanas, Jacuzzi, kini menjadi istilah umum untuk menyebut bak mandi air panas. Di Cisѐѐng terdapat Jacuzzi alami di hamparan endapan travertin yang megah.
Endapan travertin Cisѐѐng yang membukit, merupakan endapan dari masa lalu kini, yang sudah berlangsung jutaan tahun. Ini merupakan arsip bumi yang menyimpan catatan alami tentang perubahan iklim. Cisѐѐng merupakan laboratorium alam kebumian yang merekam sejarah buana dan menyimpannya dengan sangat baik. Cisѐѐng merupakan gedung arsip kebumian dan perilaku manusia yang berpengaruh pada pengendapan travertin.
Bagi yang berniat belajar, Cisѐѐng merupakan kelas yang akan menceritakan tentang bumi pada masa lalu hingga saat ini, sehingga sangat baik menjadi kampus lapangan dan destinasi geowisata. (*)