Siang itu terasa terik. Angin berhembus kencang, membawa udara panas yang menyesakkan dada. Di kejauhan, kepulan asap membumbung, disertai percikan api dari jerami yang dibakar petani di sawah. Sungguh menjadi pemandangan yang dianggap biasa, tapi selalu menyisakan tanda tanya besar, sampai kapan bumi menanggung semuanya?
Di tengah suasana itu, saat asyik membaca Green Deen karya Ibrahim Abdul Matin, buku lawas terbitan Zaman tahun 2012 yang mengulas bagaimana Islam menghadirkan inspirasi dalam merawat dan menjaga alam.
Dengan mengedapankan enam prinsip utama: Tauhid (Kesatuan), Memahami kesatuan Tuhan dan ciptaan-Nya; Ayat (Tanda), Melihat tanda-tanda kebesaran Tuhan di alam semesta; Khalifah (Penjaga), Manusia bertanggung jawab melestarikan alam; Amanah (Kepercayaan), Alam adalah titipan yang harus dijaga; Mizan (Keseimbangan), Menjaga keseimbangan ekosistem; dan Adl (Keadilan), Bersikap adil terhadap alam.
Bumi, alam dan lingkungan bukan sekadar ruang hidup, melainkan amanah yang dititipkan kepada manusia dan harus dijaga, dirawat untuk keberlangsungkan hidup anak cucu dan generasi masa depan.
Belum selesai satu bab, pintu rumah terbuka. Aa Akil, anak kedua (11 tahun), baru pulang les dari Komunitas Belajar Musi. Dengan wajah polos dan nada penasaran, bertanya, “Bah, emang bumi sudah tua?”
Sambil menutup buku sejenak. Pertanyaan sederhana itu terasa lebih berat daripada halaman-halaman yang baru dibaca. “Muhun,” jawabku singkat.
Bocah kelas lima SD itu menimpalinya dengan cepat, “Tadi kan Aa belajar bagaimana merawat dan mencintai bumi yang kita tinggali. Kalau emang sudah tua, kayak nenek dong?” jelasnya sambil tertawa terbahak-bahak.
Rupanya, di kepala anak-anak, usia tua identik dengan sosok nenek yang sudah renta, butuh perhatian, dan tak bisa diperlakukan sembarangan. Berbeda dengan orang dewasa yang menganggap itu biasa, alami dan tidak ada hubungan sama sekali dengan keberadaan dan keberlangsungan hidup.

Bumi Semakin Menua
Bumi memang menua, sekitar empat setengah miliar tahun! Tua sekali ya? Usianya sekarang sekitar 4,54 miliar tahun diukur berdasarkan penanggalan radiometik meteorit dan sesuai usia bebatuan tertua yang pernah ditemukan.
Hutan ditebang, riset lembaga Auriga Nusantara mencatat 433.751 hektare hutan gundul sepanjang 2025. Hutan yang hilang bertambah 66% atau 172.684 hektare, bila dibandingkan angka deforestasi tahun lalu sebesar 261.574 hektare.
Sungai tercemar, hasil pemantauan mutu air semester I 2025 di 4.482 lokasi pada 1.482 sungai menunjukkan 70,7% lokasi tercemar dan hanya 29,3% memenuhi baku mutu. Tiga provinsi menjadi juaranya. DKI Jakarta, Kepulauan Riau, dan Papua Selatan, bahkan mencatat seluruh titik pemantauan sungainya tercemar.
Udara dipenuhi (pencemaran) asap, Indonesia masuk daftar negara paling berpolusi di dunia tahun 2025, tepatnya di urutan ke-17, versi laporan perusahaan pemantau kualitas udara IQAir. Berdasarkan data tahunan ke-8 World Air Quality Report 2025 IQAir, kadar rata-rata PM2.5 di bumi Nusantara mencapai 30 mikrogram per meter kubik (µg/m3), di atas ketentuan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Parahnya, tanah dipaksa berproduksi tanpa jeda bak mesin. Sampah menggunung tinggi, yang didominasi sampah rumah tangga dan sisa makanan sebanyak 39,67%. Dari data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) per April 2025, tercatat timbulan sampah 33,6 juta ton per tahun dengan 39,9% tidak terkelola. (Kompas 22 April 2012, 02:41 WIB, Kompas 25 Maret 2026, 19:34 WIB, BBC Indonesia 31 Maret 2026, www.kemenlh.go.id, www.mongabay.co.id)
Ibarat seorang nenek dalam keluarga, bumi tak pernah berhenti memberi. Dengan tetap menyediakan air, pangan, udara, dan ruang bagi generasi yang terus datang silih berganti. Sayangnya, kita kerap lupa bumi yang tua seharusnya dirawat, bukan dieksploitasi. Semestinya yang renta dijaga, bukan dibebani. Ironis memang.

Kekuatan (Planet) Kita
Setiap tanggal 22 April kita memperingati Hari Bumi. Tujuannya untuk meningkatkan kesadaran dan apresiasi terhadap planet Bumi, mendorong aksi nyata untuk perlindungan lingkungan dan melawan krisis iklim, mengurangi plastik, hemat energi, dan menanam pohon.
Peringatan ini melibatkan berbagai kegiatan mulai dari tingkat individu hingga global, mengajak semua pihak berkolaborasi menjaga bumi untuk masa depan. Untuk tahun 2026, bertajuk "Kekuatan Kita, Planet Kita" (Our Power, Our Planet). Tema ini sangat berperan vital untuk masyarakat dalam pelestarian lingkungan, mendorong aksi komunitas demi masa depan yang lebih berkelanjutan, memfokuskan pada transisi energi bersih dan tindakan iklim kolektif.
Semuanya dilakukan dalam meningkatkan kesadaran ihwal pentingnya menjaga lingkungan dan mengatasi krisis iklim. Dengan mengajak individu hingga komunitas di dunia untuk menjaga kelestarian alam dan melakukan aksi nyata sambil mengurangi penggunaan plastik, menghemat energi, dan menanam pohon demi keberlanjutan bumi.
Kali pertama dirayakan pada tahun 1970 di Amerika Serikat, dipelopori oleh John McConnell dan Senator Gaylord Nelson. Diawali dengan gerakan yang melibatkan jutaan orang yang memprotes permasalah lingkungan seperti polusi udara, air, dan penggunaan bahan kimia berbahaya. Sejak saat itu, gerakan terus berkembang menjadi peringatan hari bumi global yang mendorong lahirnya berbagai kebijakan penting terkait perlindungan lingkungan.

Peringatan ini menjadi momen untuk menghargai kekuatan alam yang memberi kehidupan, inspirasi, dan pembelajaran bagi manusia. Sungguh cara-cara sederhana dan berdampak bisa dilakukan mulai dari membersihkan sampah plastik di lingkungan sekitar, menanam pohon, mengunjungi ruang terbuka hijau, menggunakan tanaman lokal, menghemat air, mengurangi penggunaan bahan kimia dalam berkebun.
Perubahan gaya hidup yang mengurangi limbah makanan, mengonsumsi lebih banyak makanan nabati, dan menghindari produk sekali pakai sangat dianjurkan. Membawa tas belanja sendiri untuk mengurangi plastik, bijak menggunakan listrik, membawa tempat makan (tumbler) sendiri untuk membeli makanan, minuman, berbagi kendaraan sesuai jumlah penumpang, memilah sampah organik dan non-organik, mengelola limbah elektronik dengan benar, membuat lubang biopori untuk meningkatkan resapan air dan mengurangi banjir.
Tentunya, masyarakat didorong untuk memilih produk ramah lingkungan, tidak membeli satwa liar ilegal, mengikuti komunitas peduli lingkungan untuk berbagi informasi dan inspirasi. Hari Bumi bukan hanya perayaan, justru menjadi momentum yang tepat (ajakan) untuk bertindak dan berkolaborasi dalam menjaga bumi. Kepedulian terhadap lingkungan harus melibatkan semua generasi agar planet ini tetap lestari bagi masa depan.
Dengan peringatan hari bumi sedunia ini, mari kita meningkatkan kepedulian kita terhadap bumi kita tercinta dengan suatu aksi nyata. Jangan jadikan hari bumi sedunia ini sekedar ajang berkumpul mencemaskan bumi, namun tanpa tindakan nyata menjaga, merawat, dan menyelamatkan bumi.
Kelestarian bumi bukanlah tanggungjawab perorangan, tapi sudah menjadi tanggungjawab semua pihak yang hidup di bumi tanpa terkecuali. Oleh karena itu, kesadaran akan pentingnya kelestarian bumi perlu ditanamkan pada diri masing-masing individu sedini mungkin dan secara berkesinambungan. (RRI 21 Apr 2025 18:17 WIB dan 09 Apr 2026 11:13 WIB).

Mulai dari yang Kecil
Ingat, segala krisis lingkungan sejatinya bukan semata soal teknologi, kebijakan, melainkan bermula dari cara pandang manusia terhadap bumi. Apakah bumi dianggap benda mati yang bebas diperas, dieksploitasi. Padahal keberadaan rumah bersama ini penuh jasa dan pantas dimuliakan.
Ketika siang terasa semakin panas dan asap pembakaran jerami masih mengepul, kita diingatkan bahwa alam sedang memberi tanda-tanda. Pasalnya, dari langkah kecil yang dilakukan hari ini, merawat asa, harapan untuk masa depan tetap bisa tumbuh dan berkembang.
Dalam ajaran Islam, manusia tidak hanya diberi hak memanfaatkan alam, tetapi memiliki kewajiban merawat dan melestarikannya. Bumi, hewan, tumbuhan, air, dan udara adalah ciptaan Allah yang tidak boleh dirusak, dizalimi. Menjaga lingkungan bukan sekadar kebiasaan baik, tetapi menjadi bagian dari ibadah. Kesalehan tidak hanya tampak di tempat ibadah, melainkan dalam sikap peduli terhadap alam sekitar.
Dengan demikian, mari merawat bumi yang dimulai dari remeh temeh yang dianggap sederhana sejak hari ini. Hemat listrik dengan mematikan lampu dan alat elektronik saat tidak digunakan, tidak membuang sampah sembarangan, memilah sampah sesuai jenisnya. Menanam pohon, merawat tanaman di rumah, menyebar benih di lahan kosong menjadi amal kebaikan dan ikut mensukseskan buruan sae yang pemanfaatan pekarangan (lahan) yang ada dengan berkebun untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga sendiri.

Dari Anas bin Malik ra. berkata Rasulullah saw. Bersabda, “Tak seorang pun muslim yang menanam pohon atau menabur benih tanaman, lalu (setelah ia tumbuh) dimakan oleh burung, manusia, atau hewan lainnya, kecuali akan menjadi sedekah baginya” (HR. Al-Bukhari)
Saking pentingnya menanam pohon, Rasul bersabda, "Jika terjadi hari kiamat sementara di tangan salah seorang dari kalian ada sebuah tunas, maka jika ia mampu sebelum terjadi hari kiamat untuk menanamnya maka tanamlah," (HR Bukhari dan Ahmad).
Walhasil, dari langkah kecil yang dilakukan bersama ini, mudah-mudahan bumi akan terasa lebih sejuk, bersih, dan sejahtera. (*)