Di Jawa Barat, ada sebuah kawasan yang semakin dikenal sebagai destinasi wisata, yaitu Lembang. Wilayah ini berkembang dengan berbagai pilihan wisata, mulai dari panorama alam, kuliner, hingga tempat rekreasi yang selalu ramai dikunjungi bagi pendatang. Namun ada fakta yang menarik di balik popularitasnya sebagai destinasi wisata, Lembang juga menyimpan satu jenis wisata yang tidak terlalu disorot, yaitu wisata ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan tata surya atau dunia astronomi.
Di tengah banyaknya ragam destinasi di Lembang, Bosscha Observatory hadir sebagai ruang yang berbeda. Tempat ini bukan hanya sekadar tujuan kunjungan, tetapi juga pusat pembelajaran tentang langit, bintang, hingga alam semesta di dunia ini. Di saat sebagian wisata menawarkan hiburan, Bosscha justru menawarkan pengalaman memahami sesuatu yang jauh lebih luas dari sekadar bumi tempat kita berpijak.
Bosscha juga masih menarik perhatian di tingkat internasional, yang terlihat dari kunjungan ilmuwan dunia ke Bosscha Observatory dalam rangka mendorong kolaborasi astronomi internasional. Dalam kunjungan tersebut, para ilmuwan diajak melihat langsung fasilitas dan aktivitas penelitian yang masih berlangsung di observatorium ini, sekaligus membahas pengembangan kerja sama ilmiah di bidang astronomi.
Direktur Teknologi Yudi Darma saat dikunjungi ilmuwan dunia mengatakan,
“Observatorium Bosscha adalah salah satu warisan besar dari masa kolonial Belanda yang masih sangat relevan hingga hari ini. Usia seabad bukanlah halangan untuk tetap menjadi pusat pengembangan sains dan pendidikan, asalkan fasilitas ini dirawat dan dioptimalkan bersama.”
Yang memperlihatkan bahwa keberadaan Bosscha tidak hanya berhenti sebagai peninggalan sejarah, tetapi juga tetap memiliki peran aktif dalam jejaring penelitian astronomi global hingga saat ini.
Selain kunjungan tersebut, Bosscha yang berlokasi di Jl. Peneropongan Bintang No.45, Lembang juga membuka kesempatan bagi masyarakat umum untuk berkunjung melalui sistem pendaftaran resmi. Kunjungan dilakukan dengan kuota terbatas, sekitar 50 orang per sesi, dengan biaya tiket sekitar Rp50.000 per orang, sementara balita tidak dikenakan biaya. Aturan kunjungan ke Bosscha sebagai destinasi wisata menunjukkan bahwa Bosscha tetap menjaga keseimbangan antara fungsi edukasi publik dan aktivitas penelitian yang berjalan di dalamnya.
Sehingga, terlihat bahwa Bosscha berada pada posisi yang cukup unik: dikenal sebagai destinasi edukasi, diperhatikan oleh ilmuwan dunia, sekaligus tetap menjadi ruang pembelajaran bagi masyarakat umum. Namun, bagian yang lebih dalam mengenai bagaimana Bosscha bisa sampai pada posisi penting seperti ini hingga didatangi ilmuwan dunia.

Di Balik Jejak Panjang Observatorium Bosscha
Sejarah Bosscha Observatory berawal dari gagasan Karel Albert Rudolf (K.A.R.) Bosscha yang memiliki perhatian besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya astronomi. Ia kemudian bekerja sama dengan sejumlah tokoh pada masa Hindia Belanda, termasuk R.A. Kerkhoven dan astronom Joan George Erardus Gijsbertus Voûte, untuk menghimpun para peminat astronomi dan mewujudkan ide pendirian sebuah observatorium.
Dari pertemuan tersebut, lahirlah Perhimpunan Astronomi Hindia Belanda atau Nederlandsch-Indische Sterrenkundige Vereniging (NISV) pada 12 September 1920 di Hotel Homann Bandung. Perhimpunan ini memiliki tujuan utama untuk mendirikan dan mengembangkan observatorium astronomi di Hindia Belanda serta memajukan ilmu astronomi. Dalam proses pendirian tersebut, K.A.R. Bosscha tidak hanya berperan sebagai pencetus gagasan, tetapi juga sebagai penyandang dana utama, termasuk dalam pengadaan teleskop.
Sebagai bentuk penghormatan atas kontribusinya, nama Bosscha kemudian diabadikan sebagai nama observatorium. Setelah melalui proses pembangunan, Observatorium Bosscha resmi diresmikan pada 1 Januari 1923 dan mulai berfungsi sebagai pusat pengamatan astronomi di kawasan Lembang, Bandung.
Perkembangan terus berlanjut setelah Indonesia merdeka. Pada tahun 1951, NISV secara resmi menyerahkan pengelolaan observatorium kepada pemerintah Indonesia. Setelah itu, Bosscha berada di bawah Fakultas Ilmu Pasti dan Ilmu Alam (FIPIA) Universitas Indonesia, yang kemudian menjadi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Teknologi Bandung (ITB).
Sejak saat itu, Bosscha beralih menjadi pusat pendidikan astronomi di Indonesia dan hingga kini masih menjadi satu-satunya institusi yang menyelenggarakan pendidikan astronomi lengkap dari sarjana hingga doktoral.
Selain penelitian dan pendidikan, Bosscha juga aktif dalam pengabdian masyarakat serta membuka kolaborasi dengan peneliti dari berbagai negara. Kegiatannya mencakup pengamatan astronomi, analisis data astrofisika, instrumentasi, hingga kajian lintas bidang seperti sejarah dan lingkungan. Bosscha juga ditetapkan sebagai Cagar Budaya Nasional pada 2004 dan Objek Vital Nasional pada 2008, sehingga keberadaannya dilindungi dan dijaga sebagai warisan ilmiah yang bernilai penting.
Karena itu, Bosscha Observatory menyimpan sejarah panjang sejak berdirinya lebih dari satu abad lalu, melewati masa kolonial Belanda hingga menjadi bagian penting dalam perkembangan ilmu astronomi di Indonesia. Keberadaannya tidak hanya sebagai warisan sejarah, tetapi juga sebagai ruang ilmu pengetahuan yang tetap hidup di tengah berkembangnya Lembang sebagai kawasan wisata, serta masih mendapat perhatian internasional melalui kunjungan ilmuwan dunia dan kerja sama penelitian astronomi. Hal ini menunjukkan bahwa Bosscha bukan sekadar bangunan peninggalan, melainkan pusat edukasi dan penelitian yang terus relevan, sekaligus pengingat bagi kita bahwa ilmu pengetahuan akan tetap bertahan jika dijaga dan diberi ruang untuk berkembang di tengah perubahan zaman. (*)
REFERENSI
Observatorium Bosscha. (n.d.). “Sejarah dan profil”.
Observatorium Bosscha. (n.d.). “Jadwal Kunjungan Siang Observatorium Bosscha”.
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. (2025). “Ilmuwan Dunia Kunjungi Observatorium Bosscha di Lembang, Dorong Kolaborasi Astronomi Internasional”.