Pada akhir April 2026, antrean panjang kendaraan di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di menjadi perhatian publik. Kendaraan yang mengantre didominasi oleh truk, bus, serta minibus diesel seperti travel dan elf—semuanya bergantung pada solar subsidi.
Situasi ini tidak muncul tanpa sebab. Sejumlah laporan menunjukkan bahwa antrean dipicu oleh terbatasnya ketersediaan solar subsidi, bahkan di beberapa SPBU dilaporkan kehabisan stok. Kondisi ini membuat kendaraan harus berpindah dari satu SPBU ke SPBU lain untuk mencari pasokan yang masih tersedia. Di sisi lain, pemberlakuan pembatasan pembelian solar subsidi melalui kuota harian membuat setiap kendaraan hanya dapat memperoleh BBM dalam jumlah terbatas, sehingga tidak sedikit kendaraan yang harus kembali mengantre pada hari berikutnya untuk memenuhi kebutuhan operasionalnya.
Perlu dicatat bahwa solar subsidi memang diperuntukkan bagi kelompok pengguna tertentu yang telah terdaftar di sistem Subsidi Tepat MyPertamina, antara lain kendaraan pribadi dengan kapasitas mesin hingga 2000 cc, angkutan umum seperti bus dan travel/elf berpelat kuning, kendaraan angkutan barang seperti pick up dan truk logistik (di luar sektor pertambangan dan perkebunan), serta kendaraan pelayanan publik seperti truk pengangkut sampah. Luasnya cakupan pengguna ini menjelaskan tingginya tekanan ketika terjadi gangguan pasokan.
Kondisi keterbatasan stok yang disertai pembatasan distribusi ini memunculkan antrean yang meluas hingga ke badan jalan. Dari perspektif transportasi, situasi ini menciptakan point congestion yang menurunkan kapasitas ruas jalan. Dalam teori lalu lintas, gangguan semacam ini meningkatkan derajat kejenuhan (degree of saturation) dan menurunkan kecepatan arus kendaraan secara signifikan. Studi Litman (2011) menunjukkan bahwa kemacetan perkotaan sangat sensitif terhadap gangguan kapasitas jalan.
Angkutan Umum dan Logistik Kehilangan Keandalan
Dampak paling nyata dirasakan oleh sektor yang sangat bergantung pada solar subsidi. Angkutan umum seperti bus dan minibus diesel mengalami penurunan frekuensi layanan karena waktu operasional tersita untuk mengantre BBM. Dalam kondisi normal, waktu tersebut digunakan untuk melayani perjalanan atau menjaga headway antar armada. Namun ketika dialihkan untuk antre, jumlah perjalanan yang dapat dilayani per hari otomatis berkurang.
Akibatnya, jadwal menjadi tidak dapat diandalkan dan waktu tunggu penumpang meningkat. Ketidakpastian ini tidak hanya menurunkan kenyamanan, tetapi juga mengganggu aktivitas harian masyarakat yang bergantung pada transportasi umum, seperti pekerja dan pelajar. Dalam jangka pendek, pengguna menghadapi keterlambatan; dalam jangka lebih panjang, kondisi ini dapat menurunkan kepercayaan terhadap layanan angkutan umum itu sendiri.

Fenomena ini sejalan dengan kajian Vuchic (2005), yang menunjukkan bahwa gangguan pada satu titik dalam sistem transportasi dapat merambat dan menurunkan reliabilitas layanan secara keseluruhan. Dalam konteks ini, antrean di SPBU bertindak sebagai bottleneck eksternal yang mengganggu siklus operasi armada, sehingga keterlambatan pada satu kendaraan dapat berimbas pada kendaraan lain dalam satu trayek.
Pada sektor logistik, dampaknya tidak kalah signifikan. Truk pengangkut barang menghadapi ketidakpastian operasional karena harus menyesuaikan perjalanan dengan ketersediaan bahan bakar, bukan lagi berdasarkan efisiensi rute atau jadwal distribusi. Waktu tempuh menjadi sulit diprediksi, dan jadwal pengiriman berisiko tertunda. Selain itu, waktu antre yang panjang meningkatkan biaya operasional, baik dari sisi konsumsi bahan bakar saat idle maupun biaya tenaga kerja.
Dalam perspektif yang lebih luas, inefisiensi ini berpotensi menimbulkan tekanan pada harga barang di tingkat lokal. Keterlambatan pengiriman dan meningkatnya biaya operasional dapat mendorong kenaikan biaya distribusi. Dalam struktur ekonomi perkotaan, biaya logistik merupakan komponen penting dalam pembentukan harga barang, terutama untuk kebutuhan pokok yang bergantung pada pasokan harian.
Ketika biaya distribusi meningkat, pelaku usaha cenderung melakukan penyesuaian harga untuk menjaga margin operasional. Jika kondisi ini terjadi secara luas dan berlangsung dalam periode tertentu, maka dapat memicu tekanan inflasi lokal, khususnya pada komoditas yang sensitif terhadap gangguan distribusi seperti bahan pangan dan kebutuhan rumah tangga.
Lebih jauh, ketidakpastian dalam sistem logistik juga mengganggu efisiensi rantai pasok perkotaan. Pola distribusi yang semula dirancang berdasarkan ketepatan waktu (just-in-time delivery) menjadi sulit dipertahankan. Akibatnya, pelaku usaha mungkin perlu menambah buffer stock atau mengubah pola distribusi, yang pada akhirnya meningkatkan biaya penyimpanan dan operasional secara keseluruhan.
Dalam konteks ini, kelangkaan solar subsidi tidak hanya berdampak pada mobilitas, tetapi juga berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi kota. Ketika transportasi dan logistik tidak berjalan efisien, efeknya dapat menjalar ke berbagai sektor, mulai dari perdagangan hingga kesejahteraan masyarakat perkotaan. Pada akhirnya, kasus ini menegaskan bahwa energi, transportasi, dan ekonomi perkotaan merupakan satu sistem yang saling terhubung. Gangguan pada pasokan energi tidak berhenti di SPBU, tetapi menjalar ke kinerja transportasi, efisiensi logistik, hingga stabilitas harga di tingkat kota. Tanpa pengelolaan yang terintegrasi, setiap gangguan kecil berpotensi berkembang menjadi tekanan yang lebih luas bagi mobilitas dan perekonomian perkotaan.
Perlu Integrasi Kebijakan Energi dan Transportasi
Kasus kelangkaan solar subsidi ini menunjukkan bahwa gangguan pada pasokan energi dapat dengan cepat berkembang menjadi krisis layanan perkotaan. Tidak hanya mobilitas yang terganggu, tetapi juga fungsi dasar kota seperti distribusi barang.
Terbatasnya ketersediaan solar subsidi di sejumlah SPBU, yang bahkan dilaporkan sempat kosong, memicu antrean panjang dan perpindahan kendaraan antar lokasi pengisian. Di sisi lain, kebijakan pembatasan pembelian melalui kuota harian membuat kebutuhan operasional tidak dapat dipenuhi dalam satu kali pengisian, sehingga kendaraan harus kembali mengantre pada hari berikutnya. Kombinasi antara keterbatasan stok dan pembatasan distribusi ini menciptakan antrean dan inefisiensi yang meluas di lapangan.

Riset Transportation Research Board (2013) menegaskan bahwa reliabilitas waktu tempuh merupakan indikator utama dalam kinerja sistem transportasi. Dalam konteks ini, gangguan pasokan energi terbukti secara langsung menurunkan reliabilitas tersebut.
Oleh karena itu, diperlukan integrasi kebijakan energi dan transportasi. Pengelolaan distribusi BBM subsidi perlu disertai dengan manajemen pasokan yang lebih adaptif, pengawasan yang ketat, serta percepatan diversifikasi energi untuk sektor transportasi.
Tanpa intervensi yang tepat, kombinasi antara keterbatasan stok, pembatasan distribusi, dan tekanan operasional akan terus memicu antrean, memperparah kemacetan, serta mengganggu layanan publik yang vital bagi kehidupan kota. (*)