Stasiun Bekasi Timur, Jawa Barat, menjadi sorotan khalayak pada pengujung April 2026. Tepatnya pada Senin, 27 April, terjadi kecelakaan yang melibatkan Kereta Api (KA) Argo Bromo Anggrek dengan Kereta Rel Listrik (KRL) di stasiun kota satelit bagi Jakarta tersebut.
Kronologinya, bermula dari satu unit mobil taksi Green SM yang mogok di perlintasan dan tertemper oleh KRL dari arah Cikarang menuju Jakarta. Situasi ini membuat KRL dari arah sebaliknya menunda perjalanan di Stasiun Bekasi Timur sampai menunggu sinyal aman untuk jalan.
Dalam posisi berhenti itu, KA Argo Bromo Anggrek melaju dari arah Jakarta sehingga lokomotifnya menabrak gerbong belakang KRL yang dikhususkan untuk penumpang perempuan. Imbas dari kejadian itu puluhan penumpang di gerbong perempuan menderita luka-luka, dan nahasnya di antaranya terdapat 16 orang kehilangan nyawa.
Duka menganga lantas terasa dan masih terus terasa selang sepekan tragedi memilukan itu. Bantuan-bantuan pun berdatangan bagi korban yang masih dirawat dan keluarga korban yang ditinggalkan. Dari PT Kereta Api Indonesia, instansi pemerintah, hingga sejumlah organisasi kemanusiaan nasional turun tangan memberikan santunan. Sesama pengguna KRL yang ikut prihatin turut pula memperlihatkan simpati dengan meletakkan rangkaian bunga di Stasiun Bekasi Timur.
Peristiwa kecelakaan kereta yang memakan korban jiwa sejatinya bukan kali ini saja terjadi di Indonesia. Semenjak negara ini merdeka, terdapat banyak tragedi yang menimpa dunia perkeretaapian nasional.
Dari banyaknya tragedi salah satunya terjadi di Trowek pada 1959. Saat itu kereta api yang hendak melintas di jalur menanjak tidak kuat sehingga membuat empat gerbong penumpang masuk jurang. Peristiwa mengenaskan ini lalu mengundang simpati banyak orang termasuk dari kalangan pencinta sepak bola dalam negeri.
Tragedi KA Trowek
Pada 28 Mei 1959, kereta api trayek Banjar – Bandung melintas di Trowek, dekat dengan Kota Tasikmalaya. Kereta dengan penumpang berjumlah ratusan itu tiba-tiba kesulitan menjinakkan lintasan rel menanjak yang bersinggungan dengan tebing curam.
Majalah Star Weekly dalam artikel “Terdjadinja Ketjelakaan Kereta Api di Trowek” terbitan 6 Juni 1959, mengabarkan kronologi sebelum terjadinya kecelakaan. Masinis kereta dikabarkan menghubungi bantuan lokomotif lain untuk membantu menarik rangkaian.
Mulanya lokomotif pembantu mampu menarik lokomotif Banjar – Bandung yang membawa sebagian gerbong ke atas tanjakan. Namun, setelahnya yang tercipta ialah petaka. Keempat gerbong yang sedang dipasang rem dan sedang menunggu ditarik meluncur ke bawah sehingga malapetaka pun terjadi.
Kesedihan pun menggerayangi Djawatan Kereta Api (DKA, nama PT KAI saat itu) imbas dari kejadian tersebut. Bendera setengah tiang lalu dipasang di Balai Besar DKA di Bandung sebagai tanda berkabung.
Di tengah situasi berduka, Menteri Perhubungan Sukardan langsung meninjau lokasi kecelakaan. Proses evakuasi pun berjalan di bawah komando sang menteri di mana sampai 5 Juni 1959 terdapat 92 orang tews, 61 luka berat, dan 53 luka-luka ringan. Akibat tragedi itu DKA pun melarang masinis menghentikan kereta di jalur tanjakan.

“Mengingat akan peristiwa di Trowek tersebut oleh pimpinan DKA Jawa Barat segera diambil tindakan larangan untuk meninggalkan sebagian rangkaian kereta api di tanjakan dengan lereng lebih dari 5 0/00, yang berarti untuk lebih menjamin keamanan perjalanan kereta api,” lapor Harian Umum dalam artikel “Sebab2 Tragedi Trowek: Rangkaian K.A. Dilepaskan Orang, Petugas2 DKA Abaikan Sjarat2 jang Sudah Ditentukan,” terbitan 10 Juni 1959.
Sumbangan dari Laga Sepak Bola
Tragedi Trowek membuat sejumlah pihak terpicu untuk berderma. Persatuan Perusahaan Film Indonesia (PPFI) salah satunya yang menunjukkan perhatiannya terhadap para korban.
Pada 17 Juli, PPFI menyatakan memutar film di seluruh bioskop ibu kota Indonesia. Hasil keuntungan dari pertunjukan film itu 50 persennya diserahkan untuk membantu korban dan keluarganya yang terdampak.
Tak hanya dari perfilman, karena dari dunia olahraga khususnya sepak bola juga ikut andil untuk para korban tragedi Trowek sekaligus Tombatu - sebuah kota kecil di Minahasa Tenggara yang terkena serangan Permesta. Sebuah pertandingan segitiga lalu dengan melibatkan Persija Jakarta, Persib Bandung, dan Persis Solo.

“Walaupun pada lahirnya ia diselenggarakan PSSI, namun pada hakikatnya BKS (Badan Kerja Sama) Wanita-Militer lah yang jadi promotor dan pengambil inisiatif, yakni dalam usahanya mengumpulkan uang guna disumbangkan kepada korban-korban dari Trowek dan Tombatu,” tulis Adnoes St. Sinaro Sati melalui majalah Aneka dalam artikel “Persidja dalam Segitiga – Trowek-Tembatu: Draw dg. Solo, Kalahkan Persib 5-2” edisi 20 Juli 1959.
Ketiga tim tersebut bermain di Lapangan Ikada, Jakarta pada 10-12 Juli 1959. Sebelum turnamen mini itu dimulai, sejumlah media mengimbau agar penggemar sepak bola di ibu kota datang ke stadion dengan jaminan laga akan berjalan seru dan hasil tiket akan diteruskan membantu korban tragedi Trowek.
Apa yang dijanjikan kejadian. Persija di hari pertama melawan Persis yang bermain keras kepala. Kiper muda Yudo Hadianto bermain sigap dalam laga itu sehingga Persis mampu menahan imbang Persija 0-0.
Pada hari kedua, barulah Persis tidak mampu berkutik. Anak-anak Solo dikalahkan 3-5 oleh Persib yang bermain cepat dalam menyerang.

“Berhasilnya Omo cs memasukkan tidak kurang lima gol sebelum babak pertama berakhir adalah bukti nyata daripada kecepatan yang tiada terkira,” lapor Adnoes.
Sehari kemudian yang menjadi pertandingan terakhir dimulailah laga antara Persija versus Persib. Kedua tim bermain sama kuat 1-1 pada babak pertama di mana Persib mencetak gol lewat Omo, sementara Persija via Ottis de Fretes. Kedudukan sama kuat, tetapi kisahnya menjadi lain pada babak kedua. Serangan Persib kendur setelah Omo diganti Ade Dana. Persib pun hanya bisa menambah satu gol, sedangkan Persija membalas dengan empat gol sehingga menang 5-2.
Persija dinyatakan juara, Persib runner-up, dan Persis di peringkat ketiga. Namun, mengenai prestasi itu tidak begitu jadi perhatian karena terpenting ketiganya dinyatakan memiliki andil membantu korban tragedi KA Trowek. (*)