Di tengah dinamika seni rupa Indonesia yang terus bergerak, pameran “Jejak Rupa” di Galeri Dago The Huis menjadi ruang untuk kembali memandang seni secara lebih perlahan dan reflektif. Pameran yang berlangsung pada 3 Mei hingga 17 Mei 2026 ini menghadirkan 123 karya pilihan Tjetjep Rohendi Rohidi yang merekam perjalanan panjang seorang seniman dalam membaca alam, manusia, dan perubahan zaman. Melalui karya-karya yang penuh warna, tekstur, dan lapisan makna, pengunjung diajak memasuki ruang kontemplasi tempat ingatan, pengalaman batin, dan realitas sosial saling bertemu.

Dalam katalog kuratorial pameran, karya-karya Pak Tjetjep dibaca sebagai “sistem tanda” yang menghubungkan manusia dengan alam, budaya, dan dimensi spiritual. Garis vertikal dimaknai sebagai hubungan manusia dengan yang transenden, sementara garis horizontal menjadi simbol relasi sosial dan kehidupan sehari-hari. Di tangan Tjetjep, abstraksi bukan upaya menjauh dari realitas, melainkan cara lain untuk mendekatinya.
Bagi Pak Tjetjep sendiri, pameran bukan sesuatu yang datang secara tiba-tiba. Dalam wawancara di sela pameran, ia mengatakan bahwa hampir setiap tahun dirinya selalu berusaha mengadakan pameran, baik tunggal maupun kelompok. Awalnya, pameran ini dirancang untuk September 2026 bertepatan dengan usianya yang ke-78. Namun karena jadwal ruang pamer yang terbatas, pameran akhirnya dipercepat pada bulan ini.

Pandangan serupa juga disampaikan Pak Tri Karyono salah satu murid sekaligus akademisi yang mengenal dekat sosok Tjetjep Rohendi Rohidi. Dalam wawancara terpisah, beliau menyebut Pak Tjetjep bukan hanya seniman, tetapi figur akademik yang telah melahirkan banyak generasi di dunia seni dan pendidikan. “Beliau sekarang usia 78 tahun, tetapi energinya luar biasa. Menulis sangat banyak, berkarya juga sangat banyak.” ujarnya.
Hal menarik dari karya-karya Pak Tjetjep terletak pada proses kreatifnya yang intuitif. Dalam wawancara di sela pameran, beliau mengaku tidak pernah terlalu terpaku pada tujuan akhir saat melukis. Baginya, yang terpenting justru proses dan respons batin yang muncul selama berkarya. “Saya lebih melihat proses. Kalau dalam istilah ilmiah, saya lebih induktif,” ujarnya. Menurut Pak Tjetjep, karya-karyanya berkembang dari pengalaman pribadi, situasi sosial, hingga refleksi terhadap keadaan sekitar yang kemudian muncul secara spontan ke dalam bidang kanvas.
Meski dikenal lewat karya abstrak, Pak Tjetjep mengatakan banyak karyanya tetap dipengaruhi pengalaman hidup di Bandung dan pemahaman estetika lokal. Pengaruh itu, menurut dia, tidak selalu hadir dalam bentuk tradisi yang eksplisit, melainkan melalui rasa, komposisi warna, dan cara memandang kehidupan. “Kalau dilihat orang luar Bandung, memang kuat dalam komposisi warna,” katanya.

Salah satu karya yang lahir dari respons sosial adalah Tangis Pertiwi. Karya tersebut dibuat saat Indonesia berada dalam masa reformasi dan gejolak sosial. “Saya melihat keadaan negara kita waktu itu sedang guncang,” ujarnya. Bagi Pak Tjetjep, seni bukan sekadar objek visual, tetapi juga cara merekam kegelisahan zaman.
Di beberapa karya lain, penggunaan plastik dan media campuran terasa seperti komentar halus terhadap perubahan lingkungan dan kehidupan urban. Pada seri Panorama Plastik misalnya, material sehari-hari yang identik dengan limbah justru diolah menjadi lanskap visual yang puitis. Sementara karya-karya seperti Imaji Kota atau Dinding Kota memperlihatkan bagaimana ruang perkotaan diterjemahkan menjadi fragmen-fragmen emosi dan memori.
Pak Tjetjep juga menyinggung posisi seni di tengah perkembangan teknologi dan kondisi sosial Indonesia saat ini. Menurut beliau, dunia modern yang semakin dikuasai teknologi dan ekonomi perlu diimbangi dengan kelembutan dan nilai kemanusiaan yang dibawa seni. “Kalau teknologi kehilangan sisi kemanusiaan, kita bisa kehilangan banyak hal,” ujarnya. Baginya, seni berperan menjaga manusia tetap memahami dirinya secara utuh.

Istilah “lirisisme” yang muncul dalam katalog pun, menurut Tjetjep, bukan berasal dari dirinya sendiri. Beliau mengatakan istilah itu muncul dari cara orang lain membaca ritme dan irama visual dalam karya-karyanya. “Saya sendiri tidak pernah menyebut karya saya abstrak atau kontemporer. Itu biasanya datang dari orang lain,” katanya. Baginya, melukis lebih dekat dengan proses bermain dan refleksi diri.
Kepada mahasiswa dan seniman muda, Pak Tri menitipkan pesan sederhana, berani memulai dan tidak mudah menyerah. Menurut dia, keberanian menjadi langkah awal paling penting dalam berkarya. “Kalau ada sesuatu yang muncul, ungkapkan itu, buat, kerjakan,” ujarnya. Selain keberanian, ia menekankan pentingnya ketekunan menghadapi tantangan. Baginya, setiap bidang memiliki “rimba” nya masing-masing, termasuk seni, ekonomi, maupun hukum.
Sementara itu, Pak Tjetjep memberi pesan yang lebih reflektif. Menurut Pak Tjejep, hidup pada dasarnya adalah proses belajar tanpa akhir. “Jangan merasa sudah selesai belajar,” katanya. Beliau mengaku masih terus belajar, termasuk dari generasi muda. Baginya, belajar bukan hanya soal teknik berkesenian, tetapi juga proses menjadi manusia seutuhnya. “Menjadi manusia itu lebih susah daripada menjadi seniman,” ujarnya sambil tersenyum.

Antusiasme pengunjung yang hadir dalam pameran ini pun tidak bisa dipandang sebelah mata. Ruang pamer yang semula terasa tenang dan kontemplatif berubah menjadi arena percakapan hidup antara karya dan penontonnya. Beberapa pengunjung terlihat berlama-lama di hadapan satu kanvas, seolah sedang mendengarkan sesuatu yang tak terucap. Pameran ini, dengan kata lain, tidak hanya menjadi ruang pamer karya, tetapi juga ruang pertemuan antara ingatan kolektif dan pengalaman personal masing-masing orang yang hadir.
Dalam konteks seni rupa Indonesia yang terus bergerak, kehadiran “Jejak Rupa” menjadi semacam pengingat bahwa konsistensi seorang seniman adalah bentuk perlawanan paling diam namun paling nyata terhadap lupa. Di tengah hiruk-pikuk wacana seni kontemporer yang kerap bergerak cepat mengikuti tren global, Pak Tjetjep memilih jalannya sendiri, merawat intuisi, mendengarkan alam, dan membiarkan kanvas berbicara sesuai irama batinnya.

Pameran ini juga sekaligus menjadi cermin bagi dunia pendidikan seni. Sosok Pak Tjetjep yang merentangkan diri antara akademisi dan praktisi menunjukkan bahwa kedua dunia itu tidak harus berdiri saling membelakangi. Justru dari persilangan itulah lahir karya-karya yang kaya lapisan makna, bukan hanya indah secara visual, tetapi juga mampu berdialog dengan konteks sosial, budaya, dan spiritual secara bersamaan.
Pada akhirnya, “Jejak Rupa” bukan pameran yang meminta pengunjung untuk langsung mengerti. Beliau justru mengajak orang berhenti sejenak, memandang lebih lama, lalu menemukan maknanya masing-masing. Dalam dunia yang semakin cepat dan bising, karya-karya Tjetjep terasa seperti ruang hening tempat warna, ingatan, dan intuisi saling bertemu. (*)