MASIH ingat tulisan saya yang berkisah tentang Mang Amir, 63 tahun, penjual bubur ayam termurah sedunia--pake motor Beat--asal Nengkelan, Ciwidey? Kakek beranak 5 dan bercucu 3 itu setiap hari tak pernah lelah nge-gas motor Beatnya “membelah subuh Ciwidey yang dingin” untuk berjualan bubur ayam dan menyapa pelanggannya di Komplek Parahyangan Kencana (Parken) dang Sanggar Indah, Soreang.
Namun, suatu pekan, di ujung April 2026 yang masih ada hujan, hampir seminggu pedagang bubur yang ramah senyum itu tidak tampak di komplek kami. Warga pun bertanya-tanya, “Ka mana Si Abah teh nya? Hampir seminggu tidak keliatan. Geuring kitu?”
“Iya, ke mana ya? Bisi meninggal?” tanya warga yang lain.
Ya, warga merindukan suara “kentrengan” mangkuk yang dipukul sendok yang menjadi tanda kedatangan bubur ayam khasnya.
Setelah seminggu, Mang Amir muncul dengan balutan di kakinya.
“Ka mana wae, Bah, warga pada nararoskeun?” tanya saya.
“Oh, iya, saya jatuh dari motor, pulang jualan, pas keluar dari Mapolresta. Tadinya menghindari ditabrak orang.”
“Naon nu karasa?”
“Kaki saya bengkak. Susah berjalan. Untung buburnya sudah habis.”
“Deudeuh teuing, Abah. Kenapa atuh sudah berjualan lagi? Kan jalannya masih tampak terpincang-pincang?”
“Maksakeun, Pak. Kalau tidak jualan, anak dan istri saya tidak makan.”
Ya, Mang Amir adalah seorang pedagang bubur ayam yang tidak berjualan di sekitar kampungnya. Justru ia memilih berjualan di Komplek Bumi Parahyangan Kencana dan Sanggar Indah di Kecamatan Cangkuang, yang jauhnya kurang lebih 12 kilometer dari rumah Mang Amir.
Hari masih gelap. Ciwidey yang dingin tidak menjadikannya menarik selimut untuk kembali tidur, tapi ia memilih nge-gas motor Honda Beatnya menurun melewati Pasir Jambu, melewati Sadu, melewati Soreang—demi menafkahi anak dan istrinya.
Pertanyaannya, mengapa ia tidak berjualan di sekitar Ciwidey atau mampir dulu di sekitar Pasir Jambu atau Soreang yang tempatnya kelewatan, Mang Amir. Kan lebih dekat biar gak capek?
“Ah, tidak. Setelah salat Subuh, saya langsung ke perumahan Parken ini. Tidak mampir dulu ke mana-mana. Saya sudah punya pelanggan di sini. Barangkali Allah sudah mengatur rezekiku harus dapat di sini,” katanya sambil melayani pembeli.
Pengakuan Mang Amir, ia sudah berjualan bubur ayam selama 25 tahun. “Tidak banyak, saya berjualan tiap hari hanya memasak 2,5 kilogram beras. Segitu, habis untuk pelanggannya di komplek Parken dan Sanggar Indah mulai dari pagi hingga jam sebelas atau dua belas siang. Sesudah itu, saya pulang kembali ke Ciwidey. Begitu usaha saya setiap hari,” katanya.
Tadinya saya jarang membeli bubur Ayam Mang Amir. Habis bau rokok. Sebab, si emangnya dulu melayani pembeli sambil merokok. Tapi, ia kini mengaku sudah berhenti merokok. “Sudah lama saya berhenti merokok. Sebab, rokok mahal, juga kadang ada pelanggan yang komplen buburnya bau rokok,” katanya.
Bukan tidak ingin ia menambah dan memperbanyak dagangannya, tapi ya sudah secukupnya saja. Asal ada untuk makan saya sudah cukup. Menurutnya, ia setiap hari bangun pukul 03.00 malam. Mulai memasak. Setelah salat Subuh, ia mulai berangkat dari Nengkelan Ciwidey ke Cangkuang menjajakan bubur ayam dengan memakai motor Honda Beat putihnya.

Tak mahal-mahal harga seporsi bubur ayam cukup dengan Rp5.000. “Kalau mau ditambah toping telor dan dua sate usus jadi Rp10.000,” katanya.
Mungkin ini bubur ayam Mang Amir ini bubur termurah se-dunia kata saya. Mang Amir hanya bisa ketawa.
“Saya tak banyak mengambil untung. Asal ada untung dan cukup buat makan sehari-hari saja,” katanya lagi.
Kami mengakhiri percakapan. Dan Mang Amir terus mengais rezeki dengan nge-gas motor Honda Beatnya menjajakan bubur ayam keliling komplek. (*)