Kota Bandung terus bergerak dengan cepat. Jalanan dipenuhi kendaraan setiap harinya, tempat nongkrong di sudut-sudut kota semakin ramai, dan orang-orang sibuk mengejar banyak hal seperti mencari kerja di tengah kehidupan yang semakin sulit dijalani. Di tengah ritme kota yang seperti itu, membaca perlahan berubah menjadi kebiasaan yang semakin tersingkir. Banyak orang kini lebih akrab dengan layar ponsel dibanding halaman buku, bahkan sejak bangun pagi hal pertama yang dicari sering kali adalah telepon genggam.
Situasi rendahnya budaya membaca membuat Hari Buku Nasional setiap 17 Mei penting untuk kembali diingat. Hari Buku Nasional mulai diperingati sejak tahun 2002 atas gagasan Menteri Pendidikan Nasional saat itu, Abdul Malik Fadjar, dan dipilih bertepatan dengan hari berdirinya Perpustakaan Nasional Republik Indonesia pada tahun 1980.
Peringatan tersebut lahir dari kegelisahan terhadap kondisi literasi masyarakat Indonesia yang masih tertinggal dari negara-negara lain. Data dari UNESCO pada 2002 menunjukkan tingkat melek huruf masyarakat Indonesia usia dewasa hanya berada di angka 87,9 persen, lebih rendah dibanding beberapa negara tetangga di Asia Tenggara.
Tidak hanya itu, industri buku nasional saat itu juga belum berkembang baik. Jumlah buku yang dicetak di Indonesia setiap tahunnya masih jauh tertinggal dibanding negara seperti Jepang dan China. Karena itu, Hari Buku Nasional bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan pengingat bahwa membaca masih menjadi tantangan yang belum benar-benar selesai.
Ironisnya, di tengah perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi hari ini, orang justru semakin terbiasa dengan hal-hal yang serba cepat dan singkat. Banyak orang lebih akrab dengan ringkasan media sosial dibanding membaca buku secara utuh, padahal dari proses membaca yang pelan itulah seseorang belajar berpikir lebih dalam.
Di Kota Bandung, minat membaca yang pelan itu sebenarnya masih bertahan di beberapa sudut kota, salah satunya di Pasar Buku Palasari. Di tengah kota yang sibuk mengejar kecepatan, lorong-lorong Palasari masih dipenuhi tumpukan buku, halaman-halaman lama, dan orang-orang yang masih percaya bahwa pengetahuan membutuhkan proses untuk dipahami.

Palasari Masih Dipenuhi Buku, tetapi Pembacanya Tak Lagi Seramai Dulu
Pasar Buku Palasari bukan sekadar deretan kios buku di tengah Kota Bandung. Tempat ini menyimpan jejak panjang tentang bagaimana budaya membaca pernah tumbuh begitu dekat dengan kehidupan masyarakatnya. Sejak tahun 1980-an, para pedagang buku yang sebelumnya berjualan di kawasan Cikapundung dipindahkan ke Jalan Palasari oleh pemerintah kota.
Pada awal tahun 1990-an, kebakaran sempat melanda kawasan pasar dan membuat para pedagang berpindah ke area sementara bekas lahan parkir. Namun tempat sementara itu justru bertahan hingga sekarang dan dikenal luas sebagai Pasar Buku Palasari. Hingga hari ini, kawasan tersebut masih dipenuhi berbagai jenis buku, mulai dari buku pelajaran, novel, komik, buku agama, hingga buku-buku lama yang sulit ditemukan di toko besar. Pasar ini buka setiap hari dari pukul 09.00 hingga 17.00 WIB, tetapi suasananya tidak lagi seramai masa kejayaannya dulu.
Padahal di tempat seperti Palasari, membaca terasa lebih dari sekadar mencari informasi. Ada proses mencari, membuka halaman demi halaman, hingga berbincang dengan pedagang buku, sebuah kebiasaan yang perlahan mulai hilang di tengah masyarakat yang semakin terbiasa dengan hal-hal instan.
Hari Buku Nasional seharusnya tidak berhenti sebagai peringatan tahunan yang hanya ramai dibahas selama sehari di media sosial. Di tengah kota yang semakin sibuk seperti Bandung, peringatan ini seharusnya menjadi pengingat bahwa budaya membaca perlahan mulai kalah oleh kebiasaan masyarakat yang menginginkan segala sesuatu secara cepat dan singkat. Keberadaan Pasar Buku Palasari menunjukkan bahwa minat membaca sebenarnya belum hilang sepenuhnya, tetapi ruang untuk mempertahankannya semakin sempit. Membaca buku sebenarnya bukan sekadar mencari pengetahuan, melainkan memberi ruang bagi seseorang untuk berhenti sejenak, memahami sesuatu secara perlahan, dan melihat kehidupan dengan lebih tenang.
Jika suatu hari Palasari benar-benar ditinggalkan, mungkin kota ini akan terus bergerak dengan cepat, tetapi membaca seharusnya tidak ikut kehilangan tempatnya. Di tengah kebiasaan masyarakat yang semakin terburu-buru, keberadaan Pasar Buku Palasari menjadi pengingat bahwa pengetahuan tidak selalu lahir dari sesuatu yang instan.
Sebab ketika masyarakat mulai kehilangan waktu untuk membaca, yang perlahan hilang sebenarnya bukan hanya kebiasaan membuka buku, melainkan juga kemampuan untuk berpikir lebih tenang dan memahami sesuatu secara lebih mendalam. (*)
REFERENSI
Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Pangkalpinang. (2023). Hari Buku Nasional 17 Mei, Ini Sejarah dan Cara Memperingatinya.
Susanti, R. (2022). Pasar Buku Palasari Bandung, Sejarah, Jam Buka, hingga Cara Menuju Lokasi. Kompas.com.