Sore itu disebuah apotek yang berada di pusat kota- saya sedang berkonsultasi dengan penjaga apotek.
"Teh korannya mau ?"
"Sebentar yah pak" jawab saya karena tanggung sedang bertransaksi dengan penjaga apotek.
Meski tidak melihat secara langsung tapi sudut mata saya menangkap sebuah bayangan bapak tersebut berdiri 5 meter dari saya sambil dengan wajah penuh harap. Bukan karena ingin dikasihani tapi harapan dan kebahagiaan bahwa dirinya bisa menyambung hidup untuk sehari ke depan.
"Boleh pak, saya mau tribun satu."
" Satu aja teh ? gak sama Radar Bandungnya aja"
" Boleh pak, jadi berapa?"
"6000 teh" sambil mengusap peluhnya menggunakan sapu tangan karena sore itu cuaca Bandung memang panas.
Saya pun memberikan uang Rp.10.000 nominalnya memang tidak besar dan saya lebihkan sedikit bukan untuk mengasihani beliau tapi rasa terimakasih saya karena beliau tidak menyerah dengan kehidupannya.
Koran memang pernah berjaya pada masanya. Ada satu hal yang masih saya ingat terkait pengalaman saya dengan koran saat kecil. Waktu saya SD saya menantikan koran bukan untuk mencari informasi supaya pintar tapi kesukaan saya terhadap PERCIL (Peer Kecil) salah satu rubik yang ada di koran PR hari minggu.
Kiriman cerita pendek dari anak-anak Bandung lain yang berhasil terpajang di halaman utama. Beberapa puisi, rubik mewarnai, menggambar hingga cerita prestasi akademik anak-anak yang berhasil tumbuh dan berkembang memanfaatkan potensinya untuk ajang sebuah perlombaan.
Setelah bertambah usia saya baru menyadari bahwa potongan puzzle itu membentuk diri saya di hari ini. Saya rasa literasi memang tidak bisa secara instan dirasakan tapi dia tumbuh mengakar ke bawah untuk membuat pondasi yang kuat. Begitu akarnya kuat dia bertumbuh seperti pohon bambu- kadang tidak membutuhkan banyak cahaya dan air untuk tumbuh. Ia menjulang sedikit demi sedikit setiap harinya.
Meski hari ini eksistensi koran cetak sudah mulai ditinggalkan pembacanya tapi saya masih menjadi salah satu penggemar setianya. Saya rasa dalam dunia digital tidak bisa kita menolak keberadaannya karena kemungkinan besar kita bisa tergerus zaman. Namun koran cetak juga tidak seharusnya ditinggalkan karena ia mampu menghadirkan tulisan yang mendalam. Jadi menurut saya keduanya menjadi fleksibilitas saja ketika kita butuh informasi yang cepat maka kita bisa menggunakan koran digital tapi ketika kita butuh informasi yang lebih mendalam dan kaya dengan makna maka membaca koran cetak sesekali bukan hal tabu di penghujung dunia digital ini.
Membaca koran cetak di pagi hari sambil duduk di kursi pelataran teras sambil sesekali menyeruput kopi atau teh bisa mengurangi distraksi. Pelan, berjalan lambat maka kita akan menemukan bahwa di percepatan dunia ini kita bisa melihat sisi lain dari dunia. Seorang ibu yang berjualan kue untuk membantu perekonomian keluarga, bapak penjual lap yang mondar-mandir menawarkan jualannya hingga bapak koran yang mungkin saja lelah tapi dia tidak menyerah menawarkan barang antik yaitu "koran" di era sebagian besar masyarakat mulai meningalkan jejaknya.

Mungkin kita sering menemui penjual yang menawarkan jasa atau barang yang kita tidak butuh. Tapi sesekali cobalah membeli apa yang mereka tawarkan bukan karena kasihan tapi rasa terimakasih kita kepada mereka yang tetap memilih bertahan di negara yang bahkan tidak pernah melihat keberadaan mereka secara manusiawi.
Bapak koran yang sore itu masih membawa setumpukan koran dan harapan yang masih terjaga. Menjadi bukti nyata bahwa bukan saja mereka hampir tergerus zaman tapi antusiasme mereka hidup yang perlu kita teladani. Juga keberadaan mereka yang perlu terus disuarakan agar para pemangku kebijakan bisa ramah terhadap perekonomian mereka. (*)