Di Italia ada kata terrarossa (terarosa) yang berarti tanah merah. Tanah hasil dari pelapukan batu kapur atau gamping. Di Indonesia banyak terdapat di perbukitan kapur, yang oleh penduduk setempat dimanfaatkan sebagai kawasan untuk menanam pohon jati, seperti di Jawa Tengah dan di Jawa Timur.
Ada juga kata terracotta (terakota), yang menunjukkan pada tanah yang berwarna merah kecoklatan atau jingga sedikit kusam. Tanah ini bukan hanya tanah dari hasil pelapukan batu kapur, tapi tanah lempung yang di dalamnya mengandung zat besi, sehingga menjadi merah. Setelah diolah, tanah merah itu akan dibentuk menjadi wadah sesuai dengan yang diinginkan pembuatnya atau pemesannya. Wadah yang sudah dibentuk dan mengeras, lalu dibakar, agar menjadi kuat dan tidak tembus air. Wadah itu dikenal sebagai tembikar. Bahkan sampai saat ini, perabotan itu masih digunakan menjadi menjadi perabotan keseharian dalam rumahtangga, mulai tempat penyimpan air, piring, alat menanak nasi, memasak lauk-pauk, memasak sayur-mayur, dll. Dalam perkembangannya, terakota bukan hanya dimanfaatkan menjadi perabotan rumah tangga, tapi dimanfaatkan menjadi karya seni dan media untuk kepentingan religi.
Dalam kata terrarossa dan terracotta terdapat kata ra yang bermakna merah. Demikian juga dalam bahasa Sumba, rara, berarti merah, seperti digunakan dalam toponim Desa Tanarara di Kecamatan Lewa, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur. Desa Tanarara berada di Kawasan batukapur atau kars. Batukapur yang melapuk menjadi tanah merah (terarosa) yang mengendap di ceruk-ceruk, lalu ditumbuhi rumput. Pada musim penghujan, kawasan Tanarara menjadi perbukitan sabana yang bergelombang hingga di lembah-lembahnya. Pada musim penghujan, nampak seperti hamparan karpet hijau mahaluas, tempat kuda-kuda digembalakan. Sebaliknya, pada musim kemarau, rumput itu menjadi mati, kering menguning. Perbukitan dan lembah berubah menjadi padang rumput keemasan.
Pada tahun 1970, Taufik Ismail menulis puisi Beri Daku Sumba, yang dimuat dalam majalah sastra Horizon, Agustus 1971.
…
Rinduku pada Sumba adalah rindu padang-padang terbuka
Dimana matahari bagai bola api, cuaca kering dan ternak mengeluh
Rinduku pada Sumba adalah rindu seribu ekor kuda
Yang turun menggemuruh di kaki bukit-bukit yang jauh.
Di Jawa Barat dan Banten pun terdapat toponim yang memakai kata ra seperti di Sumba. Di Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, terdapat toponim Tanara, yang berada di Desa Banjarsari. Toponim Tanara ini selain menjadi nama kampung, juga digunakan menjadi nama SD Negeri Tanara, dan menjadi nama perkebunan teh Tanara yang menjadi bagian dari perkebunan teh Malabar.
Di Kabupaten Tangerang, Banten, ada toponim Tanara di Desa Jenggot, Kecamatan Mekar Baru. Juga ada toponim Kecamatan Tanara di Kabupaten Serang, Banten.
Toponim Tanara, baik yang ada di Jawa Barat maupun di Banten, merujuk pada keadaan kawasan tersebut, yaitu tanah yang berwarna merah. Secara umum disebut tanah podsolik, atau tanah podsolik merah kuning, merujuk pada warna tanah tersebut yang dominan berwarna merah. Tanah merah di Jawa Barat dan Banten bukan berasal dari hasil pelapukan batu kapur atau batuan yang mengandung zat besi, tapi umumnya berupa material hasil letusan gunung api yang bersifat asam. Biasanya material letusan yang dihamburkan pada saat letusan gunung api dengan tipe letusan plinian yang membentuk kaldera.
Ra yang bermakna merah disematkan juga pada bayi secara umum, yang kemudian bergeser lebih kepada bayi perempuan, yang disebut rara, yang berarti bayi yang masih merah, yang dalam bahasa Sunda baru disebut orok beureum. Makna rara kemudian bergeser lagi maknannya menjadi perempuan atau gadis, dan rara yang menunjukkan gelar kebangsawanan.

Di Italia terdapat kata terrarossa dan terracotta. Di Sumba ada toponim Tanarara. Di Jawa Barat dan Banten, ada toponim Tanara. Semua kata itu merujuk pada akar kata ra yang bermakna merah. Ini menunjukkan bahwa pada mulanya, ada kosa kata-kosa kata yang sama, yang digunakan dalam berbahasa. Namun dalam perjalanannya, para penutur bahasa itu mengembara ke berbagai daerah yang terhampar di permukaan bumi. Para pengembara penutur Bahasa tersebut kemudian ada yang terisolasi oleh lautan, danau yang luas, sungai yang deras, menyebabkan ada kosa kata yang hilang digantikan kosa kata baru, atau ada kosa kata bergeser maknanya. Namun ada juga kata yang tetap utuh, yang di suatu tempat masih produktif digunakan, namun di tempat lain sudah tidak digunakan lagi. Sebagai contoh dalam tulisan ini, di Sumba, kata rara masih digunakan dalam berbahasa sampai sekarang, dan menjadi toponim Tanarara. Di Jawa Barat dan Banten, kata ra sudah tidak produktif lagi dalam berbahasa, namun abadi menjadi toponim, Tanara.
Toponim Tanarara dan Tanara, terdiri dari tana dan rara atau ra, yang bermakna tanah merah. Tana dan rara atau ra, diucapkan dan ditulis tanpa huruf h. Apakah kata darah dan merah berasal dari kata ra yang ditambahkan huruf h di belakangnya? (*)