Dini hari itu, Bandung seperti biasanya menggambarkan keheningan yang menyisakan suara-suara tipis dari kendaraan yang masih bertarung dengan hidupnya. Manusia-manusia terpilih yang terbangun untuk berbincang dengan Tuhannya. Manusia-manusia pekerja yang tak bisa berhenti karena kebutuhan hidupnya.
Jam menunjukkan pukul 02:30 samar-samar terdengar perempuan berteriak sambil menangis. Perlahan mata terbuka memastikan bahwa hal tersebut bukanlah mimpi. Tak lama terdengar jelas suara teriakan yang menyisakkan luka mendalam- terdengar lebih menakutkan dibandingkan suara gaib senandung yang pernah kudengar di balik pintu kosan. Marah yang bercampur dengan rasa benci seolah menyiratkan hasrat ingin membunuh orang yang dimaksud. Teriakkannya cukup memekakkan telinga tapi anehnya pita suara perempuan itu tidak terdengar serak. Suaranya menjerit- membucah keheningan malam.
Orang-orang di jendela rumah mulai mengintip. Cahaya lampu menyala perlahan di setiap rumah. Tidak ada yang berani keluar dan bertanya "Apakah kamu baik-baik saja?" begitu pun denganku yang sudah takut bergeridig.
Ucapnya berulang dengan kemarahan yang semakin menjadi. Aku tidak tahu persis masalah apa yang terjadi menimpanya. Hanya saja mungkin aku bisa menebak bahwa suara jeritan itu adalah sebuah emosi yang menumpuk dan dipendam terlalu lama. Bahkan dalam segala tekanan sosial yang terjadi kepada perempuan- dirinya masih harus menanggung beban dikhianati oleh pria yang pasti jelas sangat dicintainya. Dari cara berteriaknya pun terlihat amat dalam luka yang disimpannya.
Dari kejadian di atas ada satu hal yang perlu dibahas, kenapa sebagian besar perempuan masih menggantungkan hidupnya 100 % kepada pasangannya. Bukan berarti tidak cinta tapi manusia memang tempatnya kecewa-- maka kita perlu menyisihkan ruang kecewa itu supaya jika terjadi pengkhianatan, perempuan masih bisa berdiri di kakinya sendiri.
Kembali pada kondisi masing-masing perempuan yang bisa terjerat dalam kasus ini. Sebagian besar perempuan yang terlahir dalam masyarakat menengah ke bawah, mereka acap kali tidak memiliki kesempatan mengenyam pendidikan. Maka salah satu cara keluarganya adalah dengan menikahkan anaknya dan berharap bisa mengurangi beban ekonomi karena ada suaminya yang berkenan untuk menanggung.
Selain alasan di atas ada juga perempuan yang sudah menikah tapi tidak diperbolehkan untuk berkarir oleh semuanya. Tentunya dengan berbagai pertimbangan yang berkaitan dengan kewajiban mengurus anak, suami dan urusan domestik.
Sehingga dalam dua kondisi di atas perempuan tidak punya power untuk dirinya sendiri. Ia menggantungkan cintanya, kesetiannya bahkan aspek finansial nya kepada sang suami. Sehingga banyak dari perempuan ketika mendapat kekerasan dalam rumah tangga mereka tidak mudah lepas dari hubungan tersebut.
Alasan yang dilontarkan berkaitan dengan beberapa hal misalnya karena sudah terlanjur sayang jadi merasa perilaku menyimpang tersebut adalah bentuk taat istri kepada suami. Jadi apapun perlakuannya perempuan harus manut. Namun ada juga perempuan yang menyadari bahwa hal tersebut toxic tapi mereka tidak bisa keluar karena alasan anak dan finansial mereka jika membayangkan terpisah dengan pasangannya.
Kebergantungan tersebutlah yang membuat perempuan seringkali bertahan meski sudah dikhianati, diberikan kekerasan atau bahkan tidak diberikan finansial karena suaminya tidak bekerja. Nah banyak perempuan juga yang tidak bisa keluar dari situasi tersebut karena takut memegang status janda. Seperti kita ketahui posisi janda seringkali dipandang sebelah mata di masyarakat. Padahal menurut saya nilai diri seorang perempuan tidak bisa hanya dinilai dari statusnya saja. Masih banyak hal lainnya misalnya keteguhannya dalam menjalani hidup dan bagaimana perannya bagi keluarga atau sosial di sekitarnya.
Perempuan juga sering dinarasikan sebagai manusia yang paling cerewet karena selalu membicarakan banyak hal. Tidak hanya bagi perempuan single tapi stigma itu akan melekat erat ketika perempuan sudah mengarungi bahtera rumah tangga. Namun perlu disadari bahwa asumsi ini juga tidak berlaku bagi semua perempuan karena di sisi lain masih ada juga perempuan yang jauh lebih pendiam dan hanya mengeluarkan sedikit kata-kata.
Ada kata-kata menarik yang sering berseliweran di media sosial tentang menjadi ibu impian yang ideal dan realitasnya setelah mempunyai anak.

Secara naluriah ternyata perempuan memang punya sosok ideal yang lembut ketika berharap menjadi seorang ibu. Namun di masyarakat kita kebanyakan hal tersebut tidak selalu berjalan ideal ketika perempuan benar- benar menjalani peran tersebut.
Jika melihat Nikita Willy yang tentu punya previlege lebih dibandingkan dengan perempuan lain. Secara ekonomi sudah terpenuhi dengan baik begitu pun dengan pengetahuan dan pendidikan yang membuat perannya menjadi seorang ibu sedikit lebih mudah. Kondisi ekonomi, sosial hingga psikologi yang sehat memang kerap mempengaruhi perempuan dalam kondisi menjadi ibu. Perempuan yang tenang tentu bisa melahirkan asuhan yang tenang juga kepada anaknya. Begitu pun sebaliknya. Dan fakta di lapangan perempuan yang sudah memenuhi ke tiga aspek tersebut sepertinya jauh lebih sedikit dibandingkan dengan yang sudah ideal. Itu kenapa harapan menjadi ibu yang tenang malah ibu yang sering marah-marah. (*)