Ayo Netizen

Sesat Logika, Tantangan dalam Berbahasa

Oleh: Vito Prasetyo Selasa 09 Jun 2026, 15:08 WIB
Ilustrasi rak buku. (Sumber: Pexels | Foto: Yazid N)

Benarkah penggunaan bahasa di ruang publik semakin kehilangan estetikanya? Yang membuat kita menjadi lebih prihatin, karena banyak pejabat publik sekadar berbicara dengan narasi yang sering menimbulkan penafsiran yang sangat ambivalen, dan terkesan hanya demi sebuah popularitas atau identifikasi sosial belaka. Stigma yang dibangun sering kali rentan dengan membuat kegaduhan bagi para netizen.

Dampaknya? Secara simultan akan tumbuh kerusakan-kerusakan struktural dalam berbahasa. Akan menjadi sesat logika, yang jika ditelisik lebih dalam, narasi-narasi tersebut hanya berisi kebohongan yang terbungkus rapat. Kondisi ini sangat didukung oleh ruang digital yang tumbuh seperti jamur, dan bisa dijangkau oleh siapa saja. Sementara masyarakat Indonesia masih rendah kemampuan analisis dalam berliterasi.

Manusia adalah makhluk yang mampu berpikir, tetapi tidak selalu manusia bisa berpikir dengan benar. Di antara kata dan keyakinan, di antara sebab dan akibat, terdapat ruang gelap tempat logika dapat kehilangan arah. Di sanalah sesat logika berdiam—bukan sebagai kesalahan yang mencolok, melainkan sebagai jalan abstrak yang tampak lurus, namun membawa kepada kesalahan sangat fatal dalam fungsi logika.

Sesat logika tidak lahir dari kebodohan semata. Ia sering tumbuh justru dari kepercayaan diri intelektual yang berlebihan. Ketika manusia merasa telah sampai pada kebenaran, ia berhenti mempertanyakan cara ia sampai ke sana. Dalam keheningan itulah logika berubah dari alat pencari kebenaran menjadi alat pembenaran.

Secara filosofis, logika adalah disiplin yang menjanjikan keteraturan pikiran. Ia memberi struktur pada kekacauan pengalaman, menyusun dunia dalam premis dan kesimpulan. Namun justru berdampak pada rapuhnya daya nalar sehat. Logika bukan jaminan kebenaran, melainkan hanya tata cara menuju kebenaran. Ketika tata cara itu dilanggar—baik sengaja maupun tidak—maka lahirlah sesat logika: kebenaran palsu yang berdiri di atas bentuk yang tampak sah, meski sangat skeptis.

Aristoteles (filsuf) telah lama memperingatkan bahwa kesesatan paling berbahaya bukan yang jelas salah, melainkan yang tampak benar. Sesat logika bekerja seperti bayangan: ia meniru bentuk tubuh, tetapi tidak memiliki substansi. Ia berbicara dalam bahasa rasional, tetapi tujuannya bukan pemahaman, melainkan kemenangan. Dalam wacana publik, ia menjelma menjadi retorika yang memikat; dalam ruang batin, ia berubah menjadi pembela ego.

Jika kita bandingkan dengan fenomena umum yang terjadi kini, konsep rasionalitas tidak lagi dipandang sebagai pilihan kebenaran. Dampak dunia maya terlalu dahsyat dalam sendi kehidupan sosial. Terbentuknya ruang pengakuan bagi identifikasi sosial berproses sangat instan. Objektivitas dari rasionalitas telah bergeser ke arah kemenangan dalam menguber popularitas. Acapkali keilmuan menjadi rivalitas dari sebuah kepentingan, yang dalam konteks sosial menjadi pembenaran, bukan sebagai pembanding.

Lebih jauh, sesat logika bukan sekadar persoalan struktur argumen, melainkan persoalan etika berpikir. Ia muncul ketika akal tunduk pada hasrat untuk menang; untuk benar; untuk diakui. Dalam kondisi ini, premis tidak lagi dipilih karena kebenarannya, tetapi karena kegunaannya. Kesimpulan tidak lagi dicapai, melainkan ditentukan sejak awal.

Pikiran kita dipenuhi bias, jalan pintas mental, dan kecenderungan untuk menyederhanakan dunia yang kompleks. Maka sesat logika bukan anomali, melainkan gejala. Ia adalah bukti bahwa rasio manusia selalu hidup berdampingan dengan ketakutan, ingatan, dan kepentingan.

Di sini bahasa memainkan peran ganda. Bahasa adalah medium logika, tetapi juga medan penyimpangannya. Kata-kata seperti “jelas”, “pasti”, dan “semua orang tahu” sering menjadi pintu masuk sesat logika. Bahasa memberi ilusi kepastian, padahal logika sejati justru tumbuh dari keraguan yang terpelihara. Ketika bahasa berhenti bertanya, logika mulai tersesat.

Dalam pendidikan, sesat logika sering direduksi menjadi daftar kesalahan yang harus dihafal: ad hominem, generalisasi, dilema palsu. Padahal, yang lebih penting bukanlah mengenali nama kesesatan, melainkan memahami dorongan batin yang melahirkannya. Mengajarkan logika tanpa mengajarkan kerendahan hati intelektual hanyalah melatih teknik, bukan kebijaksanaan.

Pada akhirnya, sesat logika adalah cermin. Ia memantulkan cara kita berpikir tentang dunia dan tentang diri kita sendiri. Ia mengingatkan bahwa kebenaran bukan hanya soal kesimpulan yang tepat, tetapi juga tentang kesetiaan pada proses. Logika yang tidak diawasi oleh kesadaran etis akan selalu mencari jalan pintas—dan di setiap jalan pintas, ada kemungkinan tersesat.

Maka, berpikir secara filosofis bukanlah upaya untuk selalu benar, melainkan keberanian untuk selalu memeriksa: dari mana premis ini datang, untuk siapa kesimpulan ini bekerja, dan apa yang disembunyikan oleh kepastian yang terasa nyaman. Di sanalah logika kembali menemukan jalannya—bukan sebagai alat dominasi, tetapi sebagai laku kejujuran terhadap pikiran sendiri.

Dari narasi di atas, ada keterhubungan kekuatan logika dan aspek psikologis seseorang. Mental seseorang juga sangat berpengaruh terhadap dominasi pikirannya. Dalam kondisi psikis yang tertekan, pada umumnya orang berpikir untuk mencari jalan pintas, tanpa pertimbangan logika. Meski kondisi ini tidak bersifat mutlak (absolut), karena sekecil apa pun masih ada alam bawah sadar yang berfungsi untuk keseimbangan berpikir dan dalam pengucapan bahasa yang benar.

Bahasa tidak hanya sekadar alat untuk berinteraksi dan berkomunikasi, tetapi dapat memengaruhi juga perubahan sosial. (Sumber: Unsplash/Fahmi Ramadhan)

Berdasarkan pengertian umum, “sesat logika” adalah frasa dalam bahasa Indonesia yang merujuk pada kesalahan dalam proses penalaran, baik karena premis yang keliru, hubungan sebab-akibat yang tidak sah, maupun manipulasi argumen yang tampak masuk akal tetapi secara struktural cacat.

Lantas, bagaimana dalam perspektif kontemporer? Ahli kognitif modern Daniel Kahneman melihat sesat logika sebagai: hasil benturan antara intuisi cepat dan penalaran lambat. Artinya, sesat logika bukan sekadar kebodohan, melainkan bias kognitif yang manusiawi.

Dilihat dari analisis linguistik, struktur sintaksis “sesat logika” adalah frasa nominal endosentris. Di mana “sesat” sebagai inti, dan “logika” sebagai penjelas. Makna frasa bergantung pada relasi atributif, bukan predikatif. Ia berbeda dari kalimat “logikanya sesat”.

Secara semantik, frasa ini bersifat: abstrak, evaluatif, dan meta-kognitif yakni menilai cara berpikir, bukan pada isi pikiran. Sering digunakan sebagai label kritik, bukan deskripsi netral.

Secara prosodik, frasa ini sering diucapkan dengan: tekanan naik di “sesat” dan penurunan di “logika” dapat menciptakan efek penegasan dan vonis. Frasa “Sesat Logika” dalam bahasa Indonesia konteks lingua franca, frasa ini acapkali digunakan lintas disiplin: politik, agama, media sosial, akademik. Memiliki padanan longgar seperti logika keliru; penalaran cacat; argumen menyesatkan. Namun, “sesat logika” lebih bersifat: normatif; retoris; berdaya emosional.

Memahami frasa ini secara mendalam berarti belajar meragukan cara kita meyakini sesuatu, bukan hanya apa yang kita yakini. Perlunya dibangun kesadaran kolektif untuk menjaga nilai-nilai logika murni dalam berpikir kritis, terutama di era digital yang tumbuh pesat dan sulit terkendali.

Gunakan dan menjaga ruang siber kita secara bijak, agar sumber-sumber informasi menjadi ruang yang nyaman dan sehat untuk berpikir. Mewaspadai adanya manipulasi persepsi yang sering ditemukan, terutama lewat layar digital. Waspada dengan kesadaran kolektif untuk menjaga bahasa kita agar tidak terjadi sesat logika.

Kehilangan bahasa berarti kita akan kehilangan budaya. (*)

*) Penulis adalah sastrawan dan peminat bahasa.

TAGS:
Reporter Vito Prasetyo
Editor Aris Abdulsalam