Ayo Netizen

Ketika Menteng Meninggalkan Gaya Indische

Oleh: Jannatul Rohmah Aisyiah Selasa 09 Jun 2026, 18:27 WIB
Rumah dengan atap mansard dari tahun 1941 dan Komplek Perumahan Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM). (Sumber: Buku Adolf Heuken dan Koleksi Perpustakaan Universitas Leiden (KITLV))

Menteng merupakan salah satu kawasan elit yang ada di pusat kota Jakarta yang dikenal karena lokasinya yang strategis dan berisikan hunian-hunian mewah. Menteng sebagai kawasan elit, sudah ada sejak zaman pemerintahan kolonial Belanda yang terletak di selatan Kota Batavia. Awalnya, pembangunan Menteng dirancang oleh arsitek Belanda P.A.J. Moojen yang sudah berkecimpung di Batavia sejak tahun 1903.

P.A.J Moojen terinspirasi oleh seorang arsitek pembaharuan dari Inggris, Ebenezer Howard yang lebih dulu membuat konsep “Kota Taman”. Ia memutuskan untuk menerapkan konsep tersebut di Batavia, Hindia Belanda. Proyek pembangunan Menteng yang diberi nama Nieuw Gondangdia berlangsung di antara tahun 1910 - 1918. Surat kabar NRC Handelsblad edisi 29 Mei 1987 mencatat bahwa pada dekade 1920-an hingga 1930-an, kawasan permukiman Eropa seperti Nieuw Gondangdia dan Menteng mulai diperluas. 

Arsitektur Gaya Indische

Gaya arsitektur Indis (Indische) dibawa oleh Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels pada tahun 1908-1913. Gaya arsitektur tersebut terus berkembang khususnya pada bangunan-bangunan pusat pemerintahan kolonial di Jakarta, Semarang, Surabaya, dan Yogyakarta serta di sekitar jalan pos saat itu. Menteng menjadi salah satu kawasan yang bangunannya didominasi oleh gaya Indis. Menteng didominasi bangunan bergaya Indis karena dirancang untuk menjadi sebuah “Kota Taman” dengan taman yang luas serta bangunan-bangunan seperti villa bergaya Indis.

Selain bangunan-bangunan seperti villa, pada masa itu Menteng juga berisikan kantor perwakilan negara asing dan kedutaan besar yang membuat Menteng dikenal sebagai pusat diplomasi. Dengan demikian, kawasan ini menjadi pilihan tempat tinggal bagi middle class (kelas menengah) dan berbagai kalangan penting, di antaranya, Barack Obama mantan Presiden Amerika Serikat yang menghabiskan masa kecilnya di Menteng.  Salah satu bangunan yang mengusung gaya arsitektur ini adalah Gedung Joang '45 Menteng yang kini menjadi Museum Perjuangan Kemerdekaan Indonesia.

Perbedaan antara Gaya Indis dan Gaya Jengki

Terdapat perbedaan di antara kedua gaya arsitektur Indis dan Jengki. Bangunan dengan gaya Indis banyak menggunakan atap limasan atau joglo dengan ornamen seperti gevel, domer, dan tower pada atap bangunan. Selain itu, bangunan Indis menerapkan tata ruang arsitektur Jawa seperti beranda, kamar tidur yang simetris, koridor sebagai penghubung antara ruang, dan ruang utama terletak di tengah bangunan. Kemudian jendela dan pintu terdapat ventilasi udara yang berada di bagian atas dengan tujuan untuk mengatasi permasalahan iklim tropis seperti udara lembab di Indonesia. Kita ambil contoh bangunan Indis di Kota Surakarta, untuk dindingnya menggunakan material dasar hidrolik mortar (campuran batu bata, gamping, dan semen).

Bangunan dengan gaya Jengki memiliki ciri yang asimetris yang melambangkan kebebasan. Dinding bangunan Jengki cenderung miring atau berbentuk segi lima. Atap dari bangunan Jengki menggunakan atap pelana asimetris. Pada jendela, menggunakan beton sebagai bingkai dengan kaca sebagai bahan yang dominan baik di jendela maupun di pintu dengan kusen jendela dan pintu yang tetap berbentuk asimetris. Bangunan Jengki juga selalu memiliki teras yang lebar. Tak hanya itu, bangunan Jengki selalu memiliki roster atau ventilasi serta penggunaan tiang berbentuk V.

Faktor Pergeseran dari Gaya Indis ke Gaya Jengki

Menurut surat kabar Leeuwarder Courant: Hoofdblad van Friesland edisi 19 Oktober 1972, wilayah Menteng pada sekitar tahun 1950-an masih kental dengan nuansa kolonial. Banyak bangunan yang dipertahankan bentuk aslinya saat didirikan oleh pemerintah Belanda dengan gaya arsitektur Indis. Namun, wajah Menteng mulai berubah pasca-kemerdekaan seiring dengan lahirnya arsitektur gaya Jengki. Gaya ini merupakan bentuk perlawanan dan ekspresi kemandirian arsitek lokal yang ingin menghilangkan pengaruh Barat. Didorong oleh rasa tidak suka terhadap Belanda dan semangat nasionalisme yang tinggi, para arsitek lokal pun mencintapkan identitas arsitektur baru yang mandiri.

Awal muncul gaya arsitektur Jengki terletak di sebuah perumahan yang diperuntukkan penduduk middle class (kelas menengah) di Kebayoran Baru, Jakarta lalu menyebar ke daerah lain. Selain faktor politik, terdapat juga faktor Sosial-Budaya dan identitas lokal. Adanya percampuran etnis dengan masuknya masyarakat Betawi, Sunda, dan pendatang lain menciptakan “kampung kota” dengan arsitektur tropis lokal (rumah panggung) yang kontras dengan rumah bergaya Belanda. Salah satu contoh rumah dengan gaya arsitektur Jengki adalah kediaman Ibu Fatmawati (Puri Fatmawati), istri Presiden Soekarno di Jalan Sriwijaya 26.

Menteng sebagai Cagar Budaya

Dari masa Kolonial hingga sekarang, sisa-sisa bangunan yang masih bertahan dijadikan Cagar Budaya oleh pemerintah Jakarta. Hal tersebut dilakukan guna melestarikan bangunan-bangunan bersejarah. Diatur oleh UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya serta melalui Keputusan Gubernur DKI Jakarta No. D-VI-6098/d/33/1975, menetapkan Menteng secara khusus dilindungi sebagai lingkungan pemugaran untuk mencegah pembongkaran bangunan bersejarah.

Menteng yang kita kenal sekarang hanya sebatas kawasan elit, namun dibalik itu semua terdapat kisah sejarah yang panjang. Awal mula bagaimana para arsitek Belanda merancang sebuah kota modern untuk kepentingan mereka, hingga hasil dari rancangan tersebut menjadi peninggalan yang sangat berarti bagi tata kota Jakarta serta masyarakat Indonesia. Maka dari itu, kita sebagai penerus bangsa harus tetap melestarikan bangunan-bangunan ikonik peninggalan pemerintahan kolonial serta bangunan peninggalan hasil arsitek-arsitek lokal. (*)

Reporter Jannatul Rohmah Aisyiah
Editor Aris Abdulsalam