Siapa sih yang tidak kenal dengan peuyeum? kuliner ini adalah salah satu ikon Jawa Barat, terutama kota Bandung. Ditambah lagi, makanan ini merupakan oleh-oleh yang sering dijumpai ketika kita pergi ke kota kembang itu. Daripada penasaran, mari kita kenalan dengan kuliner satu ini.
Dilansir dari kumparan (26 November 2023), peuyeum merupakan salah satu makanan tradisional yang sudah ada sejak zaman kolonial Belanda. Peuyeum atau yang lebih dikenal sebagai tapai adalah makanan dari hasil fermentasi singkong. Hal tersebut dikarenakan pada saat itu produksi singkong di daerah Cimenyan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat melimpah ruah sehingga masyarakat mencari cara agar singkong yang berhasil dipanen tidak cepat membusuk.
Nama peuyeum sendiri berasal dari proses pembuatannya yaitu ‘meuyeum’ atau memeram. Karena peuyeum sudah ada sejak zaman kolonial, para pembuatnya tidak perlu menunggu hasil lab untuk dapat mengetahui kapan makanan ini matang dan bisa disantap, mereka bisa mengetahuinya hanya dari bau dan teksturnya saja. Dari yang awal mulanya hanya untuk konsumsi biasa saja, sekarang peuyeum menjadi salah satu kuliner yang dapat divariasikan dengan bahan lainnya, bahkan beberapa dessert juga ada yang menggunakan peuyeum sebagai bahan dasar maupun toping makanan.
Berdasarkan Jurnal yang didapat dari repository.upi.edu, Pada tahun 1950-an pengrajin peuyeum yang berada di Cimenyan, mencapai sekitar 200 orang. Kemudian, sekitar tahun 80-90 -an muncul lagu berjudul “Peuyeum Bandung” yang diciptakan oleh Sambas Mangundikarta dan dipopulerkan oleh Nining Meida. Lagu tersebutlah yang membuat eksistensi peuyeum yang awalnya hanya makanan biasa berkembang menjadi salah satu ikon yang mengingatkan orang akan kota Bandung.

Berkat produksi ini, masyarakat Cimenyan pada saat itu menjadi sangat terbantu karena dapat membuka lapangan pekerjaan dan meningkatkan ekonomi masyarakat sekitarnya. Namun, sangat disayangkan jumlah pengrajin peuyeum ini semakin sedikit. Tercatat pada tahun 2013 hanya tersisa sekitar 14 orang pengrajin peuyeum bandung yang tersisa di Cimenyan. Selain itu, banyaknya makanan-makanan lain yang menjadi popular membuat peuyeum bandung tidak lagi menjadi incaran untuk dijadikan oleh-oleh.
Cara mengkonsumsi peuyeum pun mengalami perbedaan yang signifikan. Jika dahulu, orang – orang menikmati peuyeum secara langsung dengan ditemani teh hangat, sekarang orang – orang menikmati peuyeum secara tidak langsung dengan cara kembali diolah baik dijadikan peuyeum ball, colenak, wingko, hingga toping es doger, dan yang lainnya. Adapun konsumsi peuyeum seperti di zaman dulu biasanya dilakukan oleh orang tua kita dari kalangan gen-x dan millennial.
Peuyeum bukan hanya makanan tradisional maupun sekedar oleh-oleh khas Bandung saja tetapi, peuyeum juga merupakan salah satu warisan yang harus kita lestarikan agar kuliner ini tidak hilang di telan zaman. Maka sebagai generasi-z yang hidup dijaman yang serba modern ini, alangkah lebih baiknya agar kita dapat mengembangkan dan berinovasi untuk kuliner ini sehingga eksistensinya tidak hilang ditelan zaman. (*)
Sumber:
Ciputra University Library. 2018. Aneka hidangan dari peuyeum Bandung: Tape singkong. https://www.ciputra.ac.id/library/aneka-hidangan-dari-peuyeum-bandung-tape-singkong/
- Gardjito Murdijati., Pridia Heni., Millaty Marosimy. 2019. [Kuliner Sunda : Nikmat sedapnya melegenda]. https://books.google.co.id/books?id=pvdUzQEACAAJ&pg=PA27&hl=id&source=gbs_toc_r&cad=2#v=onepage&q&f=false