Ayo Netizen

Menelusuri Jejak Historis Surabi, Oleh-Oleh Khas Jawa Barat

Oleh: syakira Zanetta Vieriyal Rabu 10 Jun 2026, 16:48 WIB
Surabi Cihapit Bandung. (Sumber: Instagram | Foto: Surabi Cihapit)

Di tengah gempuran jajanan dan kuliner kekinian di sudut-sudut Kota Bandung, ada satu aroma yang tidak pernah kehilangan rumahnya, yaitu aroma dari surabi yang sudah melekat sebagai simbolis masyarakat Sunda sejak tahun 90-an. Surabi atau sering juga disebut sebagai serabi, merupakan kudapan atau jajanan yang terkenal di beberapa daerah, terutama kota Bandung sejak zaman kolonial Belanda.

Kehadirannya ditandai oleh kepulan asap dari tungku-tungku tanah liat di pinggir jalan, selalu sukses menahan siapapun untuk singgah atau sekadar menoleh.

Kudapan berbahan dasar tepung beras dan santan ini perlahan bertransformasi, dari yang sekadar varian oncom klasik yang rasanya autentik hingga sentuhan rasa-rasa yang lebih kekinian. Di balik gigitan lembut dari surabi yang gurih, ada banyak cerita filosofi kehidupan masyarakat Sunda sejak era kolonial Belanda.

Kue Serabi Bandung (Sumber: Perpustakaan Budaya Indonesia) (Sumber: https://budaya-indonesia.org/Surabi-Bandung-1)

Mengulas beberapa waktu silam, surabi adalah wujud nyata dari filosofi masyarakat Sunda yang telah mendorong pada pemuda di tanah Sunda untuk terus beraktivitas dengan energi penuh. Jajanan pasar ini telah di catat dalam surat kabar hingga arsip Belanda, setidaknya sejak tahun 1923 (Setiawan, 2015).

Surabi di proses dengan cara pembakaran yang khas hingga menciptakan tekstur luar yang renyah namun lembut di dalam (Syarifuddin, 2018).  Rasa surabi Bandung terbagi menjadi dua kategori, yaitu manis dan asin. Surabi manis disajikan dengan saus kinca yang terbuat dari gula merah, sementara surabi asin diberi taburan oncom di atasnya sebelum matang.

Memasuki era krisis moneter di akhir tahun 90-an, tren kedai oleh-oleh dan jajanan mulai ramai di tengah kota Bandung. Mereka mengubah kudapan sederhana menjadi sebuah hidangan khas Bandung yang memiliki nilai kuliner Nusantara yang tinggi (Risqienna, N.A., Khofifah, A.N., Nabilah, 2023).

Sampai saat ini, surabi Bandung masih menjadi daya tarik pelancong maupun warga lokal dalam hal berburu kuliner Nusantara. (*)

Sumber:

  • Risqienna, N.A., Khofifah, A.N., Nabilah, L. . (2023). Perkembangan Varian Surabi Makanan Lokal Khas Bandung Yang Menjadi Daya Tarik Budaya. Jurnal Pariwisata Dan Perhotelan.
  • Setiawan, R. (2015). Memaknai Kuliner Tradisional di Nusantara: Sebuah Tinjauan Etis. Jurnal Etika Sosial.
  • Syarifuddin, D. (2018). Memaknai Kuliner Lokal Sebagai Daya Tarik Wisata Kota Bandung. Jurnal Abdimas BSI: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat.
Reporter syakira Zanetta Vieriyal
Editor Aris Abdulsalam