Pelaku industri sedang pusing tujuh keliling akibat pengadaan bahan baku untuk pabriknya yang kini sulit didapat karena masalah nilai tukar rupiah dan terganggunya rantai pasok global.
Terlihat betapa peliknya masalah bahan baku industri di Jawa Barat. Adanya ketergantungan impor untuk material dasar (seperti bahan kimia tekstil), biaya logistik yang tinggi, fluktuasi nilai tukar, serta regulasi ekspor-impor yang ketat. Hal ini memicu penumpukan biaya produksi dan ancaman relokasi pabrik.Para pekerja juga merasa was-was karena bisa terkena pengurangan jam kerja bahkan bisa kena PHK.
Industri manufaktur utama di Jawa Barat seperti sektor Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) antara lain di wilayah Bandung dan Purwakarta selama ini masih sangat bergantung pada pasokan bahan baku dan serat sintetis dari luar negeri.
Dalam kondisi krisis sebenarnya ada solusi di sekitar kita, yakni solusi penggunaan bahan baku yang lebih alami untuk bahan baku industri TPT. Solusi tersebut adalah penggunaan substitusi sebagian kebutuhan bahan baku dengan ulat sutra. Apalagi Provinsi Jawa Barat memiliki beberapa sentra budidaya dan perkebunan ulat sutra (termasuk perkebunan tanaman murbei sebagai pakan ulat) yang tersebar di wilayah dataran tinggi seperti Bogor, Sukabumi, Garut, Sumedang, dan Tasikmalaya.
Lokasi utama yang terkenal dengan fasilitas budidaya dan edukasi antara lain di Sukamantri, Ciapus, Bogor). Disitu menjadi salah satu lokasi wisata budidaya dan edukasi pengolahan ulat sutra populer di kawasan kaki Gunung Salak.
Wilayah pengembangan ulat sutra yang dikelola bersama petani setempat itu untuk memproduksi sutra nasional. Di Jabar sudah ada beberapa kelompok usaha seperti Pondok Sutra yang memberdayakan masyarakat desa mulai dari budidaya murbei, pemeliharaan ulat, hingga penenunan kain. Inilah yang sekarang ini perlu diberi insentif yang memadai agar momentum krisis bahan baku TPT bisa teratasi.
Biaya logistik yang meningkat membuat pasokan bahan baku dari pelabuhan atau daerah penghasil lainnya membengkak. Apalagi dengan adanya kenaikan BBM untuk industri.
Nilai tukar rupiah menembus batas psikologis di level Rp 18.000 per dolar AS semakin membuat kondisi industri kian sulit. Untuk sektor industri TPT dan sektor plastik harga bahan baku naik antara 40 hingga 50 persen, bahkan ada yang mengalami kenaikan hingga dua kali lipat.
Para pengusaha didorong untuk memperkuat jejaring komunitas dan mencari solusi alternatif yang lebih membumi dan lebih bernuansa ekonomi hijau ( green economy ) agar dapat bertahan di tengah krisis pasokan dan tingginya harga bahan baku ini.

Transformasi Bahan Baku Berbasis Sumber Daya Lokal
Komitmen pemerintah untuk menggenjot lokalisasi komponen perlu disertai dengan langkah detail. Mestinya pemerintah menerapkan secara konsisten strategi Industrialisasi Substitusi Impor (ISI) untuk perangkat keras dan lunak yang dibutuhkan oleh negeri ini. Secara sederhana ISI dapat didefinisikan sebagai usaha suatu negara untuk melakukan substitusi barang-barang impor dengan barang-barang sejenis yang diproduksi oleh industri domestik.
Berdasarkan jenis barang yang diproduksi, ISI dikelompokkan menjadi dua hal. Pertama, yang berorientasi pada pasar atau market-based, di mana suatu negara memusatkan diri pada produksi barang-barang konsumtif dengan tetap mengimpor barang-barang kapital seperti mesin-mesin dan berbagai perlengkapan pabrik dan perkantoran. Kedua, yang berorientasi pada kapital atau capital based yang memusatkan pada produksi barang-barang kapital maupun bahan baku industri seperti mesin-mesin, peralatan industri, logam, semen, petrokimia, dan lain-lain. Mestinya, pemerintah menerapkan dua orientasi ISI di atas sekaligus terhadap program pembangunan infrastruktur.
Pemerintah dalam hal ini Kementerian perindustrian selama ini menekankan program restrukturisasi mesin untuk menstimulasi penggunaan peralatan yang lebih modern, hemat, dan ramah lingkungan sehingga dapat meningkatkan daya saing.
Masalah rantai pasok bahan baku sangat penting untuk segera diselesaikan. Berdasarkan data dari Kementerian Perdagangan, impor kapas setiap tahun mencapai 2,26 miliar dolar AS. Bahan baku untuk fashion yang dipakai di Indonesia saat ini hanya polyester dan rayon. Tingginya angka impor bahan baku diatas menyulitkan Indonesia menjadi trendsetter dunia dalam pengembangan industri TPT atau fashion.
Menurut Asosiasi Produsen Synthetic Fiber Indonesia (APSyFI) permintaan bahan baku serat dan filamen terus melemah. Sektor pembuatan benang untuk produksi kain, saat ini utilisasinya rata-rata hanya sekitar 50 persen. Bahan-bahan kimia telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam bidang industri tekstil.

Saatnya industri TPT transformasi menuju arah baru yang ramah lingkungan terkait dengan solusi bahan baku yang berbasis sumber daya alam (SDA) lokal. Antara lain pengembangan benang sutera produk dalam negeri. Saatnya mengembangkan program untuk menggenjot produksi benang sutera. Untuk itu perlu sinergi dengan sektor kehutanan dan perkebunan yang telah berhasil mengembangkan dua spesies ulat sutera yang lebih produktif.
Sinergi itu bisa menjadi transformasi bagi pelaku industri domestik untuk dapat menggenjot produksi benang sutera yang menjadi salah satu bahan baku bagi industri tekstil dan produk tekstil.Selama ini kebutuhan benang sutera di dalam negeri sangat tinggi. Sementara pasokan dari produksi dalam negeri tidak mencukupi. Akibatnya untuk memenuhi permintaan industri yang tinggi pemerintah harus membuka kran impor benang sutera terutama dari Tiongkok.
Jika program ulat sutera diatas dijalankan secara sungguh-sungguh dengan memberikan insentif bagi peternak ulat sutera maka Indonesia tidak impor benang sutera lagi. Hingga kini tidak hanya benang sutera saja yang diimpor, namun kebutuhan bahan baku industri TPT seperti kapas, wol dan bahan baku lainnya juga masih tergantung impor. (*)