Tanggal berdirinya Oudheidkundige Dienst (Dinas Purbakala) pada 14 Juni 1913 diperingati sebagai Hari Purbakala. Artinya, kita telah terlewat satu hari untuk merayakan Hari Purbakala ke-113 tahun. Katanya sih, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, ya kan? Sebagai seorang yang menepuk dada dan mengaku purbakalawan atau yang dikenal juga sebagai arkeolog, peringatan ini terasa relevan untuk meninjau kembali sejauh mana sebuah kota dapat dibaca melalui kacamata ilmu purbakala atau arkeologi ini.
Hampir 30 tahun tinggal di Bandung dan empat tahun di antaranya dihabiskan untuk bekerja mengurusi kebudayaan di pemerintahan kota, saya masih bisa merasakan adanya stigma lama dalam memandang arkeologi. Seolah ada garis yang menentukan bahwa arkeologi hanya terpaku pada candi-candi megah di pedalaman atau situs hunian prasejarah di gua-gua terpencil. Di ranah publik pun, pemahaman kita sering kali masih terjebak pada stereotip budaya populer: apakah arkeologi itu seputar dinosaurus, fosil, atau sekadar petualang bertopi koboi dengan pecut ala Indiana Jones? Asumsi-asumsi ini keliru dan mencerminkan bahwa jarak pengetahuan masih begitu lebar.
Kenyataannya, Bandung dengan segala dinamika urban dan lanskap sejarahnya sebenarnya telah lama menjadi lokus bagi kajian arkeologi perkotaan, industri, publik, hingga lanskap. Dan itulah pokok bahasan tulisan ini.
Latar belakang saya yang berkuliah di Arkeologi UI membuat akses pada karya ilmiah dari para mahasiswanya lebih mudah saya himpun. Oleh karenanya dalam tulisan ini saya memfokuskan diri untuk menguraikan berbagai karya mahasiswa Arkeologi UI yang berlokus di Kota Bandung. Berdasarkan penelusuran yang saya lakukan dari basis data tersebut, setidaknya terdapat 23 karya dari tingkat S-1 maupun pascasarjana yang menjadikan wilayah Bandung Raya sebagai lokus penelitian mereka. Namun, agar sesuai dengan wilayah kerja kantor saya, beberapa hasil penelitian tersebut tidak dibahas lebih dalam karena lokus geografisnya berada di luar wilayah administratif Kota Bandung.
Karya-karya tersebut meliputi tesis Lutfi Yondri (2005) berjudul “Kubur Prasejarah Temuan Dari Gua Pawon Desa Gunung Masigit, Kabupaten Bandung Provinsi Jawa Barat”, skripsi Anton Ferdianto (2009) berjudul “Artefak Obsidian Dari Gua Pawon, Kabupaten Bandung, Jawa Barat”, skripsi Amdi Ariefianto (2013) berjudul “Perkebunan Teh Malabar, Pangalengan, Bandung Tahun 1890-1942, Sebagai Kajian Arkeologi Industri”, serta skripsi saya sendiri, Garbi Cipta Perdana (2019), berjudul “Rekonstruksi Lanskap Kabuyutan Bandung Utara”. Sementara itu, 19 sisa karya lainnya menunjukkan keragaman tema yang membuktikan bahwa tinggalan masa lalu di Kota Bandung dapat dilihat dengan berbagai sudut pandang arkeologis.
Keragaman tema tersebut masuk dalam subdisiplin arkeologi perkotaan (urban archaeology) yang memandang kota sebagai palimpses—sebuah ruang hidup yang terus-menerus ditulis ulang di atas jejak fisik masa lalunya. Kajian arkeologi perkotaan berupaya mengupas lapisan demi lapisan materialitas tersebut. Di Kota Bandung sendiri, studi mengenai arsitektur kolonial menjadi salah satu tema yang mendominasi deretan karya yang berhasil dihimpun.
Firman Ahadi (2005) melalui skripsinya yang berjudul “Bangunan-Bangunan Pendidikan Di Kota Bandung Periode 1906-1942: Kajian Arkeologi Perkotaan” memetakan materialisasi politik etis dalam wujud ruang-ruang kelas secara mikro hingga hubungannya dengan wilayah permukiman secara semi-mikro. Ruang institusional bersejarah ditelaah lebih dalam oleh Ratna Yuli Wulandari (1991) lewat skripsi berjudul “Gedung Merdeka Bandung: Sebuah Telaah Sejarah Dan Arsitektural 1991”. Penelitian kni melacak sejarah gedung sejak masa Societeit Concordia sekaligus membuktikannya sebagai salah satu basis eksperimen gaya seni bangunan Indo-Eropa yang dirancang oleh Wolff Schoemaker pada era Parijs Van Java.
Aspek spasial dan morfologi bangunan juga mendapat perhatian dalam beberapa studi. Maharani Qadarsih (2009) menulis skripsi berjudul “Bangunan-Bangunan Sudut Di Bandung: Tinjauan Keletakan Dan Bentuk” yang secara kuantitatif mengelompokkan lima puluh bangunan sudut berdasarkan bentuk dan keletakannya di persimpangan jalan kota. Sementara itu, Dian Melur (2002) melakukan studi komparatif arsitektur melalui skripsi berjudul “Gedung Javansche Bank Batavia Dan Bandung Suatu Perbandingan Bentuk” yang melihat bagaimana perbedaan desain dilakukan pada wilayah berbeda.

Skripsi Albertus Napitupulu (2009) berjudul “Bentuk Dan Gaya GPIB Bethel Di Bandung” menyimpulkan bangunan sakral tersebut sebagai perpaduan gaya Eropa dan Nusantara yang dikenal sebagai arsitektur Indis. Pada objek rumah ibadah lain, Tommy Pratomo (2009) dengan skripsi berjudul “Gereja Tujuh Kedukaan Bunda Maria (Gereja Pandu) Bandung, Gaya Bangunan” secara spesifik mengidentifikasi penerapan gaya Neo-Gothic Eropa pada bangunan tersebut. Kajian menara ini diperluas dalam konteks regional oleh Febrika Widharini Widyaka (2015) melalui skripsi berjudul “Menara Gereja Protestan Tahun 1901-1942 Di Jakarta, Bandung, Semarang, Dan Surabaya” yang membandingkan menara berkarakteristik Indis dan Art Deco dari segi dimensi, ornamen, hingga keberadaan jam atau lonceng.
Arkeologi juga tidak hanya berbicara tentang monumen atau gedung besar milik negara, tetapi juga menyentuh ruang domestik, hiburan, dan transportasi masyarakat urban. Perkembangan ruang permukiman komersial dibahas oleh Melati Cahya Pratiwi (2020) dalam skripsi berjudul “Perkembangan Pemukiman Kolonial Kawasan Jalan Braga Bandung (1894-1938)” yang memetakan pengaruh letak strategis kawasan di antara stasiun dan Jalan Raya Pos terhadap persebaran bangunan pertokoan hingga pabrik.
Lebih spesifik pada tipologi hunian privat, Nabila Khoirunnisa (2018) menyusun skripsi berjudul “Rumah Tinggal Masa Kolonial Awal Abad 20 Di Jalan Cipaganti, Bandung” untuk melihat bagaimana hunian kaum elit Eropa di sana menyerap pengaruh arsitektur tradisional Jawa Barat. Studi ini hampir sejenis dengan skripsi Ovi Ratna Dyah Kustanti (2016) yang membahas “Rumah Tinggal Masa Kolonial Belanda Di Cihapit Bandung Pada Awal Abad 20 Masehi” yang mengupas karakteristik bentuk bangunan tersendiri pada kawasan hunian masa itu. Ruang hiburan massal dan budaya populer pun ikut dipetakan oleh Khaesyar Nisfhan Akbar Rosadi (2020) lewat skripsi berjudul “Gaya Fasad-Fasad Bangunan Bioskop Di Jakarta Dan Bandung Abad Ke-20” yang melacak dinamika perubahan bentuk penampang jendela, ventilasi, dan ornamen bioskop berdasarkan faktor ruang dan periodisasi pendiriannya.
Tema mobilitas urban coba dipetakan melalui kajian arkeologi transportasi dan industri menggunakan sudut pandang yang lebih humanis. Muhammad Sayyid Nashrullah Rasmadi (2020) melalui skripsi berjudul “Halte-Halte Kereta Api Trem Di Kota Bandung Masa Kolonial: Kajian Arkeologi Lanskap” melangkah melampaui urusan fisik rel dengan membedah bagaimana masyarakat memaknai efisiensi waktu tempuh dan kestrategisan fasilitas transportasi tersebut dalam ruang kognitif mereka.
Ada juga Diannisa Nur Rahma (2021) melalui skripsi berjudul “Bentuk-Bentuk Bangunan Kantor Pusat Staatsspoor En Tramwegen Di Bandung: Perspektif Kebudayaan Dan Lingkungan” yang melakukan analisis komparatif dengan kantor di Utrecht untuk membantikan adanya sebelas karakteristik adaptasi arsitektur tropis guna menyiasati perbedaan iklim nusantara yang menurunkan kenyamanan gaya bangunan Eropa asli.

Tinggalan berupa objek komunikasi dan informasi pun dianalisis dalam dua pendekatan yang berbeda. Dyorisky Otto Kusumo (2017) melalui skripsi berjudul “Kantor Pos Besar Bandung, Tahun 1931-1959: Kajian Arkeologi Industri” melihat peningkatan kapasitas layanan pos di Alun-alun sebagai bukti dinamika kebutuhan komunikasi sekaligus pembentuk tatanan kelas sosial baru di masyarakat berdasarkan jabatan kerja.
Di sisi lain, Zamzam Zamakhsyary Ar Razby (2015) menggeser fokus ke ranah New Museology lewat tesisnya yang berjudul “Membangun Memori Kolektif Di Museum Pos Indonesia Bandung”. Penelitian ini menawarkan rekonstruksi pameran di sayap kompleks Gedung Sate dari yang semula pasif-tradisional menjadi pendekatan konstruktivis-partisipatori yang kaya alur cerita demi merangsang memori kolektif pengunjung tentang sejarah perposan.
Masih dalam lingkup museologi dan analisis koleksi, Aditya Natifa (2009) mengkaji aspek representasi keilmuan melalui skripsi berjudul “Museum Geologi Bandung: Suatu Tinjauan Terhadap Tata Pamer Museum Di Ruang Pamer Sejarah Life” untuk merumuskan model tata pamer yang lebih komunikatif dan apresiatif bagi publik. Sedangkan analisis langsung terhadap artefak koleksi museum dilakukan oleh R. Syarifah Alwiah (2000) lewat skripsi berjudul “Analisis Pedang Masa Kolonial Koleksi Museum Sejarah Dan Museum Negeri Sri Baduga, Bandung” yang mengklasifikasikan atribut fisik bilah dan gagang pedang guna menyusun kronologi serta memetakan lima fungsi penggunaan pedang, mulai dari senjata perang hingga pelengkap busana pria.
Selain itu, ada juga karya yang membahas objek tinggalan dari hunian tertua di wilayah utara kota. Adalah Iis Sumiati (2004) dalam skripsi berjudul “Artefak Obsidian Dari Situs Dago, Bandung, Jawa Barat” yang telah berhasil menyusun tipologi dasar dari 2.285 sampel batu obsidian ke dalam kelompok bahan baku, alat pakai seperti serut dan gurdi, hingga sisa limbah batu inti.

Tidak kalah penting dari itu semua, penataan tata kota secara makro dikaji secara apik oleh Hana Kamila Fauziyah (2021) dalam skripsi berjudul “Pola Persebaran Bangunan Perkantoran Di Bandung Tahun 1810-1940”. Penelitian ini menyingkap fakta unik di balik dominasi mutlak pembangunan gedung perkantoran di wilayah utara Jalan Raya Pos yang mencapai 85,71 persen. Lewat pendekatan geologis, ia membuktikan bahwa struktur tata ruang birokrasi ini dipengaruhi oleh kondisi tanah utara yang jauh lebih kering dan padat, berbeda dengan wilayah selatan Bandung yang cenderung berlumpur karena merupakan jejak endapan dari Danau Bandung Purba.
Keragaman tema dari deretan karya yang disebutkan di atas memberikan simpulan penting bahwa arkeologi memiliki perangkat metodologi yang luwes untuk membedah materialitas masa lalu, baik yang berusia ribuan tahun maupun yang berasal dari abad ke-20. Melalui deretan karya ini, kita ditunjukkan bahwa setiap elemen—mulai dari pecahan batu obsidian prasejarah di Dago, sudut bangunan kolonial, fasad bioskop, persepsi pengguna halte trem, hingga batasan geologis Danau Purba yang mendikte letak kantor pemerintah—adalah data material yang menyimpan narasi berharga untuk dipelajari, dan mungkin, dapat diteladani. (*)