Di Lembang terdapat sebuah bukit yang berada di selatan observatorium Bosscha, yang dahulunya hanya merupakan bukit biasa yang ditumbuhi ilalang. Setelah bapak Oto Iskandar Dinata wafat, dipilihlah bukit ini sebagai makam monumentalnya, karena jasad bapak Oto Iskandar Dinata tidak diketemukan. Yang dikuburkan di sana hanyalah pasir dari Pantai Mauk, Tangerang. Dan kawasan bukit ini pun dipakai sebagai pemakaman untuk batalion TKR Bandung Utara, yang di dalamnya terdapat putra sulung dari pak Oto Iskandar Dinata, yaitu Sentot Iskandar Dinata.
Selain Sentot Iskandar Dinata dimakamkan pula para TKR Bandung Utara lainnya yang wafat dalam pertempuran heroik di Utara Bandung dalam masa bersiap melawan Sekutu. Yang paling terkenal adalah makam dari Kapten Abdul Hamid, Sersan Badjuri, Sersan Sodik dan Sersan Surip. Kesemuanya itu meninggal dalam pertempuran yang cukup sengit di kawasan villa Isola (sekarang gedung rektorat Universitas Pendidikan Indonesia).
Para pahlawan tersebut wafat dan diabadikan menjadi nama-nama jalan di kawasan utara Bandung, karena jasad mereka diketemukan di sana. Dimana diketemukan jasad Kapten Abdul Hamid, disanalah sekarang menjadi jalan Kapten Abdul Hamid, dimana diketemukan jasad Sersan Badjuri disanalah sekarang menjadi nama jalan Sersan Badjuri, dan begitu pun yang lain.
Apabila kita sering berkendara melalui gerbang Universitas Pendidikan Indonesia yang terdapat patung prajurit, cobalah menepi dan melihat lebih dekat ke arah patung tersebut, karena di bagian samping terdapat 60 nama korban dalam pertempuran sengit tersebut. Ke-60 korban pun dimakamkan di Pasir Pahlawan dalam satu liang lahat (karena keadaan jenazah yang sudah tidak sempurna dan chaos yang terjadi saat itu tidak memungkinkan untuk dimakamkan satu per satu).
Itulah mengapa sebuah bukit sepi yang hanya ditumbuhi ilalang kini berganti nama menjadi Pasir Pahlawan. Sebuah bukit yang menyimpan kisah masa lalu yang kelam, sebuah tempat yang sering terlewatkan, padahal kita sering melewatinya.
Berjalan terus ke arah utara kita akan menemukan kawasan pertapaan Karmel. Pertapaan Karmel adalah sebuah destinasi Ziarah Katolik yang tenang dan asri di selatan Lembang. Kawasan ini dikelola oleh suster ordo Karmel (OCD), itulah mengapa kawasan ini dinamakan Karmel.

Dahulu kawasan ini adalah bagian dari peternakan dan perkebunan Baroe Adjak. Sebuah peternakan terbesar se-Asia Tenggara yang pada tahun 1933 memiliki hampir 6000 ekor sapi berkualitas. Kawasan Baroe Adjak bukan hanya berbisnis peternakan, mereka juga terkenal dengan kualitas sayurannya yang baik, salah satunya adalah kol dan kentang.
Kentang sebetulnya bukan tanaman khas dari nusantara. Tanaman ini didatangkan ke Lembang oleh beberapa orang Boer. Kentang berasal dari dataran tinggi pegunungan Andes di Amerika Selatan, yang secara spesifik meliputi wilayah Peru dan Bolivia. Tanaman ini telah dibudidayakan selama ratusan tahun lalu dibawa ke Eropa. Bangsa Boer yang terkenal piawai dalam bertani memperoleh bibit kentang dari pemerintah kolonial Belanda yang didatangkan dari Belanda.
Perkebunan Baroe Adjak memiliki ladang luas di kawasan kaki gunung Tangkuban Parahu dan terkenal dengan nama Monoko. Hingga sekarang kawasan Monoko adalah kawasan sentra sayuran. Dan gudang-gudang kentang terdapat di sebuah kawasan yang nantinya menjadi kawasan pertapaan Karmel.

Pada tahun 1939, sekelompok suster Karmel OCD dari biara induk Nijmegen H. Landstiching berangkat dari Nijmegen pada tanggal 14 November 1939 dengan menumpang kapal barang. Mereka semua tiba di Batavia pada 31 Desember 1939 dan langsung menuju keuskupan Bandung.
Di Lembang mereka menempati bekas gudang susu dan kentang milik Baroe Adjak. Mereka menempati 3 ruangan, satu digunakan untuk kapel, satu digunakan untuk kamar dan satu lagi digunakan untuk kamar bicara.
Akhirnya kawasan bekas gudang-gudang tersebut dihibahkan oleh Giuseppe Ursone yang saat itu menjadi pengurus Baroe Adjak, karena sang kakak Pietro Antonio Ursone telah berpulang pada 1935. Pada akhirnya tahun 1940 berdirilah sebuah kawasan religi Karmel yang masih berdiri hingga sekarang. Bahkan di dalam kawasan Karmel kita akan menemukan galeri yang mencakup sejarah biara dari mulai berdiri hingga sekarang.

Terus berjalan ke utara, kita biasanya akan menemukan keramaian wisata kekinian di Cikole. Namun ada sebuah kampung yang cukup unik di kawasan desa Cikole. Namanya adalah Kampung Lapang. Sebuah perkampungan padat akan pendatang luar Lembang, padahal dulu di sana hanyalah kebun-kebun yang disulap oleh militer kolonial menjadi landasan terbang pada Perang Dunia I.
Sempat menjadi lapangan terbang terbengkalai karena landasan pacu yang tidak sempurna, namun pada masa Perang Dunia II, landasan tersebut dipakai oleh tentara Jepang. Masih terpatri di ingatan para belasan narasumber yang saya temui di sekitar kampung tersebut. Mereka saat itu masih kanak-kanak, dan mereka dapat mengingat dengan jelas banyak mobil-mobil militer Jepang yang terparkir rapi di sana. Sesekali terdapat pesawat tempur yang terbang dari kawasan Kalijati, Subang.
Toponimi terakhir yang saya dapatkan selama masa riset 2009 hingga 2022 adalah kawasan Cisarua. Siapa yang tidak tahu akan kawasan air terjun Pelangi atau warga lama menyebutnya dengan Curug Cimahi. Warga lama menandai kawasan curug ini dengan sebutan Cisarua, yang artinya jarak dari kawasan ini ke alun-alun Cimahi dan ke alun-alun Lembang itu sama atau dalam bahasa Sunda disebut sarua hingga terjadilah toponimi Cisarua. Walau apabila dihitung dengan skala modern sekarang, mungkin akan terjadi selisih kilometer, namun itulah ciri khas perhitungan warga tempo dulu. (*)