Ayo Netizen

Merawat Jejak Maung Bandung Melalui Koleksi dr. Dimas Kurnia Hidayat

Oleh: Kin Sanubary
Dimas Kurnia Hidayat, kolektor memorabilia Persib Bandung. (Sumber: Istimewa)

Euforia juara Persib Bandung di Liga Super Indonesia 2026 belum sepenuhnya reda. Lautan Bobotoh masih larut dalam kebanggaan setelah Maung Bandung kembali mengangkat trofi dan menambah panjang daftar prestasi klub kebanggaan Jawa Barat itu. Namun di balik gegap gempita perayaan, terdapat mereka yang memilih mengabadikan momen tersebut sebagai bagian dari perjalanan sejarah. Salah satunya adalah dr. Dimas Kurnia Hidayat, seorang Bobotoh yang selama bertahun-tahun tekun mengumpulkan dan merawat jejak-jejak perjalanan Persib melalui ratusan koleksi bersejarah.

Lahir di Bandung pada 22 Desember 1995, Dimas menjalani profesinya sebagai dokter di salah satu rumah sakit swasta di Purwakarta. Di tengah padatnya aktivitas sebagai tenaga medis, ia juga mengemban peran sebagai kepala keluarga. Bersama istrinya, dr. Aulia Rachmawati Ilham, Dimas membina rumah tangga yang harmonis dan telah dianugerahi seorang putra bernama Omara Abdullah Ali Kusumadinata.

Perjalanan Dimas sebagai Bobotoh bermula ketika ia masih duduk di bangku kelas lima sekolah dasar. Saat itu sekolahnya berada tidak jauh dari Stadion Siliwangi, markas Persib pada masanya. Suatu hari, ketika Persib bertanding pada hari kerja, ia menyaksikan pemandangan yang membekas kuat dalam ingatannya.

Area sekitar stadion dipenuhi sepeda motor yang terparkir rapat. Ribuan orang datang berbondong-bondong untuk mendukung tim kebanggaannya. Fanatisme dan loyalitas para Bobotoh yang ia lihat saat itu menumbuhkan rasa penasaran sekaligus kekaguman.

“Dari situ saya mulai tertarik dengan Persib. Saya melihat bagaimana besarnya kecintaan orang-orang kepada klub ini,” kenangnya.

Rasa ingin tahu itu membawanya membeli sebuah foto skuad Persib yang dijual di lapak pinggir jalan dekat stadion. Foto sederhana tersebut menjadi koleksi pertamanya. Dari sana, ia mulai mengenal sejarah Persib lebih dalam, termasuk sosok legendaris Mang Ayi Beutik yang namanya begitu lekat dengan perjalanan klub. Sejak saat itulah kecintaan kepada Persib tumbuh dan perlahan membentuk identitas dirinya sebagai seorang Bobotoh.

Awalnya, Dimas hanya mengoleksi jersey nonori sebagai bentuk dukungan kepada Maung Bandung. Namun seiring waktu, kegemaran itu berkembang menjadi aktivitas yang lebih serius. Pada 2019, saat menjalani pendidikan profesi dokter, ia mulai fokus mengumpulkan jersey original serta berbagai memorabilia Persib lainnya.

Baginya, mengoleksi bukan sekadar mengumpulkan barang.

“Saya ingin menjaga sejarah, menjadi sarana edukasi, sekaligus bentuk dukungan lain kepada Persib Bandung,” ujarnya.

Kini, koleksi Persib yang dimilikinya mencapai sekitar 500 item. Di antaranya terdapat 64 jersey kandang, 31 buku, serta 362 media cetak berupa koran, majalah, dan tabloid. Sisanya terdiri atas berbagai memorabilia seperti tiket pertandingan, kaset, flyer laga, kartu pemain, hingga benda-benda bersejarah lainnya yang berkaitan dengan perjalanan Persib.

Di antara seluruh koleksi tersebut, foto skuad Persib yang dibelinya saat masih duduk di bangku sekolah dasar tetap menjadi benda paling berkesan. Nilai materinya mungkin tidak seberapa, tetapi foto itu menjadi penanda awal perjalanan panjangnya sebagai Bobotoh.

Sementara itu, koleksi yang dianggap paling langka adalah berbagai arsip Persib saat meraih gelar juara, mulai dari era 1937, 1961, 1986, 1990, 1994, 1995, 2014, 2024, 2025, hingga 2026. Arsip-arsip tersebut menjadi saksi perjalanan panjang klub yang telah menghadirkan kebanggaan bagi jutaan pendukungnya.

Untuk mendapatkannya, Dimas tak segan berburu ke berbagai tempat. Ia memanfaatkan media sosial, platform e-commerce, hingga menjalin jejaring dengan sesama kolektor dari berbagai daerah. Melalui komunitas itulah banyak koleksi berharga berhasil ia temukan dan selamatkan.

Dimas bersama rekan-rekan sesama kolektor dari komunitas Jersey Persib Collector, tahun 2019. (Sumber: Istimewa)

Namun dunia koleksi Dimas ternyata tidak berhenti pada Persib. Di balik identitasnya sebagai kolektor memorabilia Maung Bandung, ia juga menggeluti berbagai bidang koleksi lain yang sama-sama berakar pada kecintaannya terhadap sejarah.

Saat ini, ia menaruh perhatian pada tujuh bidang koleksi, yakni Persib Bandung, cap dan prangko Indonesia, numismatik dunia beserta First Day Cover, memorabilia ambulans dan penyelamatan, koran, buku-buku referensi koleksi, serta berbagai benda yang berkaitan dengan Kota Bandung.

Ketertarikannya terhadap prangko dan numismatik lahir dari keyakinan bahwa benda-benda kecil tersebut menyimpan cerita besar. Prangko merekam perjalanan bangsa melalui tokoh, budaya, dan berbagai peristiwa penting. Sementara koin, uang kertas, dan First Day Cover menjadi penanda perkembangan ekonomi, politik, serta identitas suatu negara pada zamannya.

Sebagai seorang dokter, Dimas juga memiliki ketertarikan khusus pada dunia ambulans dan penyelamatan. Berbagai miniatur, dokumentasi, dan memorabilia yang berkaitan dengan layanan darurat ia kumpulkan karena dianggap mewakili nilai kemanusiaan dan pengabdian dalam menyelamatkan nyawa.

Perhatian yang sama ia berikan kepada koran-koran lama. Di tengah derasnya arus informasi digital, Dimas melihat media cetak sebagai arsip sejarah yang sangat berharga. Setiap lembar koran menyimpan potret kehidupan masyarakat pada masanya, mulai dari peristiwa politik, olahraga, budaya, hingga dinamika sosial sehari-hari.

Kegemarannya mengoleksi juga didukung oleh kebiasaan berburu buku referensi. Ia mengumpulkan berbagai katalog dan literatur mengenai filateli, numismatik, maupun dunia koleksi lainnya. Baginya, seorang kolektor tidak cukup hanya memiliki benda koleksi, tetapi juga harus memahami cerita dan konteks sejarah yang melatarbelakanginya.

Dari berbagai bidang yang digelutinya, Bandung memiliki tempat yang sangat istimewa. Kota tempat tumbuhnya kecintaan terhadap Persib itu hadir dalam banyak koleksinya, mulai dari foto lama, dokumen, media cetak, hingga berbagai memorabilia yang merekam perjalanan kota dari masa ke masa.

Jika dicermati, seluruh koleksi yang dimiliki Dimas memiliki benang merah yang sama: menjaga sejarah dan merawat identitas. Persib merekam sejarah olahraga dan loyalitas Bobotoh. Prangko dan numismatik menyimpan perjalanan bangsa-bangsa. Ambulans mencerminkan nilai kemanusiaan. Koran menjadi saksi peristiwa zaman. Buku referensi menjaga pengetahuan. Sementara Bandung menjadi ruang tempat berbagai kenangan itu bertemu.

Dimas seolah sedang membangun museum pribadi yang berisi potongan-

potongan cerita dari berbagai era. Bukan untuk disimpan sendiri, melainkan agar sejarah tetap hidup, dapat dipelajari, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Melalui ratusan koleksi yang dirawatnya, Dimas tidak hanya menyimpan kenangan, tetapi juga menjaga agar sejarah Persib, Bandung, dan berbagai cerita masa lalu tetap dapat dikenang oleh generasi berikutnya. (*)

Reporter Kin Sanubary
Editor Aris Abdulsalam